Dancer In The Dark : Menari – Nari Dalam Kesedihan

Ini tentang pengorbanan. Tentang cinta yang begitu besar dari seorang ibu terhadap anaknya. Tentang cara menjalani hidup yang pahit dengan optimistik. Sifat seheroik ini dipunyai Selma Jezkova (Bjork, yang bermain dengan amat brilian). Ibu muda dengan anak laki – laki beranjak remaja, yang bermata rabun sehingga tak bisa menyaksikan keindahan dunia secara jelas. Bagi Selma, hidup meski terasa pahit toh tetap harus dijalani, karena ia punya tujuan mulia. Baginya, anak laki – lakinya adalah segalanya. Apapun akan dilakukan demi anak semata wayangnya. Bahkan ketika dihadapkan pada kematian pun, ia masih mementingkan anaknya itu.

Tentu kita mudah jatuh cinta dengan tokoh seperti ini. Lars Von Trier yang menyutradarai sekaligus menulis skripnya, masih menambahkan berbagai bumbu sehingga Dancer In The Dark sepintas terlihat sedih berlebih – lebihan. Susah untuk tak menitikkan air mata dengan cerita setragis ini. Untungnya, Von Trier punya trik agar filmnya tak terkesan murahan, seperti melodrama yang banyak menghiasi stasiun televisi kita. Maka ia menyelipkan berbagai adegan musikal, dengan pewarnaan berbeda, yang menggambarkan fantasi Salma. Kita ditunjukkan oleh Von Trier bahwa Selma toh tak merasa hidupnya terlampau sulit, toh ia masih bisa menikmati hidup dengan caranya sendiri.

Dan Selma menjadi “hidup” dan convinving berkat peran hebat Bjork. Di tangannya, Selma menjadi bagian tak terpisahkan dari dirinya. Agak sulit membayangkan jika Selma tak dimainkan oleh penyanyi asal Islandia itu. Terlebih musik yang menghiasi Dancer In The Dark khas Bjork. Musik mengalun bagai tak tentu arah, namun menemukan iramanya dengan caranya yang unik. Menyatu dengan gerak tari yang juga meski aneh, tapi terasa pas dengan kebutuhan. Tipikal Bjork memang, dan menjadi poin penting yang menunjang keberhasilan film ini.

Untuk menggulirkan ceritanya, Von Trier berani menempuh hal – hal ekstrim. Diperlihatkannya bahwa hukum bisa jadi buta jika tak ditangani secara serius. Si korban bisa jadi terdakwa dan si penjahat bisa berubah menjadi tokoh yang dieluk – elukan. Itu pula yang terjadi Selma. Seolah derita tak mau berpaling darinya, maka Selma pun didera persoalan tiada akhir. Tapi ia tak membantah sepatah pun, tak ingin membocorkan kebenaran untuk disimpannya. Muaranya hanya satu : demi putra tercintanya.

Maka durasi 139 menit tak terasa panjang untuk kisah seintens ini. Padahal Von Trier punya label sebagai filmmaker yang terbiasa membuat film art, yang berkonotasi “ susah dicerna”. Tapi tidak untuk Dancer In The Dark. Cerita mengalir dengan enak, penyutradaraan yang subtil, bahkan kamera pun diarahkan untuk memotret hal – hal detil, agar bisa lebih terasa emosi dan kedekatannya dengan penontonnya. Tapi pilihan ini pula yang mungkin jadi cacat bagi film ini. Gerak kamera yang handheld, dengan editing yang terasa ala MTV, di beberapa sekuen, terasa tak cocok untuk cerita drama seperti ini. Mungkin cocok untuk adegan fantasi Selma, namun tidak terasa tepat untuk kehidupan nyata Selma.

Saya percaya film ini bisa menggugah kepekaan banyak orang. Dancer In The Dark adalah salah satu film yang akan membuat penonton tersedu – sedu, karena haru dan emosional yang membuncah di dada. Toh, hidup meski terasa berat, mestinya tetap dipandang optimis. Diluar sana, rasanya masih banyak Selma – Selma yang menjalani hari demi hari dalam kesepian, tanpa perlu banyak gerutu, tanpa perlu banyak protes, tanpa perlu banyak tuntutan. Ia hanya ingin hidup dengan semestinya, tanpa perlu bermimpi muluk – muluk, hanya mengejar mimpi yang sederhana. Ketika kita bisa memposisikan diri sebagai Selma, bukankah hidup akan terasa lebih bermakna ?

DANCER IN THE DARK

Director : Lars Von Trier
Cast : Bjork, Catherine Deneuve, David Morse
Script Writer : Lars Von Trier

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: