As It Is In Heaven : Alunan Musik Dari Surga

Music is magic ! Musik memang punya pengaruh sedemikian rupa. Bahkan ada masa dimana perusahaan rekaman berbondong – bondong memproduksi CD khusus untuk ibu hamil dengan tujuan agar sang jabang bayi bisa tumbuh menjadi anak nan cerdas. Di film pun, musik memegang peran penting. Sebuah film yang berangkat dari materi yang baik pun bisa dirusak oleh musik yang tak pas dengan mood dari filmnya sendiri. Lantas, bagaimana jika musik itu sendiri yang menjadi tema dari sebuah film ?

Mari kita tengok As It Is In Heaven. Produksi Swedia tahun 2004 ini berangkat dengan premis menarik. Ini kisah tentang konduktor musik dunia yang muak dengan dunianya dan memutuskan untuk menyusuri kampung halamannya.

Daniel yang terkena serangan jantung memutuskan untuk meninggalkan dunia yang membesarkan namanya. Ia rupanya tak kuat menahan beban berat yang terlanjur berada di pundaknya. Maka ia putuskan untuk kembali ke kampung halamannya. Tapi musik memang punya daya magis. Di kota kecil itu, kembali ia dipertemukan dengan musik, yang kembali membuat jiwanya melayang di udara.

Daniel tergerak untuk membantu paduan suara gereja. Dari grup yang hanya bisa menyanyi, Daniel mengubahnya menjadi koor dengan harmonisasi yang melantunkan nada bagaikan dari surga. “Campur tangan” Daniel tak hanya sampai disitu. Kehidupan beberapa anggota paduan suara itu pun ikut berubah, pun Daniel yang belajar untuk mencintai seseorang.

As It Is In Heaven adalah sebuah parade rekonsiliasi. Juga tentang membuka diri pada orang lain. Kay Pollak sebagai sutradara menyodorkan banyak pelajaran hidup disini. Baik Daniel maupun para anggota paduan suaranya sama – sama saling mempelajari, juga saling memaafkan.

Pollak berhasil membuat cerita yang sebenarnya mudah ditebak ini menjadi sebuah tontonan yang menghanyutkan. Diisinya drama sepanjang 132 menit itu dengan konflik demi konflik. Memang tak semuanya mengalir lancar, karena ada beberapa diantaranya yang terasa over dramatic. Tapi kita sejenak melupakan itu ketika As It Is In Heaven membuai kita dengan mimpi untuk meraih cita – cita yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Film sejenis ini memang inspiratif, biasanya menggerakkan hati penonton untuk merenung. Pun As It Is In Heaven yang mengurai beragam hubungan : kisah sang konduktor musik dengan gadis setempat, episode kemunafikan pastor terhadap istrinya hingga rintihan seorang istri yang mendapat perlakuan kasar sepanjang waktu dari sang suami. Tak ubahnya dengan telenovela yang punya cerita berkelok – kelok, namun As It Is In Heaven dituturkan dengan baik sehingga ke-klise-annya pun tak terasa sebagai suatu kelemahan besar.

Ketika film hampir berakhir dengan adegan sang agen yang mengharumkan nama Daniel bertanya kepadanya, “ adakah kamu berhasil mencapai hidup yang kamu impikan ?”, maka jawabannya sudah pasti ditebak oleh penonton. Karena musik memang sudah menjadi bagian dari hidup itu sendiri. Ketika ia berdiri sebagai jiwa yang bebas, maka ketika itulah musik membahagiakan, tanpa diembel – embeli materi atau apapun.

AS IT IS IN HEAVEN

Director : Kay Pollak
Cast : Michael Nyqvist, Frida Hallgren, Helen Sjoholm
Script Writer : Anders Nyberg, Ola Olsson

Iklan
Comments
One Response to “As It Is In Heaven : Alunan Musik Dari Surga”
  1. Obient berkata:

    Nice review 🙂
    Salah satu film fave saya 😀 .. entah kenapa, padahal ceritanya sederhana..
    Lagunya enak yg dinyanyikan Gabriella ..
    Sayang film ini kalah dengan Mar Adrento tuk kategori Best Foreign Language pada tahun yg sama.. Mar Adrento bagus sih, cuma As It Is In Heaven lebih mengena tuk saya ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: