Green Zone : Perang Untuk Siapa?

Perang di berbagai belahan dunia selalu menarik perhatian. Ribuan jiwa selalu jadi korban, harta tak terkira akan terkuras. Di sisi lain, kadang-kadang mereka yang bertarung di medan perang tak mengerti bahwa sebenarnya mereka berperang untuk siapa. Lebih mendalam lagi, berperang untuk apa?

Seperti Roy Miller (Matt Damon) yang awalnya diterjunkan ke Irak tanpa pretensi. Ia menyadari diri sebagai tentara yang dikirimkan kesana untuk membela negara. Dalam perjalanannya, Roy mendapati bahwa ketika ia dan pasukannya dikirim ke salah satu tujuan untuk menggrebek sesuatu demi menemukan senjata pemusnah dan semacamnya, selalu saja mereka tak mendapati apapun. Hal ini membuat Roy penasaran. Ia curiga bahwa terjadi kebocoran tingkat tinggi yang membuat ia dan pasukannya selalu gagal mendapati sesuatu. Maka ia pun mencoba mengendus sesuatu dan mendapati fakta mencengangkan nan busuk terhidang di depan hidungnya.

Reuni Matt Damon dengan Paul Greengrass ini bisa jadi cukup ditunggu-tunggu. Namun bisa jadi pula penonton yang sudah memirsa Bourne Supremacy dan Bourne Ultimatum menyiapkan diri untuk memirsa hal-hal yang sifatnya formulaik. Greengrass, sebagaimana terlihat di 2 film Bourne, berciri khas dengan kamera handheld yang bergerak dinamis dan kadang memusingkan, pacing super cepat dan musik yang menambah atmosfer film. Ini tentu saja bukan kelemahan, namun bisa menjadi faktor yang mengurangi keasyikan menonton Green Zone. Karena penonton mungkin sudah hafal dengan ciri itu dan jadinya tak mengejutkan lagi.

Tapi jangan khawatir. Dynamic duo Damon dan Greengrass masih memberi kita tontonan menghibur sekaligus digarap dengan kualitas tinggi. Secara visual, Green Zone mungkin tak terlalu berbeda dengan 2 film Bourne tersebut. Namun kali ini Grenngrass memberi perhatian lebih pada cerita. Bersama Brian Helgeland, ia mengolah buku berjudul Imperial Life in the Emerald City karya Rajiv Chandrasekaran. Dan ia menggarisbawahi bahwa Green Zone bukan adaptasi dari buku tersebut namun ia menjadikan buku tersebut sebagai latar belakang filmnya.

Dan rupanya inilah kejutan yang dibawa Greengrass kali ini. Ia mencampur informasi faktual dengan fiksi. Ia mengaburkan beberapa karakter yang ada dalam buku tersebut. Dan lebih jauh lagi, ia mengembangkannya sehingga Green Zone tak hanya menjadi thriller spionase ber-oktan tinggi, namun juga membongkar persekongkolan busuk yang mengorbankan sekian banyak korban jiwa baik dari pihak Irak maupun Amerika.

Dengan materi yang dipunyainya, Greengrass dan Helgeland memilih fokus pada peristiwa, dan memilih untuk fokus pada beberapa karakter saja didalamnya, dan itulah yang membuat cerita jadi padat dan gampang dimengerti. Maka meski kita terengah-engah mengikuti kecepatan Greengrass, ia tak membiarkan kita menjadi tak tahu apa yang sebenarnya disajikannya di layar.

Kejutan lainnya yang membedakan Green Zone dari film berlatar perang Irak lainnya adalah ketegasan Greengrass mempertanyakan makna perang. Sebenarnya tentara Amerika disana berperang untuk siapa? Ribuan jiwa rakyat Irak yang tewas itu berkorban untuk siapa? Dan itulah makna perang yang selalu mempunyai dua sisi. Sisi baik demi kemerdekaan dan kemaslahatan rakyatnya dan sisi jahat ketika perang diperalat segelintir oknum demi mencapai tujuannya sendiri.

GREEN ZONE

Director : Paul Greengrass
Cast : Matt Damon, Greg Kinnear, Khalid Abdalla
Script Writer : Brian Helgeland

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: