Date Night : Semalam Bersama Steve Carell Dan Tina Fey

Jika Anda diberi kesempatan untuk menghabiskan 1 malam bersama Steve Carell dan Tina Fey, apa yang akan Anda lakukan? Mencela-cela para pengunjung di sebuah restoran terpandang bersama keduanya atau berada di dalam mobil yang melaju kencang dengan kemudi di tangan Carell yang ternyata adalah seorang pengemudi yang buruk? Well, rasanya banyak diantara kita yang mungkin akan menunjuk pilihan pertama. Mencela orang mungkin berdosa, tapi jadi guilty pleasure apalagi jika diimbuhi kekocakan komentar dari Carell dan Fey.

Itu pula problem mendasar pada film Date Night. Dengan bekal dua komedian handal di tangan, kenapa pula harus memaksakan mereka juga untuk beraksi seperti berlari-larian dikejar dua begundal, mengendarai mobil canggih hingga nekat memasuki apartemen orang? Rasanya lebih menyenangkan melihat keduanya berada dalam satu film yang mencoba menonjolkan komedi dibanding aksi, bukan sebaliknya.

Disini Carell dan Fey menjadi pasangan suami istri dengan kehidupan menjemukan. Menjalani rutinitas dari hari ke hari dan membuat mereka seperti imun satu sama lain. Apakah semua rumah tangga harus seperti itu? Harus jatuh ke dalam jurang kebosanan di sisa hidup yang akan dijalani? Dengan tema seperti ini, sesungguhnya banyak peluang untuk membongkar sisik melik kehidupan mereka yang bisa mencipratkan tawa, ketimbang membuat mereka jadi bintang aksi laiknya Arnold Schwarzenegger atau Bruce Willis.

Pilihan yang sepenuhnya tak salah sebenarnya, namun aksi komedi yang manjur biasanya adalah memajang kombinasi antara action star dan comedian. Seperti mengkolaborasikan antara Jackie Chan dan Chris Tucker di trilogi Rush Hour. Jackie tetap pada porsi gedebak-gedebuk namun juga berupaya mencoba memancing tawa, sementara Tucker dengan aksinya yang konyol juga berusaha untuk beradu otot walaupun sebagian besar gagal. Dan ironi memang menjadi kunci komedi.

Disini pula Carell masih menjadi tipikal laki-laki biasa yang menyenangkan dan Fey menjadi perempuan pintar yang hilarious. Kita bisa percaya bahwa keduanya adalah pasangan suami istri, karena melihat kecocokan keduanya ketika bercanda (coba perhatikan adegan mereka mencela pengunjung restoran yang dijamin bikin sakit perut). Namun kita susah percaya bahwa mereka menjalani aksi kejar-kejaran dengan gembong mafia dan harus berurusan dengan jaksa ’nakal’.

Bayangkan Date Night tanpa semua adegan aksinya, maka film ini akan menjadi jauh lebih menyenangkan. Apalagi Shawn Levy yang duduk di kursi sutradara terbilang cemerlang ketika membesut Night at the Museum. Sekali lagi, kenapa harus memaksakan diri? Mungkin ada cukup banyak juga penonton yang terhibur dengan aksinya yang standard maupun plot-nya yang sebenarnya terlalu gampang ditebak. Jika ingin memuaskan penonton dengan berbagai keinginannya, maka Date Night sesungguhnya dibuat dengan alasan yang salah. Karena sekalipun film ini sudah meletakkan diri sebagai film ’hiburan semata’, tapi bukan berarti tak bisa mendorong ke titik maksimal dimana Date Night bisa jadi film yang jauh lebih menghibur daripada yang terhidang di depan mata kita.

Coba sekali lagi lupakan adegan aksinya. Dan juga nikmati saja penampilan sekilas dari deretan bintang papan atas, mulai dari Mark Wahlberg, James Franco, Ray Liotta, Mila Kunis hingga Leighton Meester.

DATE NIGHT

Director : Shawn Levy
Cast : Steve Carell, Tina Fey, Mark Wahlberg
Script Writer : Josh Klausner

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: