Unstoppable : Demi Waktu Dan Kereta Yang Terus Melaju

Menonton (terlalu) banyak film sungguh mungkin menjadi benalu. Ketika penonton biasa menikmati sebuah film sepenuh hati, kita malah cenderung menatap layar tanpa ekspresi lantaran sudah pernah menyaksikan formula yang (hampir) sama di film lain atau malah pada karya sebelumnya dari sang sutradara. Apa boleh buat, pecandu film kelas berat dengan segambreng referensinya hanya bisa tersentuh oleh film yang memiliki 2 elemen penting : menyentuh hati (sehingga cenderung melupakan formula klasik yang diulang ribuan kali) atau menampilkan pencapaian tertentu (dalam pengertian bahwa film tersebut menyajikan hal yang belum pernah disaksikan sebelumnya olehnya).

Unstoppable yang beroleh pujian yang nyaris sama banyak dari penonton dan kritikus sekaligus jelas adalah sebuah tontonan yang dikonstruksi sebagai hiburan. Melihat referensi yang dimilikinya, Tony Scott memang tak pernah berusaha membuat film untuk konsumsi festival. Ia membuat film sesuai kehendak hatinya dan sejauh ini mendapat apresiasi baik dari penonton. Tapi Scott memang paham betul bagaimana memuaskan mereka yang merelakan waktu dua jam dikurung di ruang gelap. Dan craftmanship yang dipunyainya terus menerus diasah sehingga ketika memirsa karya termutakhirnya, kita tahu bahwa ia makin matang.

Dan Unstoppable adalah contoh kongkrit dari kematangan itu. Sebenarnya premis film ini adalah pengulangan yang disempurnakan. Masih ingat dengan Speed? Ketika Keanu Reeves dan Sandra Bullock bahu membahu mengatasi kemelut di dalam bis yang harus melaju kencang lantaran ada bom tertanam di bawah bis. Bayangkan Keanu Reeves diganti dengan Denzel Washington dan Sandra Bullock bermalih rupa menjadi Chris Pine. Tentu saja hilangkan elemen physical attraction-nya maka bum! jadilah Unstoppable.

Tentu saja ceritanya tak persis sama. Karena Scott tahu betul apa yang ingin dikejarnya dari film ini (yakni suspense yang terus mendaki hingga klimaks), maka ia membangun kerangka ceritanya dengan sangat efektif. Diperkenalkanlah tokoh Frank Barnes (Washington) dan Will Colson (Pine). Lihatlah fisik keduanya. Barnes yang mendekati usia pensiun dengan ketenangan dan sikap bijaknya dan Colson dengan kemudaannya dan minimnya pengalaman hidup yang direguknya. Penempatan karakterisasi yang cemerlang demi mendapatkan efek kontras. Begitu layar dibuka, tanpa banyak buang waktu, Scott memperlihatkan sebuah kejadian mencengangkan. Sederet kereta melaju begitu saja tanpa masinis. Bau anyir pun mulai merebak. Teror pun dimulai. Kereta melaju kencang tanpa dapat dihentikan. Disaat bersamaan, Colson menjalani hari pertamanya sebagai masinis. Skenario memberi peluang bagi kedua tokoh untuk sempat bersitegang, lantas perlahan mencoba mengerti satu sama lain. Ketegangan antara Colson dan Barnes paralel dengan teror kereta tak bertuan. Diperkirakan kereta yang mengangkut berton-ton cairan yang mudah meledak itu akan mengakibatkan malapetaka yang tak terbayangkan karena melintasi kawasan padat penduduk. Waktu tak bisa dihentikan. Kereta pun terus melaju. Tak mungkin membiarkan kereta itu mengakibatkan penderitaan maha hebat. Maka Barnes dan Colson melupakan ketegangan diantara keduanya dan bahu membahu menyelamatkan nyawa manusia dari musibah kereta tak bertuan itu.

Dengan jam terbang yang dipunyainya, Scott mengemas Unstopppable yang mampu membetot perhatian penonton. Ia pandai memainkan tensi film dengan pendekatan sinematografi khas yang telah menjadi cirinya (coba lihat kesamaannya dengan yang disajikan Scott di film sebelumnya, Déjà Vu). Meski terasa artifisial, namun gaya Scott harus diakui memanjakan mata. Kamera yang beringsut-ingsut mendekati fokus, lantas bergerak lincah dengan warna=warna teduh membuat film ini visually stunning. Memang gayanya tak baru, namun selalu bisa membuat mata tak lelah menyaksikannya.

Washington yang sebelumnya juga bekerjasama dengan Scott di Déjà vu tak mengalami hambatan sama sekali memainkan perannya disini. Demikian pula dengan Pine. Hanya saja karena tak banyak waktu untuk memperlihatkan perkembangan karakter keduanya, maka karakter mereka terkesan seperti ditempatkan dari awal untuk menyelamatkan kereta maut. Akhirnya memang tak ada kejutan disana.

Dan itulah yang memang terasa usai menonton Unstoppable bagi pecandu film kelas berat. Lantaran sudah pernah melihat formula yang (hampir) sama di film lain dengan pendekatan yang juga kurang lebih sama di karya sebelumnya dari sang sutradara, maka Unstoppable terasa tak istimewa. Pada elemen menyentuh hati, film ini kurang berhasil karena memilih fokus pada upaya penghentian kereta. Durasi memang memaksa Scott untuk harus takluk. Padahal jika ia bisa mengeksplor hubungan antara Barnes dan kedua putrinya, juga Colson dengan mantan istrinya, maka Unstoppable akan menjadi sebuah suspense plus. Di sisi lain, tak ada hal baru yang ditawarkan Scott sehingga pecandu film kelas berat bisa jadi mencapnya “stagnan”. Tapi jika bisa menikmati Unstoppable dengan segala “kelemahannya”, maka kita tahu bahwa Scott mencoba menyajikan hiburan menarik bagi pecintanya.

UNSTOPPABLE

Director : Tony Scott
Cast : Denzel Washington, Chris Pine, Rosario Dawson
Script Writer: Mark Bomback

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: