Disturbia : Bebas Tapi Terkungkung

Bebas tapi terkungkung. Bagaimana memaknai kalimat ini ? Coba tanyakan pada perempuan Vietnam bernama Duong Thu Huong. Lebih dari 10 tahun silam, ia pernah merasakan dinginnya tembok sel penjara. Tapi siapa sangka, ketika dirinya berada dalam kungkungan, is justru merakan pikirannya bebas mengembara. Lewat banyak tulisannya, ia selalu menggaungkan kebebasan yang tak dibatasi oleh ruang.

Coba tanyakan juga makna kalimat yang menjadi sub judul diatas pada Kale (Shia LaBeouf). Cowok belasan tahun ini merasakan tak enaknya berada dalam tahanan. Kale harus dikungkung di rumahnya sendiri setelah menonjok guru bahasa Spanyol-nya. Bedanya dengan Houng, setelah segala fasilitas di kamarnya dibekukan oleh ibunya, Kale tak mencoba mengusir rasa bosan dengan menulis. Ia malah sibuk “menjelajahi” kehidupan pribadi tetangganya dengan teropongnya. Melalui jendela kamarnya, Kale sibuk menyaksikan berbagai peristiwa yang lebih menarik dari tayangan infotainment di TV. Ada pria beristri yang berselingkuh dengan pembantunya, para bocah yang punya rutinitas menonton film porno di kamar hingga mengintip gadis seksi tetangganya, Ashley (Sarah Roemer).

Plot Disturbia memang meminjam plot Rear Window yang fenomenal itu. Dan disitulah tak enaknya meminjam “identitas” film yang terlampau high profile seperti karya klasik Alfred Hitchcock itu. Akan selalu dibandingkan satu sama lain dan akan selalu dicela karena tak akan mampu menandingi kejenialan film buatan tahun 1954 itu.

Dan memang sungguh tak adil membandingkan karya dua film yang beda “kelas” itu. Disturbia hanyalah sebuah film yang dibuat dengan tujuan menghibur penonton. Tak lebih. Begitupun awalnya Disturbia menjanjikan sebagai film yang diniatkan untuk mengejutkan orang. Hanya semakin ke belakang, karya DJ Caruso ini makin tak karuan. Padahal jika bisa fokus pada niat awal untuk membuat thriller yang baik, maka Disturbia cukup potensial untuk itu.

Cerita yang ditulis Christopher Landon dan Carl Ellsworth ini menjual tema : mengintip kehidupan tetangga, hingga ke ruang paling pribadi sekalipun. Hanya saja, siapa menyangka kegiatan yang dilakukan hanya dengan tujuan “membunuh sepi” ini berujung pada tragedi yang nyaris membuat hidup tokoh utamanya porak poranda.

Kisah yang kurang solid juga diperparah oleh kasting yang tak tepat. Shia LeBeouf entah bagaimana rasanya kurang cocok memainkan peran Kale. Ia bermain datar, tak se-enerjetik yang semestinya diharapkan dari karakter yang kompleks seperti Kale : menyaksikan sendiri sang ayah terbunuh di depan mata dan akhirnya dibesarkan ibunya sendirian. Cerita juga tak memberi ruang pada eksplorasi hubungan ibu – anak yang berakibat pada kurang gregetnya ending film.

Di lain pihak, ketika merangkai kisah asmara menggebu antara Kale dan Ashley, duo penulis juga tak memberikan rasa yang semestinya. Hasilnya penonton tak merasakan desiran darah muda kedua tokoh tersebut.

Yang paling mengganggu ketika cerita membawa pada ending yang terasa dipaksakan. Awalnya thriller malah berubah menjadi gore. Bukannya puas, rasanya penonton akan ngedumel menyaksikan kisah yang diawali dengan baik justru diakhiri dengan cara yang tidak proper.

Hanya Quentin Tarantino dan Robert Rodriguez yang bisa melakukan itu dengan mulus dalam From Dusk Till Dawn. DJ Caruso masih harus menambah jam terbang, apalagi untuk menyamai Hitchock …….

DISTURBIA

Director : DJ Caruso
Cast : Shia LaBeouf, Sarah Roemer, Carrie-Anne Moss
Script Writer : Christopher B Landon, Carl Ellsworth

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: