Ghost : Kematian Yang Sentimentil

Bermain-main dengan kematian adalah bermain-main dengan misteri. Mencoba menerka dengan segenap prasangka. Karena tak seorangpun yang pernah mati akan kembali dan bercerita kepada yang hidup tentang apa yang dilihatnya di alam sana.

Dunia arwah pun menjadi dunia yang remang-remang. Dan justru keremangan yang bermuara pada serba ketakjelasan inilah yang menarik untuk dikorek. Maka begitu banyak karya seni, utamanya film, yang mencoba mengangkat tema tentang kematian. Berbagai aroma pun mencuat daripadanya. Ada yang berbau sengit, yang memuncratkan rasa takut hingga yang membuat kita tersenyum.

Dan tentu saja selalu ada yang mencoba menyempil dari sebuah stereotipe. Ghost menjadi sedikit diantaranya. Idenya memang tak baru namun dengan membubuhi beberapa eleven yang pas, jadilah film yang dibesut Jerry Zucker ini sebagai drama komedi yang menarik.

Benarkah arwah melayang-layang diantara dua dunia ketika masih ada urusan yang belum terselesaikan? Dan bagaimana pula ia mencoba menyelesaikan problematikanya itu pada saat jiwanya telah berpisah dari raga?

Disinilah Ghost memulai kisahnya. Di sebuah malam yang tak sepenuhnya sunyi, Sam Wheat (Patrick Swayze) dan Molly Jensen (Demi Moore) tengah bercengkrama. Mereka baru saja menikmati sebuah pertunjukan. Malam tak sepenuhnya sunyi karena mengintip seseorang dengan niat jahat. Dengan cepat pergulatan pun terjadi. Sebuah tembakan terdengar nyaring. Dan Sam akhirnya harus berpisah dari raganya.

Padahal Sam baru saja hendak memulai hidup di tempat tinggal yang baru dengan kekasihnya, Molly. Sam seolah tak hendak berpisah dari Molly. Ia lantas sadar bahwa ia masih terperangkap di antara dua dunia. Rupanya ada sebuah urusan yang harus diselesaikannya. Penembakannya ternyata tak terjadi secara kebetulan. Maka Sam pun mencoba menelusuri. Namun ia tak punya daya untuk memperingatkan orang yang paling dikasihinya. Seorang paranormal bernama Oda Mae Brown (Whoopi Goldberg) lah yang menjadi perantaranya.

Di tangan Zucker yang membesut skenario buatan Bruce Joel Rubin, kematian menjadi terasa begitu sentimentil. Memang mati selalu berujung pada perasan kehilangan, namun Ghost mendorongnya ke titik maksimal. Untungnya ia tak lepas kontrol, sehingga kadarnya masih bisa diterima. Penonton mengerti mengapa Sam masih saja terus menghantui kekasihnya itu. Dan disaat yang bersamaan, penonton juga tergugah atas rasa kehilangan yang teramat dalam dari Molly.

Dan yang membuat Ghost juga tetap pada takaran yang tepat adalah karena ia diramu dengan kombinasi resep lainnya yaitu komedi. Disinilah peran Whoopi Goldberg. Moore yang bermain biasa saja berhasil ditutupi oleh kecemerlangan akting aktris yang meraih Oscar lewat film ini. Penonton dijamin terkekeh melihat tingkah Goldberg sebagai dukun palsu. Juga terkekeh ketika ia berdebat dengan Sam yang hanya bisa didengarnya namun tak bisa dilihatnya.

Dua sisi yang digarap sama cemerlangnya yaitu drama dan komedi membuat penonton bisa menerima Ghost dengan baik. Perasaan mereka berhasil dielus-elus ketika Molly yang masih selalu terkenang Sam, juga ketika Sam mencoba bersentuhan dengan Molly dengan menggunakan tubuh Oda Mae sebagai perantara. Sementara penonton tak bisa menahan tawa ketika melihat Oda Mae yang menyamar sebagai seseorang sesuai perintah Sam harus memberikan cek 4 juta dollar untuk amal.

Tentu saja Ghost tak sempurna. Ada beberapa logika cerita yang tak jalan, plot yang agak susah dipahami arahnya hingga imajinasi tentang baik dan buruk yang mungkin terasa subyektif. Begitupun, sebagai tontonan, Ghost berhasil. Dan ia tak berhenti hanya sebatas pada hiburan semata. Ghost juga, sedikit banyak, meningkatkan kepercayaan masyarakat bahwa benar adanya manusia bisa berkomunikasi dengan arwah yang tengah melayang-layang diantara dua dunia.

GHOST

Director : Jerry Zucker
Cast : Demi Moore, Patrick Swayze, Whoopi Goldberg
Script Writer : Bruce Joel Rubin

Iklan
Comments
One Response to “Ghost : Kematian Yang Sentimentil”
  1. omarrsidiq berkata:

    Film yang sangat memorable untuk saya pribadi. Ini mungkin salah satu film Rate Dewasa yang saya tonton jaman masih SD ( dan saya gak tahu kenapa anak SD bisa dilolosin untuk nonton film ini…hahhaha), mungkin karena faktor itulah film ini jadi sangat memorable buat saya. Tapi waktu itu yg saya tangkap dari film ini ya cuma orang pacaran, cowok nya meninggal, arwah gentayangan. that’s it !. Setelah beberapa tahun kemudian, setelah umur udah cukup mencerna..heheh. Saya baru tau, bahwa akting Whoopie Goldberg disini sangat memukau dan bener2 bikin sakit perut…dan sebenernya dia magnet dari film ini. Tapi bagaimanapun itu, film ini tetep jadi my most romantic movie, sekali lagi, karena ini film dewasa yang saya tonton di usia SD, dan masih melekat sampe sekarang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: