Far From Heaven : Kemunafikan Yang Tak Tertahankan (Lagi)

Kata sejumlah pakar komunikasi, kita hidup di dunia yang dikelilingi imaji. Dunia yang terkadang penuh dengan rekayasa, hanya untuk menutupi identitas yang mungkin serba tak sempurna. Lihatlah para selebritis yang selalu berusaha tampil glamour, tak peduli waktu dan tempat. Lingkungan tempat kita berada sekarang terkadang menuntut kita untuk bersikap munafik. Penuh dengan kepura – puraan, basa basi yang sebenarnya tak perlu sebagai kamuflase untuk menutupi hal sebenarnya yang mungkin serba busuk. Hampir mirip dengan keadaan yang terjadi di kota kecil Hatford, Connecticut, New England di tahun 1957.

Todd Haynes menulis skenario Far From Heaven dengan mengobrolkan hal – hal penting : pertautan antara kemunafikan hingga prasangka rasial. Hanya saja, Haynes tak mengemasnya menjadi film yang bombastis, self-importance hingga nyaris menggurui. Ia membawa kita merenungi makna hidup dari kacamata seorang wanita muda bernama Cathleen Whitaker (Julianne Moore, yang bermain mengesankan). Cathleen adalah sosok ibu sekaligus istri yang nyaris sempurna. Ia punya rumah bagus, furniture mewah, tinggal di lingkungan nyaman dengan pergaulan sosial menengah atas dan punya keluarga yang sepintas terlihat bahagia.

Sepintas ? Ya, hanya sepintas. Setelah Haynes yang juga bertindak sebagai sutradara membuat penonton mengagumi kehidupan Cathleen yang nyaris sempurna, kita dikejutkan oleh kenyataan bahwa suami Cathleen, Frank (Dennis Quaid) adalah seorang homoseksual. Begitupun, Cathleen berupaya sekuat tenaga menjaga keutuhan rumah tangga, hingga sampai pada satu titik dimana ia yakin bahwa dinding kemunafikan yang dibuatnya harus diterjangnya sendiri. Dinding yang sengaja digunakan demi melindungi keluarga, suami dan anak – anaknya. Maka Cathleen yang semula tampak sangat konservatif, berani “bermain api” dengan Raymond (Dennis Haysbert). Mungkin hal ini biasa terjadi di masa kini, namun sekejap mata bisa menjadi gosip tak mengenakkan ketika terjadi di tahun 50-an. Apalagi Raymond adalah seorang duda berkulit hitam.

Haynes yang merekonstruksi setting tahun 50-an yang amat mirip dengan aslinya, membuat penonton dengan mudah bisa merasakan adanya gesekan yang mungkin dianggap kecil, namun berarti. Gesekan yang sebenarnya tak hanya terjadi di masa lampau, bahkan hingga lebih dari 50 tahun kemudian. Prasangka rasial memang masih menjadi isu penting di Amerika, yang juga serba munafik dengan “kelemahannya” ini. Ketika dilihat dalam kerangka masa kini pun, hal – hal yang diobrolkan dalam Far From Heaven masih terasa relevan. Ini penting untuk mendekatkan film dengan audiens yang ditujunya. Dan Haynes tahu apa yang ia perbuat. Far From Heaven boleh amat pekat dengan setting tempo dulu, tapi persoalan yang diperbincangkannya adalah masalah yang tak lekang dimakan zaman. Amerika boleh mencap diri sebagai negara paling demokratis, tapi toh kenyataan di depan hidung tak seperti itu. Kejadian – kejadian yang disulut problema warna kulit masih terus terjadi. Sementara isu hipokrit telah menjadi darah daging bagi kaum urban yang menempati berbagai sudut kota – kota besar.

Begitupun, kemunafikan ketika disimpan rapat – rapat, dalam diam dan hening, toh akan terbuka juga. Ketika seseorang tak kuasa lagi untuk membohongi diri sendiri, maka kemunafikan akan runtuh. Dan apa boleh buat, ketika hal itu datang, dunia yang awalnya tampak serba indah, bisa jadi terlihat pecah tak berbentuk. Pilihannya ada pada kita : memilih untuk hidup dalam kemunafikan atau berterus terang dengan segala resikonya. Seperti Cathleen yang akhirnya memilih untuk jujur pada dirinya, juga Frank yang memutuskan menjadi homoseksual sejati. Sayangnya, ketika kemunafikan dilawan, kebenaran akan menghadang dan bukan tak mungkin akan membawa korban.

FAR FROM HEAVEN

Director : Todd Haynes
Cast : Dennis Quaid, Julianne Moore, Dennis Haysbert
Script Writer : Todd Haynes

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: