Honey : Puisi Untuk Alam Raya

Nafas JIFFest (Jakarta International Film Festival) nyaris berhenti berdetak. Dan para pecintanya pun hampir saja berteriak pilu. Betapa tidak, JIFFest dianggap sebagai sebuah etalase untuk menikmati potret dari beragam wajah manusia di berbagai belahan bumi. Lewat festival tahunan itu, kita diajak melihat apa yang terjadi di belahan dunia nun jauh disana. Juga diajak memahami segala problematika yang terjadi. JIFFest juga menjelma sebagai tempat bagi para pecintanya untuk menemukan “pengucapan” baru dalam medium audio visual. Jika JIFFest tercerabut dari tanah air, maka dimanakah kita bisa menemukan mutiara-mutiara dari perfilman internasional?

JIFFest tahun ini menemukan sebuah mutiara dari Turki. Dari Semih Kaplanoglu yang mencoba menggenapi trilogi filmnya yang sebelumnya berjudul Egg (rilis 2007) dan Milk (edar tahun 2008). Kaplanoglu mengajak kita mendalami alam raya dengan caranya yang puitis. Lewat sudut pandang Yusuf (Boras Altas), bocah 6 tahun nan menggemaskan, bergulirlah Honey.

Dengan pendekatan sinematografi yang cenderung apa adanya, Kaplanoglu mencoba memikat hati penontonnya. Rindangnya pepohonan ditingkahi hubungan antara ayah dan anak yang terekam dengan memikat menjadi pesona tersendiri dari Honey.

Yusuf yang terbiasa diajak sang ayah, Yakub (Erdal Besikcioglu) mengarungi hutan pelan-pelan terpesona dengan hutan nan rupawan. Sang ayah juga membuatnya makin cinta dengan mengenalkannya pada tetumbuhan, pada bunga dengan wanginya yang khas hingga pada burung yang beterbangan dengan bebas. Sang ayah adalah seorang petani madu yang menggantungkan hidupnya dengan mencari sarang lebah di hutan. Kedengarannya sederhana, namun sesungguhnya pekerjaan Yakub rentan dengan bahaya. Terkadang ia harus menjat pohon yang teramat tinggi demi menjangkau sarang lebah. Dengan teliti, Yusuf rajin mencermati kegiatan yang dilakukan ayahnya. Hingga suatu hari, sesuatu terjadi. Lebah-lebah itu menghilang tanpa bekas. Dan Kaplanoglu pun menggiring penonton untuk menemukan sebuah kejutan. Sensasi yang tak terasa nyaman di hati penonton namun memang menjadi resiko dari kehidupan yang harus dijalani.

Honey dituturkan Kaplanoglu tanpa bantuan musik. Sama sekali. Ketika elemen itu dihilangkan, apa yang paling mungkin terjadi? Tentu saja adalah sebuah kesunyian. Sebuah sepi. Dan disaat bersamaan adalah sebuah ketenangan. Pendekatan ini diambil Kaplanoglu tentu saja bukan tanpa alasan. Selain karena materi yang dipunyainya tak mempermasalahkan ada atau tidaknya musik, sesungguhnya bisa jadi juga karena sutradara cukup percaya diri dengan materi di tangannya. Meski terkesan simpel, tak bisa dipungkiri bahwa Honey berhasil melewati rintangannya sebagai film tanpa musik (dan tanpa membuat penonton bosan) karena skenario cemerlang yang dimilikinya. Dan ia tahu bagaimana menerjemahkan skenario yang ditulisnya bersama Orcun Koksal itu.

Namun kekuatan utama yang dipunyai terletak pada faktor pemain. Altas yang masih belia akhirnya harus menanggung beban berat di pundaknya. Jika tak cakap berolah mimik wajah dan berinteraksi dengan baik dengan sekelilingnya maupun para pemain lainnya, niscaya Honey menjadi film yang dengan segera bisa masuk tong sampah. Dan Kaplanoglu berhasil mengarahkan Altas. Rasanya sebagian besar penonton boleh jadi terkesima dengan Yusuf yang punya screen persona nan kuat. Kepolosannya menjadikan kita melupakan bahwa Honey mengalir tanpa bebunyian yang direkayasa. Film ini hanya merangkum sumber bunyi yang tercipta dari alam, dari gemericik air di sungai, bunyi khas hutan hingga kicau burung yang melayang di udara.

Dengan pendekatan yang dipilihnya, Honey memang cenderung gampang dijauhi penonton mainstream. Namun bagi mereka yang menyenangi hal baru, pendekatan Kaplanoglu pun menjadi “pengucapan” baru. Mungkin terasa asing, namun lama-lama ternyata tak mengecewakan. Mencoba saja menikmatinya dan akhirnya terbuai oleh gambar yang puitis dengan kisah yang juga terkesan liris.

Honey juga bisa jadi membuka mata filmmaker muda Indonesia. Bahwa ternyata kita bisa mendobrak pakem yang sudah ada dengan tanpa mengurangi kualitas karya yang dibuat. Lihatlah Honey yang mengoptimalkan segala elemen yang dipunyainya hanya dengan “mengorbankan” satu elemen yang memang terkesan amat penting dalam karya audio visual belakangan ini : musik.

HONEY (BAL)

Director : Semih Kaplanoglu
Cast : Boris Altas, Erdal Besikcioglu, Tulin Ozen
Script Writer : Semih Kaplanoglu, Orcan Koksul

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: