Life As We Know It : Kisah Cinta-Benci Plus Seorang Bayi

Hollywood diakui dunia sebagai kiblatnya perfilman. Begitupun, tak seorangpun yang bisa memastikan apakah sejumlah genre juga lahir dari kawasan itu. Seperti halnya komedi romantik yang rajin wara-wiri di layar lebar di berbagai sudut dunia. Namun pecandu film rasanya akan mengangguk setuju jika kita menyatakan bahwa Hollywood sudah punya formulanya sendiri dalam menggarap genre itu. Sebasi apapun ceritanya, hampir selalu ada penyajian semenarik mungkin sehingga penonton bisa jadi melupakan bahwa kisah yang disaksikannya itu sebenarnya sudah ribuan kali disajikan.

Life As We Know It adalah salah satu contoh bahwa kisah cinta-benci yang menjadi rumus utama komedi romantik masih bisa dibuat watchable. Atas nama “kesegaran”, maka dipasanglah seorang bayi dalam cerita ini. Premis berangkat dari sebuah ketidakmungkinan : seorang laki-laki yang sekilas terlihat hanya ingin bersenang-senang dengan hidupnya dipersatukan dengan seorang perempuan dengan karir sukses dalam sebuah tragedi. Syahdan, Holly (Katherine Heigl) dan Eric (Josh Duhamel) harus menerima kenyataan pahit nan mengagetkan. Sahabat keduanya meninggal akibat kecelakaan mobil. Belum habis keterkejutan mereka, kali ini mereka harus menerima kenyataan bahwa sahabat mereka itu mempercayakan pengasuhan putri mereka yang belum lagi genap setahun.

Sophie (dimainkan oleh kembar tiga : Alexis, Brynn dan Brooke Clagett) tak pernah ada dalam rencana keduanya. Namun apa boleh buat, misi yang tampaknya mustahil ini harus dijalankan. Maka mulailah hari demi hari mereka jalani dengan segala keruwetannya. Life As We Know It mencoba mengeksplorasi kisah yang sesungguhnya berpotensi menimbulkan simpati dari penonton itu. Penonton pun terkekeh melihat bagaimana Holly dan Eric harus beradaptasi dengan “bayi” mereka. Terlebih mereka sesungguhnya bukan sepasang kekasih. Penonton perempuan melihat diri mereka dalam Holly yang walaupun terlihat penuh kasih sayang tetap saja dibuat tergagap dan panik oleh seorang bayi. Sementara penonton laki-laki (yang mungkin menemani kekasih ketika menonton film ini) menyaksikan kekakuan hingga kekagetan dalam diri Eric. Relasi ini berhasil dibangun dengan baik oleh Greg Berlanti sebagai sutradara sehingga memunculkan empati dari penonton. Tapi Berlanti gagal menjadikan Sophie sebagai bagian dari upayanya membangun kedekaatan dengan penonton. Karena disini bayi lucu ini seakan hanya menjadi aksesori, tak menjadi bagian integral dari kisah Holly dan Eric.

Begitupun, hal-hal formulaik jika dibuat dengan pendekatan yang pas tak akan terbuang sia-sia sebagai produk yang tak meyakinkan. Life As We Know It sebasi apapun tetap menjadi sebuah komedi romantik yang menarik. Rumus-rumusnya mungkin sudah dihafal diluar kepala oleh pecandu film, namun elemen-elemen itu jika dikonstruksikan dengan bahan yang tepat masih bisa membuat penonton terharu, tersenyum dan merasakan kehangatan di dada. Berlanti membumbui filmnya dengan editing yang pas, musik yang mengimbuhi di saat yang tepat hingga akting yang meski tak istimewa namun juga tak bisa dibilang jelek.

Kunci utama komedi romantik yang berhasil selain (tentu saja) pada skenario yang baik, juga pada akting dan reaksi kimiawi antara dua pemeran utamanya. Heigl sendiri sepertinya ingin mengambil tempat dari Sandra Bullock yang pernah jadi ratu komedi romantis. Namun Heigl tak secanggih Bullock dalam memilih peran. Juga tak selihai peraih Oscar itu dalam memainkannya. Sepintas peran hingga olah tubuh Heigl dalam film ini setipe dengan yang diperlihatkannya dalam The Ugly Truth. Untuk Life As We Know It, bolehlah kita tolerir. Namun setelah ini, rasanya kita ingin melihat Heigl dengan peran yang berbeda.

Jika Heigl terlihat malas mengeksplorasi perannya, maka Duhamel justru memperlihatkan kestabilan dalam berakting. Ia yang juga menarik perhatian dalam When In Rome (yang juga bergenre komedi romantik) bisa memperlihatkan seni akting yang pas, tidak lebih dan tidak juga kurang. Dan pada akhirnya dalam banyak adegan, Duhamel menyelamatkan Heigl yang terlihat monoton. Antisipasi Duhamel pada Heigl pun memperlihatkan bahwa keduanya punya reaksi kimiawi yang menarik ketika dipersatukan dalam satu layar.

Life As We Know It bisa menjadi pijakan, baik bagi Heigl maupun bagi Duhamel untuk menguasai genre komedi romantik. Life As We Know It juga bisa menjadi pijakan bagi mereka yang dihadapkan dalam situasi yang kurang lebih sama dengan yang dialami Holly dan Eric. Apapun, keegoisan diri akhirnya bisa dikalahkan oleh kasih sayang pada si buah hati.

LIFE AS WE KNOW IT

Director : Greg Berlanti
Cast : Katherine Heigl, Josh Duhamel, Alexis/Brynn/Brooke Clagett
Script Writer : Ian Deitchman & Kristin Rusk Robinson

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: