Bride & Prejudice : Perkawinan Hollywood dan Bollywood

Hollywood mulai berpaling ke timur ! Itu adalah topik pembicaraan yang sempat mengemuka di pabrik film dunia itu tempo hari. Maka tak heran jika tahun ini Hollywood banyak menelurkan film dengan cita rasa Asia. Ada Lost In Translation-nya yang menggunakan latar Tokyo untuk mengungkapkan perasaan sepi di tengah keramaian. Ada pula The Last Samurai yang (katanya) berpijak pada cerita sejarah Jepang masa lalu. Satu lagi, dwilogi Kill Bill yang memotret Jepang dengan segala absurditas-nya.

Kini, Gurindher Chadha yang berakar dari India mencoba meramu novel Pride & Prejudice-nya Jane Austen yang legendaris itu. Setting tempat dipindahkan, nama – nama karakter diubah, tapi bukan Chadha namanya jika tak terampil menyiasati keadaan. Maka mereka yang tak punya referensi ketika menonton Bride & Prejudice, niscaya akan ternganga ketika tahu bahwa film itu diangkat dari sebuah novel Inggris yang kental dengan ke-Inggris-annya !

Sebenarnya, kisah dalam Bride & Prejudice memang sangat universal, kalau tak mau pula dibilang klasik. Formula-nya sudah sangat dipahami oleh penggila film sehingga jika tidak melakukan perombakan disana – sini, Bride & Prejudice akan tampil biasa – biasa saja, dan akan kentara atmosfer sadurannya. Maka disini Chadha berani bermain – main dengan tipikal film India yang terkenal sangat formulaik. Yang ini mungkin dirancang Chadha untuk membuat penonton tak hanya tersenyum, tapi tertawa terbahak – bahak.

Dan memang seperti itulah Bride & Prejudice adanya. Mampu membuat penonton terpingkal – pingkal. Komedi yang tercipta dari situasi memang jauh lebih memuaskan dari sekedar komedi verbal. Siapa sangka jika di banyak adegan, Chadha bisa menyelipkan tipikal pengadeganan film India seperti berlari – larian di air mancur. Hanya saja lucunya, karena pemeran prianya adalah Darcy (Martin Henderson) yang asal Amerika. Sosok pemeran wanitanya pun istimewa, Aishwarya Rai yang main sebagai Jaya. Beberapa tokoh lain di film ini pun terbilang cukup terampil memancing tawa. Bahkan diva R & B, Ashanti yang tampil di sebuah adegan, juga bernyanyi ala cengkok India. Sangat menyegarkan keisengan Chadha kali ini.

Tapi disitu pulalah letak kelemahan Bride & Prejudice. Chadha terlalu fokus untuk menghibur (baca : membuat penonton tertawa), namun kurang mementingkan detil penceritaan. Akibatnya, ceritanya terasa terlampau lempang, terlalu mudah dikunyah dan terlalu gampang ditelan. Apalagi ceritanya terlalu gampang ditebak. Yang teringat oleh penonton selain kelucuan, adalah kehebohan pengadeganan, lagu – lagu yang “bercerita” dan itu tadi, formula film India yang memang sangat susah untuk ditepis. Tak ada bahan perenungan yang bisa dibawa pulang. Film-nya berakhir di kursi bioskop, tak perlu diperbincangkan di luar itu.

Bagi beberapa kritikus, Bride & Prejudice mungkin akan dianggap langkah mundur Chadha setelah sukses mutu dan komersial lewat Bend It Like Beckham. Mungkin pula banyak serangan akan ditujukan pada Chadha karena dianggap serampangan menafsirkan novel Jane Austen yang terkenal dengan kisah – kisahnya yang romantik. Tapi dari sisi finansial, jika dipasarkan dengan baik dan efektif, Bride & Prejudice memang berpeluang besar menggelontorkan pundi – pundi Miramax yang memproduksinya. Belum terlalu jelas, apakah ini bentuk kompromi Chadha untuk menaklukkan dunia yang lebih luas (baca : Amerika) atau ada maksud lainnya.

BRIDE & PREJUDICE

Director : Gurinder Chadha
Cast : Aishwarya Ray, Martin Henderson, Naveen Andrews
Script Writer : Paul Mayeda Berges

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: