8 Mile : Banyak Jalan Menuju Sukses

Sinetron produksi dalam negeri saat ini mencapai titik terendah dari segi mutu. Bisa jadi karena sinetron kini telah jadi industri, sehingga mutu tak lagi menjadi yang utama. Karena kejar tayang, akhirnya kualitas cenderung terpinggirkan. Maka berkacalah pada sinetron yang nyaris seragam dengan benang merah : menjual mimpi. Sebagian besar sinetron mengedepankan setting rumah megah, pemain yang hanya bermodal wajah ganteng dan cantik namun tak paham dasar akting, yang tampil dengan dandanan wah, mobil mentereng dan tentengan ponsel keluaran mutakhir. Seakan Indonesia adalah negara super kaya yang sebagian besar penduduknya tajir. Mengapa kita tak malu dan melihat sineas dari negara lain, katakanlah Amerika yang beberapa diantaranya berani memotret dengan jujur wajah lingkungannya yang tak selamanya indah. Curtis Hanson yang pernah mengejutkan dengan karyanya LA Confidential, membingkai wajah Detroit di tahun 1995 dengan pas, tanpa berusaha menyembunyikan borok – boroknya.

Sejak layar dibuka, 8 Mile sudah seakan mengatakan : jangan berharap melihat dunia serba nyaman dan riang ! Karena itulah kenyataan yang terjadi, seperti yang dialami Jimmy Smith Jr a.k.a Rabbit (Eminem). Obsesinya menjadi penyanyi rap tak luntur, walaupun ia berkulit putih. Susah membayangkan perjuangannya memasuki dunia yang didominasi kaum kulit hitam. Begitupun, Rabbit tak gentar dan pantang menyerah. Dengan tekun ia mengasah bakatnya yang luar biasa, dibantu oleh gengnya, Third One Three yang dikomandoi Future (Mekhi Phifer). Disaat yang bersamaan, ia juga mesti mengatasi kemelut hidup bersama ibunya, Stephanie (Kim Basinger) dan adiknya semata wayang, Lily. Sayangnya, Rabbit “dikaruniai” sifat yang cenderung temperamental yang membuatnya sering terlibat masalah. Kehadiran Alex (Brittany Murphy) sedikit demi sedikit meningkatkan semangatnya untuk mewujudkan mimpi besarnya : menerobos dunia rekaman.

Sungguh mengasyikkan menyaksikan 8 Mile yang mengalir lancar sejak awal. Curtis Hanson dengan berbekal keterampilan plus pengalaman, pandai menjaga ritme dan seakan membiarkan cerita karya Scott Silver ini “berbicara” sendiri kepada penontonnya. Dan penonton memang bisa merasakan keterkaitan dengan tokoh Jimmy, memahami perjuangannya siang malam mengumpulkan uang demi membiayai demo rekaman. Penonton mana yang tak simpatik dengan kegigihannya yang tak kenal lelah. Tentu, ini juga hasil kerja keras Eminem yang untuk pertama kalinya bermain film. Banyak yang sinis dengan keberhasilan pemilik nama asli Marshall Mathers III ini dalam menokohkan Rabbit. Menurut mereka, Eminem dengan mudah masuk ke karakter tersebut karena tokoh Rabbit ibarat kembar identik dengan dirinya. Padahal sesungguhnya, justru sangat sulit memerankan diri sendiri. Jauh lebih gampang memerankan karakter yang jauh berbeda dengan sifat asli sang pemain. Di 8 Mile, Eminem hanya bermain wajar sehingga mendapatkan penggambaran yang pas, yang oleh beberapa pihak memandangnya sebagai pencapaian akting yang bagus untuk ukuran seorang pendatang baru. Atributnya sebagai superstar betul – betul dilepaskannya sehingga tak tercium lagi keberadaan Eminem di film ini. Yang ada hanyalah Rabbit yang seorang pekerja keras. Bandingkan dengan sinetron kita dimana para bintangnya kadang berpenampilan tak pantas untuk karakter tokoh yang dimainkannya. Adakah seorang pengamen dengan wajah mulus terawat dan rambut sebahu yang kentara betul sering di-rebonding ala Teuku Zacky ? Inilah yang mungkin bisa kita sebut sebagai “pelecehan logika”. Di 8 Mile, Kim Basinger (peraih Oscar lewat LA Confidential) pun rela – rela saja tampil kumuh sebagaimana tokoh yang diperankannya. Dengan demikian, penonton pun meyakini keberadaannya di layar.

Walaupun dikonsep sebagai film hiburan, tak berarti 8 Mile mengacuhkan mutu. Dari luar sepertinya film ini hanya menawarkan keriuhan dunia rap bawah tanah ala Detroit, padahal banyak pesan moral yang disisipkan didalamnya tanpa kita sadari. Kita boleh jengah dengan penggunaan kata f**k dan s**t yang diucapkan hingga ratusan kali, namun kita juga tak bisa begitu saja memalingkan muka dari kenyataan bahwa 8 Mile mengobarkan semangat juang dan kerja keras demi mencapai sesuatu. Bahwa ada dunia “lain” yang diisi oleh para pengangguran, orang – orang yang akrab disapa “pecundang” dan sebagainya. Dunia tak hanya diisi oleh orang – orang berada saja dengan pameran kekayaan yang kadang membuat sebagian orang merasa muak, bukan karena iri tapi karena tak suka dengan cara mereka menunjukkannya. Jadi, untuk para orang tua, jangan takut membawa putra – putrinya ke bioskop untuk menyaksikan film ini. Diluar penggunaan kata – kata umpatan dan beberapa adegan yang mengarah ke seksual, film ini bisa memberikan perspektif pada mereka, bagaimana mengarungi hidup dengan berjuang sekuat tenaga. Dan dengan keyakinan, impian tersebut bisa tercapai.

8 MILE

Director : Curtis Hanson
Cast : Eminem, Brittany Murphy, Kim Basinger
Script Writer : Scott Silver

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: