Monsters : Terkoneksi Diantara Serbuan Monster

Film Indonesia belakangan diserbu dengan film berbiaya murah. Genre horor dan komedi dewasa yang menjajal mekanisme produksi dengan formula itu. Sayangnya memang film murah disini hampir selalu sinonim dengan “film asal jadi”. Tak peduli bagaimana ceritanya, meski sama sekali tak masuk akal, yang penting murah. Hasilnya ya begitulah. Pada akhirnya pun penonton pasrah melihat jenis film seperti itu mendominasi bioskop.

Padahal sesungguhnya murah atau tidaknya film sangat tergantung konsep. Dan yang terpenting adalah adanya kesadaran penuh untuk tetap menghadirkan tontonan menarik. Disitulah kreatifitas diuji dan mampu memecah kebuntuan yang diakibatkan terbatasnya biaya. Soal yang satu ini harus kita acungkan jempol pada Gareth Edwards. Dengan biaya produksi dibawah 500 ribu dollar (dibawah 5 milyar rupiah – bandingkan dengan biaya produksi Sang Pemimpi yang konon 12 milyar), ia mampu membuat Monsters. Dari judulnya saja ketahuan bahwa Edwards harus memajang monster yang berkeliaran di sepanjang durasi filmnya. Maka di benak sudah terbayang seberapa besar biaya yang harus digelontorkan atas efek visual untuk film ini. Dan harus diakui pula bahwa Edwards punya nyali besar membesut film dengan mengandalkan monster.

Yang harus dipujikan dari Edwards (yang juga menulis sendiri skenarionya) adalah kecermatannya membungkus isu monster dengan keseharian masyarakat di Mexico yang menjadi latar cerita. Dan ia menumpukan harapan pada 2 aktor tak populer, Scott McNairy (sebagai Edward Kaulder) dan Whitney Able (yang memainkan peran Samantha Wynden). Dibalut perjalanan Edward dan Samantha menyusuri Mexico demi keluar dari negeri itu, Monsters pun memulai petualangannya. Menuju ke sebuah sudut pandang baru yang bisa jadi tak pernah dibayangkan pecandu film monster.

Alkisah, berbagai sudut di Mexico diserbu makhluk raksasa yang merusak kota di malam hari. Dan ternyata jumlahnya tak cuma satu, karena makhluk itu bertelur dan akhirnya menetas di berbagai wilayah yang disebut sebagai “infected zone”. Samantha atau Sam ada diantara penduduk yang panik ketika makhluk itu menyerang kota. Dan ia terluka. Maka Edward pun diutus oleh ayah Sam untuk mengeluarkan putri tercintanya itu demi kembali ke Amerika.

Pada awal kisah, kita mungkin menyangka bahwa Monsters akan jadi laiknya film monster lainnya. Dimana kita akan disuguhi pameran efek visual sepanjang film, dengan tata suara menggelegar, namun melupakan esensi terpenting dari sebuah film yang baik yaitu bangunan cerita yang utuh. Monsters memang punya monster, namun monster itu tak pernah tampak terlalu jelas dan tak hadir di sepanjang film. Tata suara pun meski tak menggelegar, namun tetap digarap dengan cermat. Monsters menjadi menarik ketika melihat Edwards mengambil gambar dengan daya eksplorasi penuh. Dan hasilnya kita melihat gambar demi gambar dengan tone muram dibingkai dengan sudut pengambilan yang kadang tak lazim.

Yang paling menarik dari Monsters (namun bisa jadi sekaligus paling membosankan bagi penonton film monster “mainstream”) adalah ketika Edwards memberi porsi yang sungguh berlebih pada perkembangan karakter dalam ceritanya. Edwards memberi Edward dan Sam untuk terkoneksi satu sama lain sepanjang film (dan menjadi meyakinkan berkat akting natural dari keduanya). Dan koneksi itu terasa ketika durasi terus bergulir karena Monsters memberi semacam keintiman bagi penonton untuk memahami keduanya. Edward yang awalnya menolak menjadi “baby sitter” bagi Sam perlahan menemukan kecocokan. Sam pun yang awalnya melihat Edward hanya menjalankan kewajibannya pelan-pelan bisa mengerti pria itu.

Dengan biaya produksi sebesar 5 milyar, selain menyuguhkan monster, Monsters juga menyajikan pemandangan kota yang porak poranda diterjang makhluk luar angkasa itu. Tim artistik jelaslah bekerja luar biasa mewujudkannya dengan bujet seminim itu. Hasilnya memang Monsters mencengangkan, terutama jika mengetahui biaya yang dipunyainya (yang sungguh kecil jika dibandingkan dengan film Hollywood lainnya yang bisa berongkos hingga lebih dari 200 juta dollar). Tapi tanpa mengetahui biayanya sekalipun, Monsters juga menyajikan sebuah alternatif. Ada tawaran baru dari Edwards ketika berbicara seputar film monster. Bahwa kita boleh fokus pada efek visual, kita boleh memberi perhatian lebih pada tata suara menggelegar, namun yang terpenting dari semuanya adalah kita wajib memperhatikan pondasi utama dari sebuah film yaitu cerita yang baik.

MONSTERS

Director : Gareth Edwards
Cast : Scott McNairy, Whitney Able
Script Writer : Gareth Edwards

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: