Cinderella Man : Pria Yang Hidup Seperti Cinderella

Tajuk berita belakangan banyak mengangkat soal masyarakat miskin yang berebutan dana BBM. Pedih mendengar bahwa banyak dari mereka yang antre berjam – jam, bahkan ada yang meninggal, hanya demi uang yang tak seberapa. Di Amerika, di tahun 1930-an situasi serupa juga terjadi. Bayangkan, terdapat 15 juta pengangguran di seantero negeri. Depresi melanda membuat perekonomian nyaris ambruk.

Dan depresi menularkan efeknya kemana – mana. Juga nyaris membuat rumah tangga keluarga di Amerika nyaris hancur. Untung saja itu tak terjadi pada James J Braddock. Petinju yang dihormati karena comeback yang mengesankan ini memang pantas untuk dikagumi. Wajar kiranya jika prestasinya menginspirasi banyak orang, termasuk sutradara Ron Howard. Kisah hidup Braddock sendiri memang sudah dramatis dan oleh Howard dalam Cinderella Man, kisah itu digulirkan secara pas, tak berlebihan dramatisasinya, meski sebenarnya peluang untuk itu cukup besar. Sebagai sutradara yang cukup punya jam terbang, Howard bisa meredam ego untuk membuat Cinderella Man menjadi sebuah kisah sederhana yang menyentuh. Dalam gambaran skenario buatan Cliff Hollingsworth, kisah Braddock sekeluarga “hanya” sebuah kisah tentang kesempatan kedua, pentingnya arti keluarga dan sikap saling pengertian satu sama lain.

Cinderella Man membawa kita memasuki dunia Braddock, dari kehidupan berkecukupan hingga melarat dan nyaris tak mampu membayar listrik, atau sekedar membeli susu. Padahal dulunya, James (Russell Crowe, akankah ia dapat Oscar lagi dari film ini ?) dan istrinya, Mae (Renee Zellweger) punya sebuah rumah mentereng. Tatkala depresi meluluhlantakkan ekonomi Amerika, kehidupan mereka pun berbalik 180 derajat. James tak lagi bisa mencari nafkah dari bertinju. Dan Howard memberi banyak ruang bagi penonton untuk memahami betapa beratnya perjuangan suami istri ini plus 3 anak yang masih kecil – kecil. Detil – detil kecil seperti si cilik yang ingin minum susu padahal susunya sudah habis dan tak mampu terbeli hingga Mae harus menambahkan menjadi sebotol penuh dengan air, menjadi sangat mengharukan tanpa perlu ditingkahi alunan musik yang menyayat hati. Atau ketika James yang tak lagi punya uang, rela mengemis pada promotor tinju sekedar untuk membayar tunggakan listrik, dijamin akan melelehkan air mata.

Hidup Braddock berubah ketika ia diberi kesempatan untuk bertinju lagi. Dan itu dimanfaatkannya dengan maksimal. Momen – momen inilah, ketika Braddock yang diambang kemiskinan bisa mengubah jalan hidupnya menjadi seperti sedia kala, yang membuat Braddock berjulukan Cinderella Man. Julukan yang akhirnya membuat dirinya menjadi tumpuan harapan banyak orang. Pada era ketika susah terasa melilit, masyarakat memang butuh hero, dan Braddock adalah figur yang patut dikedepankan.

Durasi yang cukup panjang toh tak membuat Cinderella Man menjadi membosankan. Howard pintar mengatur stamina layaknya seorang petinju tangguh diatas ring. Dan yang terpenting, ia masih punya kapabilitas besar menghadirkan tontonan yang menghibur dan berkualitas. Ia mengkoreografi adegan tinju dengan dahsyat, tapi tak melewai batas, hingga membuatnya terasa real. Penderitaan yang dialami Braddock sekeluarga pun dipaparkan dari sudut pandang nan positif, bahwa sekeras apapun hidup bisa dilalui dengan kerja keras. Nilai – nilai itu yang tanpa sadar menyesap di dada ketika kita menyaksikan Braddock mengkanvaskan lawan – lawannya hanya agar anak – anaknya bisa minum susu. Ternyata, posisi keluarga bisa begitu penting di mata seorang pria jantan setangguh Braddock. Dari sinilah juga kita bisa menarik garis batas antara kejantanan dan ketangguhan. Braddock komplit memilikinya karena ia punya tanggung jawab yang sungguh – sungguh dalam melindungi keluarganya. Tak ada yang lebih pantas selain mengangkat topi buatnya ……

CINDERELLA MAN

Director : Ron Howard
Cast : Russell Crowe, Renee Zellweger, Paul Giamatti
Script Writer : Cliff Hollingsworth

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: