When We Leave : Lelaki Penindas, Perempuan Teraniaya

Tahun 2005 Jerman bergolak dalam diam. Semuanya bermula dari kisah pedih (dan berakhir tragis) dari seorang perempuan muslim berusia 23 tahun bernama Hatun Surucu. Delapan tahun terkurung dalam perkawinan nan hampa dengan sepupunya sendiri membuat Surucu berontak. Ia meninggalkan suaminya juga anaknya yang baru berusia 5 tahun. Karir pun dikejarnya demi bisa hidup mandiri. Jika ini terjadi di Jakarta, maka semuanya menjadi sah-sah saja. Namun ketika hal ini terjadi dalam lingkup keluarga muslim (walaupun hidup di negara seliberal Jerman), persoalannya tak sesederhana itu. Surucu dinilai menodai kehormatan keluarga dan hanya nyawa yang bisa membayarnya. Ia pun harus meregang nyawa di tangan adik bungsunya yang menembakkan pistol kearahnya.

Feo Aladag begitu terkesima dengan kisah itu. Mantan aktris TV di Jerman itu pun melarutkan diri dalam meracik sebuah cerita yang terinspirasi dari kisah Hurucu. Dan lahirlah When We Leave yang meramaikan JIFFest 2010. Mencermati kisah ini memang mesti hati-hati. Karena ada cap “muslim” yang relatif sensitif ke sebagian penonton (terutama karena diputar di negeri dengan penduduk muslim terbanyak seperti Indonesia). Apalagi dalam kisah ini, lelaki dan perempuan muslim (dari etnis Turki) digambarkan sangat stereotipe. Lelaki cenderung berwatak penindas, sementara perempuan selalu menjadi pihak yang teraniaya.

Umay (Sibel Kekilli) juga sempat menjadi salah satu dari perempuan itu. Ia hampir menyerah pada keadaan, dengan perlakuan kasar yang diterimanya dari sang suami, Kader (Settar Tanriogen). Cem (Nizcam Schiller), putra cilik semata wayangnya yang lucu, yang menyadarkan dirinya bahwa ia harus bertindak. Ia tak boleh membiarkan dirinya dianiaya habis-habisan. Ketika semangat hidupnya hampir kendur, Cem-lah yang kembali menguatkannya. Tak ada jalan lain, ia harus keluar dari rumah.

Dan mulailah episode panjang kehidupan tragis Umay yang seperti tak berujung. Skenario rupanya menempatkan Umay sebagai obyek penderita, namun disaat bersamaan tampil bak pahlawan bagi sebagian penonton. Kepulangan Umay ke rumahnya membuat ayah dan ibunya murka. Tak sampai disitu, kakaknya pun melakukan teror fisik yang membuat miris. Disini Aladag mendorong cerita ke titik dimana penonton hampir tak tahan dengan segala penyiksaan yang diterima Umay. Untungnya memang Aladag yang mengerti betul latar belakang ceritanya tetap menjaga batasnya.

Maka When We Leave akan membuat penonton ternganga, kesal luar biasa dan menangis tertahan menyaksikan Umay yang seperti tak berhenti dirundung malang. Faktor penting yang membuat penonton berempati pada Umay juga ada di tangan Kekilli. Ia menafsirkan karakter Umay dengan pas. Tak lebih dan tak kurang. Ia meratap ketika dihina keluarganya namun tak sampai menghiba demi membuat penonton terenyuh. Kontak emosional antara dirinya dengan Schiller juga luar biasa. Kita, para penonton, dibuat percaya bahwa Kikelli memang adalah ibu Schiller yang mati-matian menjaga putranya itu.

Jika tak paham dengan latar belakang cerita ini, bisa jadi kita dengan gampang menuduh bahwa Aladag sebagai sutradara punya agenda dengan menggambarkan lelaki muslim dengan tradisi “pembunuhan demi kehormatan” itu. Sayangnya memang, hal itu betul-betul terjadi. Dan kita pun akhirnya mengutuk perbuatan itu. Tentu saja lelaki muslim tak bisa digeneralisasi sedemikian, namun ada kecenderungan penonton yang datang dengan wawasan yang tak cukup akan menyerap apa yang tersaji di layar tanpa melakukan filterisasi terlebih dahulu.

Dengan memilih mengangkat kisah ini saja, Aladag sesungguhnya telah menempuh resiko. Karena ia memilih fokus pada penggambaran satu keluarga muslim saja, tanpa memberikan karakter pembanding lainnya. Maka tak bisa dihindari jika ada sejumlah media (ataupun pihak) yang menuduh Aladag menyebarkan paham Islamofobia.

Di luar kontennya, When We Leave sebagai sebuah karya audio visual harus diberikan apresiasi yang pantas. Aladag berhasil mengorkestrasikan semua elemen yang dipunyainya dengan baik. Ketika departemen skenario berhasil dikendalikannya, maka kategori akting menuntutnya memberi perhatian ekstra. Juga elemen lainnya seperti sinematografi yang bergaya dokumenter hingga musik yang minimalis.

Dan kisah lelaki penindas dan perempuan teraniaya inipun diakhiri dengan pedih oleh Aladag. Sebuah pendekatan beresiko, namun niscaya akan membuat gelisah para penontonnya ketika lampu di bioskop kembali menyala. Kegelisahan yang bisa jadi diniatkan oleh Aladag sebagai upayanya untuk membuat penonton tersadar bahwa masih ada tragedi perih yang terjadi diluar sana.

WHEN WE LEAVE

Director : Feo Aladag
Cast : Sibel Kekilli, Nizcam Schiller, Derya Alabora
Script Writer : Feo Aladag

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: