The Social Network : Dan Semua Berawal Dari Patah Hati

Apa kesamaan antara Napster dan Facebook? Yang bisa jadi diketahui orang adalah bahwa keduanya dirintis oleh anak muda brilian. Napster yang membuat industri musik terperangah di dekade awal 2000-an dibuat oleh Sean Parker, sementara Facebook yang mengubah wajah pergaulan ala internet didirikan oleh Mark Zuckerberg. Tapi tahukah Anda bahwa kedua situs itu dibuat oleh Parker dan Zuckerberg saat keduanya dikecewakan oleh perempuan yang mereka cintai?

Siapa sangka bahwa hal sepele bisa menjadi awal dari sebuah sejarah. Zuckerberg (dimainkan dengan energi yang tepat oleh Jesse Eisenberg) adalah seorang mahasiswa Harvard yang brilian, cerdas, eksentrik namun sedikit arogan. Ia sungguh sadar dengan apa yang dipunyainya, dan hal itulah yang menjauhkan dirinya dari lingkungan pergaulan yang nyata. Dalam kehidupan sehari-hari, ia hanya punya sedikit teman. Setelah diputuskan oleh Erica (Rooney Mara), Zuckerberg marah dan mengumpat habis-habisan via blog-nya. Energi kemarahannya juga disalurkan dengan membuat situs Facemash.com yang memberi peringkat bagi gadis-gadis Harvard. Keisengan berbalut kemarahan yang berbuah sanksi akademik. Bukan karena ia disalahkan atas perbuatannya, namun lebih karena situs yang dibuatnya berhasil membuat server di kampusnya macet. Bayangkan, 22 ribu kali situs itu diklik dalam tempo 2 jam!

Peristiwa sensasional itu lantas menjadi jalan bagi bertemunya Zuckerberg dengan trio anak muda yang mengembangkan situs Harvard Connection : si kembar Tyler dan Cameron Winklevoss (dimainkan oleh 1 orang, Armie Hammer) dan Divya Nayendra (Max Minghella). Mark awalnya berniat membantu mereka, namun di tengah jalan ia mendapat ide brilian (yang serupa dengan Harvard Connection) yang kemudian dikembangkannya dengan lebih baik. Mark didukung penuh oleh Eduardo Saverin (Andrew Garfield). Dan inilah cikal bakal Facebook. Pertemuan Mark dengan Parker (Justin Timberlake) lantas menjadi episode makin terbukanya jalan bagi Facebook untuk mendunia. Dan sisanya adalah sejarah.

Dengan kisah penuh intrik di tengah anak muda yang bergejolak, rasanya memang tepat jika mengangkatnya menjadi sebuah film. Perjalanan sukses Zuckerberg yang menginspirasi banyak orang saja sudah cukup menjadi modal. Dan makin menjadi menarik ketika mulai terkuak fakta demi fakta bahwa Zuckerberg tak senaif sebagaimana yang sering diperlihatkannya. Demi Facebook, Mark bahkan berselisih paham dengan sahabat sejatinya, Wardo (alias Eduardo). Darah muda yang bergejolak juga menajdi elemen menarik sehingga kisah ini punya segala senjata untuk menjadi film yang menghibur.

Dan di tangan Aaaron Sorkin, kisah ini pun diracik. Dengan jam terbang yang tinggi, Sorkin paham betul bagaimana mengolah materi semenarik ini. Yang paling sulit barangkali buatnya adalah menempatkan dimana ia harus berpijak. Dan Sorkin memilih pijakan yang tepat. Ia tak berpihak pada siapapun dalam film ini. Ia menyalahkan Zuckerberg sekaligus membelanya. Semua abu-abu dalam karakter demi karakter yang disajikannya. Perkembangan karakter demi karakter terasa betul disana. Kisah demi kisah yang disajikannya dalam lembaran skenario juga dibuatnya dengan cermat namun tak terasa ruwet.

Lantas skenario cemerlang ini jatuh pula di tangan yang tepat. David Fincher menjadi orang yang paling bertanggung jawab atas kecemerlangan The Social Network. Fincher yang terakhir membuat penonton terkesima dengan The Curious Case of Benjamin Button itu paham dengan pendekatan yang harus diambilnya. Maka film ini pun tak jatuh dalam teori-teori ala program komputer yang membosankan. Justru dibuatnya sungguh dinamis, senafas dengan kelincahan bertutur dari skenario yang dibuat Sorkin. Pacing film dibuat cepat, diimbuhi dengan hentakan musik menggelegar dari Trent Reznor (pentolan Nine Inch Nails) dan Atticus Ross. Lengkap sudah The Social Network menjadi film yang menghibur, menyenangkan sekaligus terjaga kualitasnya.

Film memang punya caranya sendiri dalam menciptakan keajaiban. Ketika elemen demi elemen bersatu dengan baik dan menghasilkan senyawa kimia yang pas, maka hasilnya adalah sebuah karya cemerlang. Skenario brilian dan penyutradaraan yang pas juga ditunjang oleh akting para jajaran pemain muda yang bermain menawan. Eisenberg berhasil menjaga tanggung jawab besar yang diamanahkan padanya. Sebagai Zuckerberg, ia nyaris tanpa cela. Pendekatan untuk membuat karakternya menjadi lebih humanis diambilnya, dibanding dengan mencoba memparodikannya. Dan ia berhasil dengan pilihannya. Ia juga beruntung karena didampingi co-star yang juga berakting matang. Lihatlah bagaimana wajah baru Andrew Garfield (dikenal sejak tampil memikat di film Boy A) yang dipadukan dengan Timberlake (yang juga tampil lepas) menjadi sebuah kekuatan tersendiri dari film ini.

Sebuah media nasional bahkan berani memastikan The Social Network akan berbicara banyak di ajang perebutan Oscar tahun depan. Memang masih terlalu pagi untuk membicarakan itu, namun film ini memang punya semua elemen untuk diakui sebagai karya yang baik. Namun untuk memastikannya, rasanya menjadi sebuah pernyataan yang terlalu ambisius. Kita tunggu saja!

THE SOCIAL NETWORK

Director : David Fincher
Cast : Jesse Eisenberg, Andrew Garfield, Justin Timberlake
Script Writer : Aaron Sorkin

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: