Catch Me If You Can : Pengejaran Pemuda Pemalsu Cek

Steven Spielberg telah diakui sebagai salah sutradara hebat dekade ini. Begitupun, di luar reputasi yang meyakinkan, Spielberg dikenal sebagai sutradara yang fleksibel. Ia tak punya gaya individual yang cenderung eksperimental sebagaimana Robert Altman, ia tak punya aktor favorit seperti Martin Scorsese yang selalu menampilkan Robert De Niro di depan layar. Pun ia tak “sempat” memilih genre film yang ingin dikerjakannya. Pendek kata, ia sutradara serba bisa. Dan lihatlah hasil karyanya mulai dari yang sarat hiburan seperti trilogi Jurassic Park, menonjolkan spesial efek nan canggih seperti yang diperlihatkannya dalam Jaws hingga proyek “ambisius” seperti Schlinder’s List dan Amistad. Satu kelebihan Spielberg adalah kepandaiannya meramu antara unsur komersial dan artistik. Sebuah pekerjaan sulit namun nyaris selalu berhasil dilakukannya. Maka ketika karya terbarunya keluar, bisa dijamin baik kritikus maupun penonton sama – sama puas.

Itulah yang terlihat di Catch Me If You Can. Kejeliannya sebagai produser membuatnya tak “setengah hati” mengangkat kisah nyata Frank William Abagnale Jr, kini konsultan keuangan yang bertugas mencegah kejahatan kerah putih (white collar crime), yang dulunya dikenal sebaga pemuda pembobol bank. Tak tanggung – tanggung, Frank berhasil menggerus duit 4 juta dollar, menipu orang dengan penyamarannya yang sempurna sebagai pengacara, dokter hingga pilot dan berhasil mengecoh FBI beberapa kali. Kisah yang sungguh menarik dan direkonstruksi secara cermat oleh Spielberg. Tim penulis Catch Me If You Can membuang sekelumit kehidupan Frank yang dirasa tak perlu muncul di layar dan menambahkan beberapa bagian tertentu demi alasan dramatik. Hasilnya, sebuah film berdurasi kurang lebih 2 jam yang menarik, menegangkan dan berkualitas pada saat bersamaan.

Di usia 16, Frank William Abagnale Jr (Leonardo DiCaprio) lari dari rumah. Penyebabnya, ayah dan ibunya bercerai. Tambahan lagi, ayahnya sedang dikejar – kejar Dinas pajak. Maka lengkaplah sudah penderitaan Frank. Dalam pelariannya, Frank mulai mengecoh orang – orang. Pada awalnya, terlihat hal itu dilakukannya karena alasan psikologis. Frank merasa bahwa dengan menjadi profesi tertentu, orang – orang akan menghargainya, tidak seperti pemerintah (dalam hal ini Dinas Pajak) yang dianggapnya “menginjak – injak” harga diri ayahnya. Petualangannya berlanjut dengan memalsu cek hingga suatu ketika jejaknya tercium agen FBI yang gigih, Carl Hanratty (Tom Hanks). Dan Spielberg seperti tahu betul keinginan penonton. Ia memilih memfokuskan cerita pada kisah pengejaran Carl atas Frank yang tak kenal lelah yang berlangsung bertahun – tahun. Spielberg yang sudah berpengalaman, terampil menarik ulur ritme cerita, memadu padankan adegan demi adegan dan mampu bercerita dengan lancar. Adegan yang padat membuat Catch Me If You Can tak terasa memakan waktu hingga 2 jam lamanya.

Tapi Catch Me If You Can punya segudang “amunisi” lain yang membuat Spielberg layak dijuluki good entertainer. Set yang disesuaikan mendekati aslinya (terjadi pada akhir 1960-an hingga menjelang 1970-an) dengan dukungan tata busana yang pas membuat penonton percaya bahwa kisah ini memang terjadi di masa itu. Belum lagi dukungan sejumlah aktor kelas satu. Ada Leonardo DiCaprio yang seperti “dikutuk” karena ketampanannya hingga membuat penonton lebih memilih menyaksikan penampilan fisikalnya dibanding performanya dalam berakting. Padahal, ia selalu bermain bagus nyaris dalam tiap filmnya. Tak seperti Tom Cruise yang kadang masih terlihat monoton, DiCaprio biasanya bermain natural. Banyak yang menilai, penampilannya disini lebih baik dari yang pernah ditampilkannya dalam What’s Eating Gilbert Grape ? yang membuatnya meraih nominasi Oscar. Yang tak kalah menarik adalah penampilan Christopher Walken. Aktor kawakan ini masih saja lihai mengolah bahasa tubuh dan mimiknya dengan meyakinkan. Salah satu puncak akting Walken dalam film ini tatkala ia (berperan sebagai ayah Frank) dan DiCaprio berbincang di restoran mewah, namun tak sadar ia teringat kisah asmara dengan istri yang telah diceraikannya. Raut muka yang pada awalnya ceria, sekejap mata berganti dengan wajah dengan mata berkaca – kaca. Perubahan itu ditampilkannya sangat mulus. Hanya aktor tertentu yang bisa bermain seluwes itu.

Catch Me If You Can “menjelma” menjadi sebuah produk yang inventif, tak kehilangan arah dan disaat bersamaan mampu menghibur dan menyentil penonton dengan beragam metafora yang disodorkan didalamnya. Jika tak ada lagi yang mengejar Frank, haruskah ia terus berlari ?

CATCH ME IF YOU CAN

Director : Steven Spielberg
Cast : Leonardo DiCaprio, Tom Hanks, Christopher Walken
Script Writer : Jeff Nathanson

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: