Dead Poets Society : Dan Ketika Puisi Membebaskan Diri

Manusia – manusia romantik memilih bunuh diri daripada melanjutkan hidup penuh kemalangan. Ketika mereka merasa kebebasan dicabut dari jiwanya, maka saat itulah mereka harus mengucapkan selamat tinggal pada hidup. Hidup yang perih, meski tak jarang manis. Dan Neil Perry berani mengambil langkah itu di usia yang teramat muda. Ketika ia sampai pada titik dimana ia tak lagi bisa mentolerir keinginan ayahnya, maka ia memilih jalan yang mungkin dianggap tindakan pengecut bagi sebagian orang : bunuh diri.

Tak seorang pun bisa menyalahkan tindakan Neil (Robert Sean Leonard, dengan penampilan mengagumkan). Tidak juga John Keating (Robin Williams), guru bahasa Inggris yang selalu mengajak murid – muridnya untuk berpikir bebas. Dalam Dead Poets Society, remaja pria digambarkan sedemikian menarik. Mereka tak hanya sekumpulan cowok yang di kepalanya hanya perempuan semata. Namun mereka juga punya hormon yang tengah mengalir deras. Sederas keinginan untuk menantang hidup. Maka ajakan Keating boleh jadi pemicu bagi mereka untuk lebih ekspresif. Bahkan Todd Anderson (Ethan Hawke) yang digambarkan sangat pendiam, juga akhirnya tak bisa menahan diri untuk tak mengikuti kata hatinya.

Cerita yang ditulis Tom Schulman ini memang luar biasa. Bisa menangkap zeigeist dari anak muda yang pada dasarnya memang seorang pemberontak. Ia menjadikan puisi sebagai medium bagi mereka untuk membebaskan diri. Menjadi diri sendiri dengan berpikiran merdeka. Maka bagi Schulman yang disuarakan lewat karakter Keating, puisi hakikinya bersifat multi tafsir. Pembacanya tak mesti sama menafsirkan dengan apa yang dirasakan si penulis.

Dan yang terpenting, anak – anak muda itu belajar tentang hidup. Di sebuah asrama dengan peraturan ketat, ternyata mereka dapat merasakan arti hidup sesungguhnya. Oleh Peter Weir sebagai sutradara, Dead Poets Society juga menjadi cermin bagi perlakuan orang tua terhadap anaknya. Memang selalu ada yang namanya gap generation. Bahwa yang tua nyaris selalu berseberangan dengan yang muda. Namun kenapa tak mencoba mengerti satu sama lain, bukannya yang tua selalu memaksakan kehendak agar diikuti oleh yang muda ?

Saya terkesima dengan keteguhan Schulman menggulirkan cerita ke sebuah ending yang tak bisa dibilang membuat penonton nyaman. Rasanya tak seorang pun yang akan merasa nyaman dengan peristiwa bunuh diri. Dan Dead Poets Society dengan “tega” memasukkan unsur itu. Syukurlah, karena efek yang diharapkannya tersampaikan dengan baik. Dan itulah inti dari film produksi tahun 1989 ini. Saya iri pada film ini, pada remaja – remaja di film ini yang begitu menggelegak. Karena saya nyaris tak menemukan gambaran remaja seperti itu di film tanah air kontemporer. Periode 2000 hingga sekarang, remaja kita digambarkan lebih senang bergelut dengan masalah cinta yang berlarut – larut atau malah mengurusi hantu yang tak jelas arah tujuannya. Padahal, saya yakin realitas dunia remaja kita tak kalah berwarna. Saya memimpikan ada lagi film seperti Catatan Akhir Sekolah (Hanung Bramantyo) yang bisa memotret sisi lain remaja masa kini dengan segala problematika yang melingkupinya.

Dead Poets Society adalah film yang timeless. Ia bisa ditonton setiap saat, seraya menjadi cermin bagi kita untuk menatap hidup. Ketika negeri kita terbebas dari Orde Baru yang serba menakutkan bagi seseorang untuk merdeka seutuhnya, lantas benarkah kita akan meraih kebebasan yang kita impikan sejak dulu ?

Carpe diem. Seize the day ……….

DEAD POETS SOCIETY

Director : Peter Weir
Cast : Robin Williams, Robert Sean Leonard, Ethan Hawke
Script Writer : Tom Schulman

Iklan
Comments
One Response to “Dead Poets Society : Dan Ketika Puisi Membebaskan Diri”
Trackbacks
Check out what others are saying...
  1. […] This post was mentioned on Twitter by Madama Makassar and others. Madama Makassar said: RT @resensifilm1111: Inilah bukti betapa puisi bisa membebaskan http://tinyurl.com/2g4t5mh cc @ardanradio @Iradiojakarta @KaskusFovies @ … […]



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: