The Wedding Photographer : Foto, Kelas Sosial Dan Cinta

Tak pernah ada catatan resmi yang menyebutkan mulai terbentuknya “kelas-kelas” yang ada di dalam masyarakat. “Kelas-kelas” itu memang tak pernah diucapkan dengan lantang, namun terasa mengalir dalam udara yang dihirup oleh masyarakat. Mulailah pengkotak-kotakkan dengan istilah “kelas menengah atas”, “kelas bawah” ataupun “kaum jetset”.

Pengkotak-kotakkan seperti itu tentu punya eksesnya sendiri. Orang dibedakan hanya dari apa yang dimilikinya secara fisik, bukan dari keseluruhan yang dipunyainya (termasuk yang sifatnya non material). Maka hanya ada orang kaya dan orang miskin, sementara orang pintar dan bodoh cenderung tak dianggap berlaku di dalam sistem masyarakat.

Ulf Malmros dengan cerdik memilih pendekatan komedi untuk menyentil soal pengkotak-kotakkan itu. Dengan bertingkah jenaka, penonton cenderung tak sadar bahwa sebenarnya dirinya lah yang tengah diolok-olok oleh kreator film. Dan itulah yang terjadi pada film The Wedding Photographer. Profesi fotografer pernikahan menjadi jalan masuk bagi Malmros untuk mengobrolkan hal yang lebih besar.

Fotografer itu bernama Robin (Bjorn Starrin). Don’t judge the book by its cover sungguh pantas disematkan pada pemuda 29 tahun itu. Jangan lihat tongkrongannya yang sangar : rambut panjang menyentuh pundak, tindik dimana-mana hingga tato berseliweran di tubuh. Dibalik itu semua, ternyata Robin punya talenta alami. Foto-foto yang sepintas diambilnya tak sungguh menghasilkan gambar dengan citarasa nan menarik. Robin sesungguhnya tak pernah punya cita-cita jadi fotografer profesional, namun ketika pabrik tempatnya bekerja akhirnya ditutup, ia tak punya pilihan untuk bertahan hidup.

Sebuah “kecelakaan” membuat Robin masuk ke dalam kelas jetset yang biasanya hanya dilihatnya di televisi atau majalah. Ia beroleh pekerjaan memotret perkawinan dari putri seorang multi jutawan. Penonton tahu bahwa Robin “salah tempat”, dan disinilah moral film mulai dituturkan. Meski terkesan slengekan, sebenarnya pemuda itu punya kecakapan beradaptasi yang mengagumkan. Tak btuh waktu lama ia sadar bahwa “dirinya” tak berada di tempatnya. Jalan satu-satunya adalah mengubah diri secara total. Rambut dipotong pendek, tata cara berpakaian diubahnya, ia pun bahkan serius mempelajari tata krama kalangan elit.

Keputusan itu membuat Robin larut. Ia bahkan seperti kehilangan identitas. Jika dulu ia cenderung acuh dengan status sosial, kini ia mencemooh kalangan menengah bawah seperti dirinya dulu. Di saat bersamaan, ia pun jatuh cinta. Disinilah dilemanya. Bagaimana Robin menentukan sikap diantara kelas sosial yang melekat pada dirinya, juga dengan cintanya.

Meski beraroma komedi, Malmros tak sudi menjadikan filmnya sebagai bahan olok-olok. Maka perubahan fisik Robin tak dijadikannya sebagai senjata dalam menguras tawa. Terlalu tipikal jika The Wedding Photographer juga mengadopsi cara bertutur serupa. Malmros lebih brilian mengolah skenario yang dipunyainya dan tahu waktu yang tepat untuk meletupkan tawa penonton. Dan itu dilakukan juga tidak dengan membuat aktornya menjadi komedian. The Wedding Photographer menciptakan kelucuan dari situasi yang dibangun, juga dari kritik yang sesungguhnya pedas namun terasa lancar mengalir.

Malmros mengajarkan para filmmaker negeri ini bagaimana cara mengkritik dengan elegan. Ia nyinyir mengomentari bagaimana kemunafikan kaum jetset sekaligus menyimak cara pandang kaum menengah bawah terhadap kalangan atas. Dan semuanya ditampilkan lewat visual, bukan lewat dialog para karakternya sehingga terdengar seperti ceramah. Kita, para penonton, pun tertawa terbahak-bahak dan kita sadar bahwa diantara kita banyak yang sesungguhnya menertawakan diri sendiri.

Maka durasi 113 menit itupun tak terasa berlalu. Dan tak terasa pula bagaimana Malmros menjejalkan banyak pelajaran moral pada karyanya kali ini. Tapi kita tak tersinggung. Kita tahu bahwa ada yang salah dengan sistem kelas yang masih saja terus berkembang di seantero dunia. Tapi kita tak bisa berbuat banyak kecuali bersatu. Karena hidup adalah pilihan. Tak ada yang salah dengan orang yang nyaman dengan hidup hanya dengan mengandalkan pekerjaan sebagai buruh pabrik. Dan rasanya ada sesuatu yang salah ketika melihat orang kaya yang cenderung dirongrong ketakbahagiaan yang seakan tak berujung.

THE WEDDING PHOTOGRAPHER

Director : Ulf Malmros
Cast : Bjorn Starrin, Kjell Bergqvist, Tuva Novotny
Script Writer : Ulf Malmros

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: