Brokeback Mountain : Dan Pegunungan Brokeback Pun Jadi Saksi …..

Sepertinya isu homoseksual tahun ini menemukan momentumnya. Tak sekedar kontroversial, film – film bertema demikian justru makin menemukan bentuknya (baca : berkualitas). Transamerica yang menonjolkan kisah wanita transeksual dengan kisah yang hidup yang demikian absurd, begitupula dengan Breakfast at Pluto menjadi penanda bahwa tema homoseksual tak lagi dihindari. Di Indonesia pun belakangan makin terbuka. Di film Realita, Cinta & Rock ‘N Roll besutan Upi Avianto, salah satu tokohnya pun digambarkan sebagai seorang wanita transeksual.

Saya sendiri sempat agak “jengah” menonton film gay. Alasannya lebih karena banyak penggambaran didalamnya, terutama yang berkaitan dengan konten seksual, terlalu vulgar (menurut ukuran saya) yang membuat saya merasa tak nyaman. Perasaan demikian pun sempat menghinggapi ketika ingin menikmati Brokeback Mountain. Apalagi Ang Lee lumayan terbiasa menggarap film dengan isu gay.

Syukurlah, Brokeback Mountain tak demikian. Saya harus angkat topi pada “kejujuran” Lee mengemas kisah sederhana ini sedemikian rupa. Saya bertahan menonton film ini tanpa merasa ngantuk sedikitpun, meski alurnya terbilang lamban. Pun saya tak jengah meski Lee sempat menggambarkan pergumulan fisik antara Ennis Del Mar (Heath Ledger) yang pendiam, dengan Jack Twist (Jake Gyllenhaal) yang lebih atraktif.

Brokeback Mountain benar – benar menyadarkan saya (mudah – mudahan juga Anda) bahwa “love is a force of nature”. Tak seorangpun bisa menghindari cinta, tak peduli ia datang pada dua lelaki jantan di tengah sergapan keindahan alam pegunungan Brokeback. Maka berangkat dari pemahaman itu, saya sadar sepenuhnya bahwa perselingkuhan antara pria beristri dengan wanita lain, sungguh bisa jadi karena dorongan itu. Juga pada Ennis dan Jack. Lee membuka mata saya bahwa kisah cinta antara dua pria ini sesungguhnya kisah cinta yang tulus, berangkat dari pemahaman kuat satu sama lain, yang membuat saya sejenak melupakan fakta bahwa keduanya adalah sesama pria ! Banyak scene memorable yang bisa mengobrak – abrik perasaan terdalam. Jika dua pria berada di tengah keterasingan, jauh dari apapun, maka cinta yang berkobar diantara keduanya pun sungguh bisa dimengerti. Saya yang bukan pendukung penganut homoseksual pun bisa lebih mengerti mereka setelah menonton film ini. Preferensi seksual itu harus saya hargai, karena mereka pun toh tak bisa mengelak dari itu, meski dinilai “tidak normal” oleh sebagian besar masyarakat. Mereka hanya mencoba jujur pada diri sendiri.

Yang membuat Brokeback Mountain sungguh bernyawa, selain karena skenario nan brilian, juga departemen akting yang mampu memberi nilai tambah. Perhatikan bahwa peran sekecil Alma (dimainkan oleh Michelle Williams) juga bisa tampil outstanding. Saya terkaget ketika Lee menggambarkan Ennis secara tak sadar (maaf !) menyodomi istrinya. Ekspresi wajah Alma luar biasa. Perempuan pasti akan tertegun melihatnya, terutama mereka yang telah menikah. Saya juga suka sekali dengan tangisan tertahan Alma menyaksikan suaminya berkecupan mesra dengan laki – laki lain. Rasanya memang akan lebih sakit jika selingkuhan suaminya itu adalah laki – laki, bukan perempuan. Saya iba padanya, yang merelakan diri terus – terusan dibohongi dan tetap tak bersuara, bahkan ketika mereka bercerai. Dan kemarahan Alma menemukan sumbunya, justru setelah Alma sudah menikah lagi. Intens betul cara Lee menggambarkan hubungan pasangan suami istri ini. Dan memperkaya konflik yang dipaparkan dalam Brokeback Mountain.

Dan Lee berani mengakhiri film ini dengan sedih. Sekaligus sadar bahwa di masa sekarang pun, masih susah dua orang laki – laki homoseksual hidup bersama dengan damai. Baik Ennis maupun Jack tahu betul itu, dan menjalani kenyataan itu dengan perih. Dan pegunungan Brokeback akan senantiasa dikenang mereka sebagai tempat indah yang menumbuhkan benih cinta keduanya.

BROKEBACK MOUNTAIN

Director : Ang Lee
Cast : Heath Ledger, Jack Gyllenhaal, Anne Hathaway
Script Writer : Larry McMurtry

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: