Clash of the Titans : Manusia Setengah Dewa Melawan Tuhan

Teknologi terkini yang bisa dihadirkan dalam film dicapai dalam Avatar. Kerja keras bertahun-tahun tanpa lelah dari James Cameron menghadirkan karya dahsyat yang membelalakkan mata. Yang membuat kita sadar bahwa manusia telah mencapai pemahaman pada teknologi pada tingkat yang mungkin tak terbayangkan sepuluh tahun lampau.

Dan Avatar mendapat keplokan meriah karena ia tak bertumpu pada teknologi semata. Ia punya materi cerita nan kuat dan jelas visinya. Inilah yang menjadikan film terlaris sepanjang masa itu mendapat penghormatan karena bisa menyeimbangkan sisi mekanis yang dicapai teknologi dan sisi manusiawi yang hanya bisa diramu oleh kehebatan manusia.

Sayangnya memang hanya sedikit sekali yang bisa membuat film serupa Avatar. Dan Clash of the Titans jelas tak ada apa-apanya. Teknologi boleh sama canggihnya, namun Clash of the Titans tak menghargai ’nyawa’-nya sendiri. Ia mengesampingkan cerita yang harusnya tetap menjadi inti dari film dan memilih untuk menaruhnya di belakang teknologi spektakuler.

Padahal rasanya tak salah sama sekali jika memberi tempat pada cerita yang bagus, yang dikembangkan menjadi skenario nan matang. Rasanya jika diramu dengan tepat, tak akan ada penonton yang protes. Avatar sudah membuktikannya kan?

Dalam Clash of the Titans, Louis Leterrier memberi porsi besar pada pertarungan demi pertarungan yang harus dilakukan Perseus (Sam Worthington) demi agar bisa membunuh Hades (Ralph Fiennes). Dan memang menakjubkan pertarungan itu. Makhluk-makhluk super aneh keluar dari layar, ada kalajengking raksasa, sosok Medusa yang cantik namun berambut ular hingga monster laut raksasa nan mengerikan. Tapi hanya begitu saja. Bahkan karakter Perseus pun tak terasa kedalamannya. Ia jadi karakter 2D disini. Padahal sosok Perseus sungguh menarik untuk dibongkar oleh sang sutradara.

Karena Perseus adalah sosok yang menarik. Ia manusia setengah dewa, berayahkan Zeus (Liam Neeson). Tapi ia menolak tawaran ayahnya untuk berada di awang-awang. Ia memilih menjadi manusia biasa dan bertekad mengalahkan Tuhan (dalam film ini, sosok Tuhan diwakili Zeus yang tak lain adalah ayahnya sendiri). Ironi yang menarik dieksplorasi bukan?

Mungkin Leterrier mengira bahwa audiens yang menjadi targetnya semuanya adalah manusia yang dangkal. Yang hanya melihat sesuatu dari permukaan. Yang hanya peduli pada spesial efek dan tak peduli pada cerita. Anda salah! Karena penonton masa kini rasanya makin pintar. Sekali lagi Avatar menjadi buktinya. Film yang penuh spesial efek tak harus menjadi film yang dangkal bukan?

Apa boleh buat, Leterrier memang kualifikasinya jauh dibawah Cameron. Ia tak membesut film sekaliber Titanic yang menampilkan emosi manusia secara berlapis-lapis di tengah tekanan akan bahaya yang mengancam. Ia hanya membesut film sekelas Danny The Dog dan Transporter 2. Sampai disini, Clash of the Titans memang kemungkinan hanya akan diapresiasi baik oleh para remaja yang memang gampang dibuat terkagum-kagum dengan teknologi tercanggih.

CLASH OF THE TITANS

Director : Louis Leterrier
Cast : Sam Worthington, Liam Neeson, Ralph Fiennes
Script Writer : Travis Beacham, Phil Hay, Matt Manfredi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: