Eat Pray Love : Sebuah Kisah (Dan Film) Egoistik

Eat Pray Love membuat harum nama Elizabeth Gilbert, seharum nama J.K. Rowling ketika mengeluarkan serial Harry Potter atau Stephanie Meyers ketika membesut serial Twilight. Namun Gilbert boleh jadi lebih unggul bagi perempuan urban masa kini berkat kisahnya yang terasa dekat dengan kekinian dan kenyataan yang banyak mendera kaum wanita modern. Gilbert seolah menjadi “Kartini” baru yang mendobrak kebuntuan ketika perempuan menemukan kehampaan hidup ketika berumah tangga.

Awalnya ia bermimpi seperti perempuan kebanyakan. Menikah, punya rumah besar dengan suami tampan dan karir yang cemerlang. Tapi suatu hari, kebosanan melanda. Seketika ia merasa hidupnya hampa. Gilbert pun memutuskan untuk menemukan dirinya sendiri (yang entah kapan bermula hilangnya). Ia menjelajah dari Italia, India hingga berujung di Indonesia.

Ketika membaca novelnya, hampir semua orang boleh jadi menyadari bahwa kisah Gilbert adalah sebuah kisah egoistik. Semua tentang dirinya, seakan alam semesta berpusat di dirinya sendiri. Dan itupula yang tersaji dalam filmnya. Liz (Julia Roberts) mendepak Stephen (Billy Crudup) dari kehidupannya. Ketika perkawinannya hancur dan ia menemukan pengganti Stephen yaitu David (James Franco), ia kembali menendangnya keluar dari hatinya. Episode ini menjadi awal dari petualangannya menjelajahi separuh dunia untuk memanjakan dirinya sendiri.

Boleh saja kita dibuat terpukau ketika Gilbert menceritakan jeritan hatinya dalam berpuluh-puluh halaman dalam novelnya. Bisa saja kita dibuat trenyuh ketika Gilbert dengan segala daya upayanya mencoba memulihkan diri dalam lembaran demi lembaran halaman dalam novelnya. Namun semangat itu harus ditransformasi sedemikian rupa dan tak diterjemahkan mentah-mentah ketika menjadi bahasa visual. Dan itulah yang menjadi problem terbesar dari Eat Pray Love. Kisah yang egoistik ini juga menjadi film yang egoistik. Kita hanya diajak melihat Gilbert yang terluka tanpa diberi kesempatan untuk mengerti apa yang membuatnya merasa demikian. Dan kita pun akhirnya hanya menjadi penonton, menjadi teman curhat Gilbert selama 135 menit.

Latar yang luar biasa dari kisah ini juga tak dimanfaatkan secara maksimal oleh Ryan Murphy yang duduk di kursi sutradara. Sekali lagi “kesalahan” Murphy karena menjadikan kita, hanya sebagai penonton, untuk sekedar melihat tanpa perlu merasakan. Kecantikan Italia, eksotisme India hingga panorama menakjubkan dari Bali hanya hadir seperti sederet kartu pos nan cantik. Eat Pray Love tak membuat kita merasa berada di Italia, India dan Bali.

Karena kesalahan pijakan dalam skenario pula yang membuat trio aktor handal hanya terlihat seperti pajangan disini. Crudup, Franco bahkan Javier Bardem seakan hanya sebagai “tim hore” bagi Roberts. Bahkan Roberts pun tampil tak stabil. Mungkin karena Roberts tak bisa merasakan keegoisan Gilbert (dalam kehidupan nyata, Roberts adalah istri bahagia dengan 3 buah hati nan lucu)? Bisa jadi.

Yang paling terasa dari Eat Pray Love adalah jalinan kalimat yang menghamburkan begitu banyak filosofi. Begitu banyak quote yang bertaburan disana. Jadinya seperti menonton self-help book. Padahal film sesungguhnya harus bertitik tolak pada “showing the story”, bukan sekedar “telling the story”. Alangkah menawannya film ini ketika filosofi demi filosofi yang kuat didalamnya dihadirkan melalui serangkaian adegan, bukan melalui mulut para karakternya. Akan terasa lebih menohok dan tak terdengar seperti berceramah.

Apa boleh buat, kisah yang egois ini pun harus pasrah pada nasibnya untuk menjadi sebuah film yang sama egoisnya.

EAT PRAY LOVE

Director : Ryan Murphy
Cast : Julia Roberts, James Franco, Javier Bardem
Script Writer : Ryan Murphy, Jennifer Salt

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: