Bend It Like Beckham : Gadis Penggila Bola Pemuja Beckham

Siapa bilang, kultur yang pekat dengan nuansa lokal tak mampu dinikmati penonton global ? Sudah sederet contohnya. Dari ajang festival, film The Cup yang datang dari negeri kecil, Bhutan bahkan mampu berjaya di Festival Film Cannes dan dipertunjukkan di sesi Un Certain Regard. Sementara My Big Fat Greek Wedding yang kental dengan nuansa Yunani, laris manis di box office tanpa didukung seorang bintang terkenal.

Gurindher Chadha yang telah melahirkan dua film dengan tradisi serupa, masing – masing Bhaji On The Beach dan What’s Cooking ?, terlihat masih piawai meramu dua kultur yang berbeda di film ketiganya, Bend It Like Beckham. Chadha yang berdarah India menghadirkan keluarga imigran India di tengah daerah suburban Inggris. Yang membuat unik, Chadha memperkaya ceritanya dengan sajian kisah gadis remaja India bernama Jess (Parminder K. Nagra) yang ternyata penggila bola dan pengagum David Beckham. Tak usah ditanya “kegilaan” Jess pada sosok Beckham. Kamarnya yang dipenuhi poster Beckham berukuran besar menjadi saksi. Tak hanya itu, Jess yang mahir menggocek bola dan tak kalah dengan laki – laki, ternyata mahir pula menendang bola lengkung khas Beckham.

Karena dituturkan secara komedi, maka Bend It Like Beckham jadi terasa menyenangkan untuk dipirsa. Tapi tak berarti Chadha menggarapnya menjadi tontonan yang tak punya arti. Berkat kejeliannya akan budaya moyangnya sendiri, ia pun “berani” mengaduk – aduk kisah dengan memasukkan perseteruan Jess dengan orang tuanya yang tak suka anak gadisnya berlarian di lapangan bola. Tak cuma itu, dengan cerdik Chadha pun menebarkan berbagai konflik yang berawal dari kesalahpahaman (khas formula komedi) yang memang diperhitungkannya mampu mengundang senyum. Lihatlah betapa konyolnya, calon mertua Pinky (Archie Panjabi) yang mengira Jess sedang berciuman dengan seorang pria di pinggir jalan. Padahal, Jess tengah bercanda dengan teman wanita satu timnya, Jules (Keira Knightley).

Demi memuaskan penonton belia, maka Chadha pun merasa perlu berkompromi dengan menghadirkan “bizarre love triangle’, cinta segitiga antara Jess, Jules dan pelatih mereka, Joe (Jonathan Rhys-Meyers). Nah, inilah titik lemah Bend It Like Beckham. Bagian ini yang membuat ritme cerita jadi mengendur dan mengecewakan penonton yang bosan dengan tayangan formulaik. Apalagi dengan penggampangan Chadha menyelesaikan cerita, mungkin karena dikejar durasi. Jadinya konflik antara Jess, Jules dan Joe hanya terasa di permukaan, padahal mestinya lebih bisa digali.
Apapun, Bend It Like Beckham jadi terasa menyegarkan berkat pemilihan tema yang unik. Serupa dengan The Cup, Bend It Like Beckham pun rasanya dengan mudah akan digandrungi penggila bola. Apalagi sebagian besar dari mereka yang suka bola, boleh mengagumi wajah cantik Keira Knightley yang masih polos di film ini, juga penampilan serombongan tim cewek yang garang di lapangan, namun tak kalah feminine di luar arena.

Begitupun, Bend It Like Beckham boleh dikenang sebagai film dengan spirit perempuan yang luar biasa. Karakter – karakter utamanya adalah sosok perempuan tangguh, apalagi Jess yang hidup di kultur budaya timur yang sarat dengan berbagai rambu – rambu yang telah mengakar, namun pada akhirnya mampu mendobrak “pagar pembatas” budaya yang selama ini diyakini orang tuanya. Romantisme Bend It Like Beckham terasa betul berkat pesan agar seseorang mengejar cita – cita setinggi – tingginya.

BEND IT LIKE BECKHAM

Director : Gurinder Chadha
Cast : Parminder Nagra, Keira Knightley, Jonathan Rhys-Meyers
Script Writer : Gurinder Chadha, Guljit Bindra

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: