21 Grams : Kisah Tiga Tokoh Yang Tersusun Bagaikan Puzzle

Sempat menonton Amores Perros (2001) ? Jika belum, sebaiknya nikmati dulu film yang bertaburan penghargaan itu sebelum memirsa 21 Grams. Paling tidak, bisa menjadi pijakan awal buat memahami kompleksitas cara bertutur seorang Alejandro Gonzalez Inarritu. Jelas – jelas tercermin dari dua karyanya tersebut, Inarritu bukanlah sineas yang patuh pada pakem cara bertutur “normal” dengan struktur yang tersusun dengan tertib. Kalau Anda terkaget – kaget menyaksikan Amores Perros yang sekilas terlihat memusingkan, maka bisa dibayangkan reaksi Anda jika menonton 21 Grams. Perlu lebih dari sekedar bersabar untuk mencerna film yang disusun bagaikan kepingan puzzle ini.

Padahal, Guillermo Arriaga (yang juga membidani Amores Perros) yang diserahi tugas menulis skenario hanya ingin mengungkap kisah 3 orang biasa. Yang luar biasa adalah jalan hidup yang melingkupi ketiganya. Paul Rivers (Sean Penn) yang seorang profesor matematika namun sakit – sakitan, pada suatu ketika harus menerima kenyataan bahwa ia butuh bantuan pencangkokan jantung. Mukjizat terjadi dimana ketika waktu terus bergulir, Paul mendapatkan donor dari seorang pria yang tewas akibat kecelakaan mobil. Belakangan diketahui, donor tersebut adalah suami dari Christine Peck (Naomi Watts). Merasa iba dengan tragedi yang menimpa ibu muda yang juga harus merelakan kehilangan dua putrinya dalam kecelakaan yang sama itu, Paul nekat menemui Christine untuk menunjukkan rasa simpatinya. Christine yang pada mulanya dingin bagaikan es, luluh juga oleh perhatian dan kesabaran Paul. Hingga suatu ketika Paul mengaku bahwa dialah donor penerima jantung Michael, suami Christine. Sempat kenyataan ini membuat Christine terhenyak dan berang, namun tak urung perasaan cintanya pada Paul sanggup mengikisnya. Di tengah masa berkabungnya, ia bahkan meminta Paul membunuh Jack Jordan (Benicio del Toro), tersangka pembunuh suami dan kedua putrinya itu.

Nah, sekali lagi ketika membaca ringkasan cerita diatas, bayangkanlah kisah tersebut disusun bagaikan puzzle, dengan teknik bercerita non linear, dengan editing yang tak bisa ditebak arahnya. Maka penonton yang tak punya referensi memirsa Amores Perros, boleh jadi bakal pusing dan tak tahan untuk sedikit bersabar. Apalagi, kalau mau dianalogikan, 21 Grams adalah Amores Perros versi “berat”. Rasanya Amores Perros jadi tak ada apa – apanya dibandingkan film ini. Amores Perros boleh jadi ringan karena Inarritu mengemasnya menjadi 3 sub bagian cerita, tapi di 21 Grams boleh jadi banyak penonton film “mainstream” yang geram dengan “kejahilan” Inarritu mengubek – ubek adegan sehingga sepintas terlihat tak sinkron satu sama lain. Bagaimana tidak, di adegan sebelumnya diperlihatkan sosok Paul yang sudah bersimbah darah, tiba – tiba di adegan berikutnya kamera menyorot sosok Paul masih sehat walafiat.

Tapi rasanya, keputusan membuat film dengan editing njlimet seperti ini bukan gaya – gayaan Inarritu. Lebih pada kebutuhan cerita itu sendiri. Dan disitulah letak kejeniusan Inarritu mengolah skenario sedemikian rupa. Seperti Amores Perros yang sudah ketahuan duluan endingnya justru di awal film, demikian pula 21 Grams. Hanya saja, kok bisa – bisanya penonton masih dikejutkan dengan tak hanya satu, tapi dua atau bahkan lebih kenyataan yang akan tersibak ketika menit demi menit berlalu. Pertaruhan besar dibuat Inarritu dengan meletakkan ending di awal film, namun berkat keterampilannya, ia toh masih bisa membuat penonton berdecak kagum, terperangah, bahkan takjub !

Yang mungkin melekat pada penonton “mainstream” hanyalah kekuatan akting trio Naomi Watts – Sean Penn – Benicio del Toro. Watts melengkapi keberhasilan aktingnya di Mulholland Drive dan beroleh nominasi Oscar pertamanya. Penn bermain sama baik dengan yang diperlihatkannya dalam Mystic River yang membuatnya dianugerahi Oscar. Sementara del Toro nyaris lagi merenggut Oscar. Ensemble akting ketiganya rasanya menjadi pameran akting paling menarik yang diperlihatkan dari film yang edar sepanjang tahun lalu.

Dari sekian banyak kesamaan Amores Perros dan 21 Grams, yang paling membangkitkan rasa ingin tahu adalah penempatan adegan kecelakaan mobil sebagai pertautan antara tokoh – tokoh utama. Atau dengan kata lain, adegan kecelakaan-lah yang “menggerakkan” karakter dalam kedua film. Entah ini disengaja atau tidak. Tapi kalaupun disengaja, mungkin kita bisa “bermimpi” film Inarritu berikutnya masih berpijak pada formula sama, namun dengan kemasan yang lebih dahsyat !

21 GRAMS

Director : Alejandro Gonzalez Inarritu
Cast : Sean Penn, Naomi Watts, Benicio del Toro
Script Writer : Guillermo Arriaga

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: