The Haunting In Connecticut : Masih Tentang Rumah Berhantu

Penggemar genre horor termasuk jenis penonton yang menarik untuk dianalisa. Karena mereka membayar untuk ditakut-takuti. Bahkan tak kurang banyak diantara mereka yang ketika berada di dalam bioskop malah menutup mata dan telinganya rapat-rapat karena ketakutan. Dan seperti ketagihan, toh mereka tetap akan menyerbu bioskop ketika ada film horor yang diputar.

Sayangnya meski secara statistik penonton horor cukup banyak (dibuktikan dengan banyaknya genre film ini yang laris di pasaran), film ini termasuk genre yang jarang dieksplorasi. Kita sempat tergagap ketika M Night Shyamalan membawa horor menuju level baru dengan The Sixth Sense. Juga ketika Jelangkung membuat histeria di bioskop ibukota. Namun kini sudah jarang terdengar film horor yang bisa dibicarakan.

Jika mencari kejutan, The Haunting In Connecticut punya banyak. Jika mencari sosok hantu mengerikan, The Haunting In Connecticut memperlihatkan di begitu banyak adegan. Bagi penonton awam, alasan itu mungkin cukup untuk menikmati horor. Namun bagi mereka yang cukup banyak mengkonsumsi horor, maka film ini bisa jadi membuat imun. Karena didalamnya hanya pengulangan demi pengulangan saja.

Sesuai judulnya, The Haunting In Connecticut ingin bercerita seputar rumah berhantu. Adalah Sara (Virginia Madsen) akhirnya memutuskan untuk membeli rumah di daerah Connecticut agar bisa dekat dengan rumah sakit tempat sang anak dirawat. Matt (Kyle Gallner) didiagnosa menderita kanker dan harus dirawat intensif. Rumah yang dibeli secara terburu-buru oleh Sara tanpa persetujuan suaminya, Peter (Martin Donovan) itu rupanya membawa masalah baru. Sebuah masalah pelik yang malah membuat sang anak harus face-to-face dengan KEMATIAN.

Kelemahan terbesar The Haunting In Connecticut adalah pada skenario. Film yang mendasarkan diri pada kisah nyata ini malah terkesan tak meyakinkan. Bagaimana tidak, sejak hari pertama mereka tinggal di rumah berhantu itu, mereka sudah diganggu. Namun mereka tetap bertahan. Keluarga lain mungkin akan lari tunggang-langgang di tengah problem yang melingkupi. Dan film ini juga terlalu mengejutkan. Kita terkejut dengan kemunculan tiba-tiba begitu banyak ‘penampakan’, bukan karena digiring oleh atmosfer cerita untuk merasakan ketakutan. Muncul mengagetkan dengan musik yang menggedor jantung semata. Sama dengan rumus yang banyak dianut oleh produser kita bahwa semakin sering hantunya muncul, semakin senanglah penonton. Dapat teori darimana ini?

Untungnya memang The Haunting In Connecticut meyakinkan dari segi akting. Virginia Madsen bermain baik sebagai ibu yang ketakutan akan kehilangan sang anak setiap hari. Dan bintang muda Kyle Gallner pun betul-betul tampak seperti seorang penderita kanker. Satu hal yang menarik dari film ini adalah adanya sosok pendeta yang tak digambarkan seperti di film horor lainnya yang selalu begitu yakin bisa mengusir roh jahat. Disini, sosok pendeta kebetulan juga seorang penderita kanker sehingga ada kedekatan emosi antara dia dengan Matt yang menjadi target dari para roh yang melayang-layang di dalam rumah itu. Dan si pendeta pun tak pernah terlihat begitu yakin bisa mengusir roh itu kembali ke alamnya.

Jika film ini dengan gampang terlupakan, mungkin memang begitulah adanya. Namun The Haunting In Connecticut rasanya masih akan tetap mengagetkan pecandu horor. Coba buktikan sendiri.

THE HAUNTING IN CONNECTICUT

Director : Peter Cornwell
Cast : Virginia Madsen, Kyle Garnell, Martin Donovan
Script Writer : Adam Simon, Tim Metcalfe

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: