A Guide To Recognizing Your Saints : Perjalanan Menengok Masa Lalu

Ketika memproduksi film, saya termasuk orang yang percaya bahwa emosi dalam cerita menjadi unsur terpenting yang menjadikan film berarti bagi penikmatnya. Maka saya termasuk orang yang bisa memaafkan beragam spoiler, misalnya baju yang tak continuity, ketika adegan tersebut mendapatkan emosinya.

Begitu pula yang saya rasakan ketika menonton A Guide To Recognizing Your Saints. Sebuah film yang sangat emosional berkat pemahaman sutradara dan penulis cerita atas situasi yang direkamnya, juga berkat pameran akting dari pemeran karakter – karakter didalamnya. Sutradara dan penulis cerita, Dito Montiel paham betul bagaimana memperlakukan film ini karena sesungguhnya film ini adalah kisahnya sendiri ketika masa remaja. Kisahnya itu terlebih dulu ditulisnya menjadi sebuah buku, dan akhirnya ke layar lebar.

Dito muda (Shia LaBeouf) dengan berani meninggalkan kampung halamannya yang dirasakannya tak akan bisa melindungi dirinya dari berbagai kejadian tak terduga yang sangat mungkin menimpanya di masa depan. Ketika banyak film menganggap bahwa meninggalkan kampung halaman untuk mencari kehidupan yang lebih baik adalah sebuah aksi heroik, maka aksi Dito justru dianggap tak lebih dari tindakan bodoh dan pengecut. Tak kurang bahkan ayahnya sendiri, Monty (Chazz Palminteri, dengan penampilan terbaiknya), mengutuknya ketika berani meninggalkannya dan Flori (Dianne Weist), ibu Dito di kampung halamnnya, Astoria, Queens.

Sejak awal, Montiel sudah mencoba memperlihatkan bahwa ada komunikasi yang tak jalan antara dirinya dengan ayahnya. Dito merasa bahwa ayahnya tak pernah mencoba memahami dirinya. Untungnya, A Guide To Recognizing Your Saints tak dibiarkan Montiel menjadi film yang over sentimental hanya karena ia merasakan “kesakitan” luar biasa akibat perlakuan ayahnya. Tapi bagi penonton yang punya masalah serupa dengan Dito, akan merasakan kesakitan luar biasa ketika menonton film ini. Apalagi ketika memirsa adegan pertengkaran hebat antara Dito muda dengan ayahnya, pun ketika Dito sudah dewasa dengan ayahnya. Saya tak malu mengakui bahwa ketika menonton film ini, saya merasakan mata saya sudah basah begitu saja. Mungkin karena emosi film begitu terasa real bagi saya.

Maka meski editing film tak sepenuhnya mulus, saya tetap menganggap film ini sebagai sebuah film yang pantas diapresiasi lebih. Meski sudah ratusan film membahas persoalan serupa, Montiel masih bisa mendorong persoalan yang tipikal ke batas terjauh untuk bisa dieksplorasi lebih baik. Dan keberhasilan Montiel inilah yang membuat penonton bisa memaafkan beberapa poin lemah dari film yang menjadi debutnya ini.

Ketika film berfungsi tak hanya sebagai hiburan, tapi juga sebagai pencerahan, perekat hubungan yang tak telah lama putus, saya menganggap A Guide To Recognizing Your Saints sebagai salah satu yang terbaik. Montiel membagi pengalaman pahit dengan ayahnya secara mengesankan. Dan justru bagi Anda yang belum pernah mengalaminya, bisa menjadikannya sebagai cermin. Bagi saya pun, meski hubungan dengan ayah sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, tetap menganggap bahwa sudah sepatutnya komunikasi antara ayah – anak harus tetap terus terjalin. Saya bisa mengerti mengapa Monty berlaku demikian kepada Dito, karena saya percaya bahwa orang tua punya cara sendiri – sendiri dalam menyampaikan rasa sayang pada buah hatinya. Dan itulah cara yang dikenal Monty yang tak dimengerti oleh Dito. A Guide To Recognizing Your Saints menjadi pemandu agar Anda tak mengalami hal itu.

A GUIDE TO RECOGNIZING YOUR SAINTS

Director : Dito Montiel
Cast : Robert Downey Jr, Shia LaBeouf, Chazz Palminteri
Script Writer : Dito Montiel

Iklan
Comments
One Response to “A Guide To Recognizing Your Saints : Perjalanan Menengok Masa Lalu”
  1. Wirda Suzli berkata:

    benar-benar film yang luar biasa…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: