The Imaginarium of Doctor Parnassus : Imajinatif Tapi Tak Sederhana

Perkembangan teknologi kini berada di tahap dimana segala sesuatu bisa dibuat. Hampir apapun. Dunia film pun merasakan berkah dari kemajuan teknologi yang luar biasa dalam satu dekade terakhir. Maka kita tercengang, terkagum-kagum dan tercekat melihat visualisasi dahsyat dari Avatar. Mungkin tak terlalu khayali, namun teknologinya membuat kita harus memberikan keplokan meriah atas usaha keras James Cameron disana.

Poin plus dari Avatar selain teknologi adalah ceritanya yang sederhana, humanis dan dengan gampang bisa dilekatkan ke kondisi bumi terkini. Dengan demikian, Cameron bisa membangun koneksi emosional dengan para penontonnya. Ia tak hanya menyajikan sensasi visual namun juga bisa menentramkan hati. Sebuah perpaduan yang hanya dimiliki segelintir sutradara.

Lain halnya dengan Terry Gilliam. Ia sudah terkenal dengan karya-karyanya yang visioner, imajinatif namun surealis. Banyak diantara kita yang sudah memirsa film-filmnya seperti Brazil, Twelve Monkeys hingga Brothers Grimm dan mungkin tak mengerti dengan film-film tersebut. Butuh waktu lebih dari sekali untuk menontonnya dan seperti itu pulalah yang menimpa mereka yang juga memirsa The Imaginarium of Doctor Parnassus.

Ceritanya yang berlapis-lapis, penuh dengan metafora, ditambah lagi dengan kematian Heath Ledger yang menjadi kunci dari film ini. Ya, kematian Ledger yang mendadak tentu membuat Gilliam kelabakan. Karena kabarnya Ledger belum lagi menyelesaikan separuh dari tugas yang diembannya. Maka bisa dibayangkan apa yang terjadi jika sang aktor utama mati ketika syuting belum lagi mencapai separuh perjalanan.

Tapi Gilliam bisa menutupi ‘kecelakaan’ itu dengan baik. Persoalan membongkar skenario di tengah syuting yang tengah berjalan sesungguhnya bukan perkara mudah. Dan dengan brilian, ia bisa melakukannya dengan baik.

Seperti terbersit dari judulnya, The Imaginarium of Doctor Parnassus berkisah seputar imajinasi yang ada di kepala Doctor Parnassus (diperankan dengan enerjetik oleh Christopher Plummer). Jika ingin bertualang didalamnya adalah dengan jalan melalui cermin yang diletakkan di tengah panggung teater berjalan yang dioperasikan oleh Parnassus sendiri dan sejumlah rekannya. Dan sebuah kebetulan (atau memang sudah direncanakan?) membawa Tony (Heath Ledger) bergabung dengan rombongan tersebut.

Dengan cerita seperti ini, Gilliam memang bebas sesuka hati berkreasi. Maka The Imaginarium of Doctor Parnassus menjadi kanvas baginya. Ia bisa menumpahkan cat warna apa saja, kuning, merah, hijau bahkan shocking pink sekalipun tanpa perlu mengindahkan pemahaman mereka yang akan melihat lukisannya nanti. Itu pula yang terjadi pada film ini. Jika kebingungan hingga tersesat dengan ceritanya, lebih baik Anda menyegarkan mata dengan sensasi visual yang disajikannya. Imajinatif, kadang tak terbayangkan dan absurd. Jika Anda terkagum-kagum dengan keindahan Alice in Wonderland, maka The Imaginarium of Doctor Parnassus mendorong Anda untuk ternganga. Gilliam, sekali lagi, memang membuktikan dirinya sebagai sutradara visioner tak tertandingi.

Dan rasanya memang perlu menonton film ini lebih dari sekali. Seperti melihat lukisan surealis yang perlu ditatap lama-lama dan dilihat beberapa kali untuk bisa dimaknai. Juga menjadi cara mengasyikkan bagi Anda untuk menilai permainan Ledger dengan 3 aktor kelas kakap yang ‘memainkan’ dirinya : Johnny Depp, Jude Law dan Colin Farrell.

THE IMAGINARIUM OF DOCTOR PARNASSUS

Director : Terry Gilliams
Cast : Heath Ledger, Christopher Plummer, Johnny Depp
Script Writer : Terry Gilliams, Charles McKeown

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: