Brothers : Perang Dalam Diri, Juga Antar Saudara

Perang membawa luka. Goresan di tubuh dan di raga yang akan sulit untuk sembuh. Tak mudah untuk hilang dan tak meninggalkan bekas. Dan Afghanistan menjadi saksi ketika perang tak lagi peduli pada untuk apa dan untuk siapa perang itu berlangsung. Negara itu pun tercabik-cabik sekian waktu.

Sam (Tobey Maguire) menjadi saksi betapa perang tak hanya menghancurkan rumah dan bangunan apapun yang dilintasi rudal dan senjata berat lainnya. Ia juga menghancurkan mereka yang terlibat didalamnya. Termasuk dirinya.

Padahal hidupnya sebelumnya sungguh bahagia. Ia punya istri cantik, Grace (Natalie Portman), juga adik bandel yang disayanginya sepenuh hati, Tommy (Jack Gyllenhaal). Namun semuanya hancur karena perang.

Perang menggerogoti Sam dari dalam. Seperti sebuah infeksi yang pelan-pelan menggerus tubuhnya. Dan ia berubah menjadi orang lain. Orang yang tak dikenal keluarganya sendiri, bahkan asing bagi kedua putrinya. Ia bahkan curiga bahwa Tommy berselingkuh dengan istrinya yang setia yang membuat kedua saudara itu saling bertengkar hebat. Sam tahu bahwa sesuatu menghabisinya dari dalam. Namun ia hanya bisa berteriak. “Only the dead see the end of war. I have seen the end of War. How do I go on living?”

Brothers yang dibuat ulang dari film Denmark berjudul sama terasa dekat dengan kita karena David Benioff yang menulis skenarionya membuat karakter-karakter didalamnya multi-dimensional. Sam, Grace dan Tommy adalah orang-orang yang ada di sekeliling kita. Sam mungkin terasa asing, tapi kita bisa mengerti kesakitan yang ia rasakan. Penyutradaraan Jim Sheridan yang sudah familiar dengan tema keluarga membuatnya lebih mudah mengedepankan apa yang menjadi inti dari film ini. Yaitu tentang akibat perang pada seseorang. Jadinya memang terasa lebih personal dan kita dengan gampang dibuat tersentuh karenanya.

Jika versi Denmark dibuat dengan lebih moody sehingga lebih terasa improvisasinya. Sementara versi Hollywood ini terasa lebih tertib dan kentara betul dibuat dengan craftmanship yang terukur. Jadinya ketika telah memirsa versi yang disutradarai Susanne Bier lantas menonton karya yang dibuat Sheridan, maka nyaris tak ada gejolak didalamnya. Tak ada kejutan, semuanya serba terukur.

Lantas apa sebenarnya urgensi dari pembuatan ulang film ini? Boleh jadi karena Sheridan sendiri memang tersentuh dengan ceritanya dan memutuskan untuk membuat ulang dengan memakai bintang terkenal ala Hollywood. Ia tak berpretensi apapun menjadikan Brothers versinya semengejutkan seperti ketika Martin Scorsese membuat ulang Infernal Affairs menjadi The Departed.

Yang boleh jadi mengejutkan dari Brothers adalah Tobey Maguire. Boleh jadi dialah aktor muda potensial Hollywood yang sering diremehkan aktingnya. Padahal coba lihat aktingnya yang luwes di Seabiscuit. Dunia hanya mengenalnya ketika ia menjadi Peter Parker dengan alter ego-nya, Spiderman. Disini Maguire memanfaatkan betul karakter Sam yang bertransformasi dari percaya diri menjadi rapuh. Ini tantangan besar buatnya dan dimanfaatkannya dengan sungguh-sungguh. Seorang aktor tangguh akan mati-matian menjadi karakter yang dimainkannya. Dan Maguire memang sempurna menjadi Sam. Kita percaya bahwa ia bahagia dengan hidupnya pra-perang dan kita ngeri melihat tatapan matanya yang ’mati’ pasca perang.

Perang akhirnya memang merenggut korban lagi. Sam pun tahu bahwa hidupnya menjadi nista setelah mengalaminya di Afghanistan. (ipe/photo: istimewa)

BROTHERS

Director : Jim Sheridan
Cast : Tobey Maguire, Natalie Portman, Jack Gyllenhaal
Script Writer : David Benioff

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: