The Girl With The Dragon Tattoo : Mahakarya Penuh Darah dari Swedia

Swedia terhitung asing dari radar perfilman dunia. Negeri ini memang pernah punya Ingmar Bergman, namun setelah itu jarang sekali terdengar gebrakan dari sana. Tiba-tiba saja sebuah sensasi datang dari seseorang bernama Stieg Larsson. Sensasi itu berupa novel trilogi yang dikenal sebagai “Millennium Trilogy”. Kisahnya berkutat pada misteri pembunuhan yang ditulis secara ketat dan membuat pembacanya terhenyak.

Sensasi itu rupanya ditakdirkan untuk melebarkan sayap. Dari “sekedar” tulisan, kisah itu ditransfer menjadi audio-visual material. Jilid pertamanya The Girl With The Dragon Tattoo pun meluncur. Dan sebagaimana novelnya, film ini pun menyedot perhatian besar. Niels Arden Oplev bertanggung jawab menghadirkan sebuah film yang dibuat dengan pencapaian artistik sekaligus hiburan penuh ketegangan.

Sebagaimana Swedia yang dikenal dingin, begitupula yang terasakan dari The Girl With The Dragon Tattoo. Dingin, menekan, fokus menjadi kunci disini. Dan Oplev berpegang teguh pada pakem ini dari awal hingga akhir. Kisahnya sesungguhnya tak terlalu rumit, berkutat pada dua karakter utama. Tersebutlah Mikael (Michael Nykvist) yang baru saja mengalami kekalahan ketika dituduh melakukan fitnah terhadap sebuah korporasi besar. Mikael yang jurnalis mengalami kekecewaan besar. Karena ia merasa melakukan tugas jurnalismenya sesuai etika profesinya. Di lain pihak, seorang gadis bernama Lisbeth (Noomi Rapace) tahu bahwa Mikael sesungguhnya tak bersalah. Diam-diam Lisbeth mengikuti sepak terjang Mikael. Termasuk ketika Mikael menerima tugas dari Henrik Vanger (Sven-Bertil Taube) untuk melacak jejak keponakannya, Harriet, yang menghilang puluhan tahun silam.

Dan mulailah kisah ini digulirkan. Dibalik misteri hilangnya Harriet tersingkap fakta demi fakta nan mengerikan. Oplev tahu betul bagaimana membuat penonton betah duduk di kursinya. Kisah mengalir dengan intens, tak pernah kehilangan ketegangannya dan ia paham benar bagaimana membagi konsentrasi antara mengembangkan karakter yang menjadi penutur ceritanya dengan mengembangkan plot yang mengalirkan ceritanya sendiri.

Irama film yang betul-betul terjaga membuat The Girl With The Dragon Tattoo tak pernah terasa kendur sedikitpun. Oplev juga tertib dengan skenario brilian yang dipunyainya. Ia tak tergoda untuk tiba-tiba menyajikan sebuah kejutan, semuanya disimpan untuk dibuka di akhir cerita. Dan untuk keteguhan itu, penonton boleh jadi akan menaruh hormat padanya. Ketegangan bercampur aroma darah memang tersaji di sepanjang kisah, namun bukan disajikan untuk sekedar membuat penonton berteriak. Bukan itu tujuan Oplev. Ia ingin membuat kita semua, para penonton, terkesima di akhir cerita. Dan ia sangat sabar untuk mencapainya.

Pada akhirnya memang film ini menjadi pameran sebuah filmmaking yang menawan. Semua aspek untuk menjadi sebuah mahakarya dipunyainya. The Girl With The Dragon Tattoo bahkan boleh jadi punya plus lainnya, yaitu karakter utama yang sungguh menarik. Sudah lama sekali kita tak menemukan karakter semenarik Lisbeth dalam ratusan film yang beredar sepanjang tahun. Seorang gadis yang sesungguhnya cantik namun berpenampilan tomboy dengan tato di tubuh dan tindik berseliweran diantaranya. Seorang perempuan tangguh namun penuh “luka”. Seorang wanita “dingin” dengan ingatan fotografis dan ketelitian mengagumkan. Dan di tangan Rapace, karakter itu menjadi hidup. Dan tergambarkan sedemikian nyata berkat pendekatan yang dipakainya. Perlu berbulan-bulan bagi Rapace untuk masuk ke karakter Lisbeth. Dan ketika karakter itu masuk, jiwa Lisbeth pun merasuk. Hasilnya, Rapace adalah Lisbeth dan Lisbeth adalah Rapace.

Film ini juga rasanya melahirkan seorang tokoh yang kebengisannya mungkin hanya bisa ditandingi oleh Hannibal Lecter. Sayangnya memang karena kisahnya tak memberi ruang bagi eksplorasi lebih atas tokoh tersebut. Tapi ini semua adalah pilihan, konsekuensi untuk fokus pada inti kisah.

The Girl With The Dragon Tattoo hanya punya satu “lubang” yang harus ditutupi. Sepanjang film bergulir, kita tak pernah tahu apa motivasi Lisbeth sehingga mengikuti sepak terjang Mikael. Yang membaca novelnya bisa jadi tahu jawabannya, namun laiknya film adaptasi, film harus berdiri sendiri dan tak terkait lagi dengan materi aslinya. Ia harus bisa memberi semua jawaban atas semua pertanyaan yang mungkin muncul. Ataukah pertanyaan ini baru akan terjawab di jilid kedua dan ketiganya?

THE GIRL WITH THE DRAGON TATTOO

Director : Niels Arden Oplev
Cast : Noomi Rapace, Michael Nykvist, Sven-Bertil Taube
Script Writer : Nikolaj Arcel, Rasmus Heisterberg

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: