Ash Wednesday : Peringatan Kematian Sean Sullivan

Entah kenapa, Hell’s Kitchen sangat sering diangkat jadi setting sebuah film, utamanya film berlatar mafia. Tak peduli dari dua puluh tahun sebelumnya hingga saat ini, ketertarikan sineas tak berkurang sedikitpun. Padahal sudah terlalu banyak yang diekspos, mulai dari Public Enemy hingga Mean Streets, Sleepers hingga Ash Wednesday. Yang disebut terakhir adalah produk teranyar yang mengedepankan borok – borok daerah pemukiman dengan tingkat kriminalitas tinggi itu.

Ash Wednesday bertopang pada kisah Frances Sullivan (Edward Burns) yang menolong pelarian adiknya, Sean Sullivan (Elijah Wood) setelah 3 tahun bersembunyi. Sean menjadi tersangka pembunuh 2 orang yang ditembaknya hingga tewas. Karenanya, banyak pihak yang mencarinya. Namun berkat kakaknya, Sean bisa “ditolong”. Caranya, dengan menyebarkan berita bahwa Sean telah meninggal. Orang – orang pun dengan gampang percaya dibuatnya.

Masalah timbul ketika Sean yang tak tahan terkurung di persembunyiannya selama 3 tahun, menyelinap sembunyi – sembunyi. Tepat disaat Ash Wednesday (Rabu abu), persis 3 tahun kepergiannya. Seseorang yang sempat berbicara di bar dengannya mengabarkan pada orang – orang bahwa Sean masih hidup. Dan gegerlah seantero Hell’s Kitchen. Juga Grace (Rosario Dawson), istri Sean yang telah memberinya putra mungil. Sayangnya, keinginan Sean memulai hidup baru tidak berjalan mulus. Pun masih banyak pihak – pihak yang membantu Frances menyiapkan pelarian kedua bagi adiknya ini.

Selain sebagai aktor, Edward Burns juga dikenal sebagai sutradara. Namun belum banyak karyanya yang “berbicara”. Tidak juga karya termutakhirnya, Ash Wednesday. Film ini tak mencoba mengambil sudut pandang yang “beda” dari film sejenis. Masih sama resepnya : kekuatan persaudaraan, bahu membahu sesama teman hingga umpatan sumpah serapah yang berserakan di seluruh film. Jadi tak mengherankan jika akhirnya bisa begitu gampang ditebak, terlebih bagi penonton yang menyukai jenis film seperti ini. Pun jalan ceritanya mengalir terlalu lambat, terlalu banyak “omong kosong” yang diselipkan dalam dialog hingga membuat tokoh – tokoh pendukung menjadi tidak penting. Juga tak ada penggalian karakter. Sampai film berakhir, bisa jadi penonton tak bakalan tahu alasan Sean membunuh 2 orang tersebut. Rupanya, Burns lebih ingin “mengangkat” Hell’s Kitchen dengan omongan kasarnya. Dan well, mungkin itu kesan yang didapat oleh sebagian besar penonton setelah menonton film ini.

Untungnya, Ash Wednesday masih bisa dipujikan atas tone penggunaan warna yang tidak “biasa” (sangat efektif memunculkan kesan kumuh) yang dipergunakan secara terus menerus sepanjang film. Juga musik yang berdentam – dentam dan kadang dengan sengaja direpetisi. Repetisi yang sesungguhnya bisa membosankan, tapi entah dengan cara bagaimana, disini Burns membuatnya nyaris seperti “hipnotis”. Diatas semuanya, Elijah Wood mesti diacungi jempol atas keberaniannya menerima peran yang lain dari biasanya. Terlepas dari aksen yang kurang kasar, sebagaimana yang ditampilkan oleh pemain lain, Wood toh tampil tak terlalu jelek.

ASH WEDNESDAY

Director : Edward Burns
Cast : Elijah Wood, Edward Burns
Script Writer : Edward Burns

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: