A Barefoot Dream : Sejumput Mimpi Untuk Timor Leste

Dari seorang kreator asal Bhutan, sebuah negeri yang terasa asing dan jauh bagi banyak orang, lahir sebuah kreasi mengagumkan. Khyentse Norbu melahirkan The Cup yang mungkin bisa membuat penggemar sepakbola di seluruh dunia dengan lantang berteriak “agamaku itu sepakbola!” Film yang bersetting di sebuah biara yang jauh dari hiruk pikuk duniawi itu mau tak mau harus mengakui bahwa sepakbola bisa menjadi pemersatu, dan akhirnya bisa membuat kita “menyembah” padanya.

Ide besar sepakbola sebagai pemersatu terasa kuat dalam film produksi Korea berjudul A Barefoot Dream. Tak hanya sebagai pemersatu, sepakbola juga menjadi simbol dari bangkitnya seseorang dari kegagalan demi kegagalan yang mengiringi hidupnya. Sepakbola pun menjadi harapan, tumpuan impian dan menjadi jalan keluar dari himpitan hidup nan keras.

Film yang disutradarai oleh Kim Tae-Gyun itu berangkat dari kisah nyata. Tentang seorang pesepakbola yang berniat berbisnis di Timor Leste. Di sebuah negeri yang baru merdeka dan masih tergopoh-gopoh, Kim (Park Hie-Sun) mencoba menautkan harapannya. Ia bersemangat menjual berbagai peralatan olahraga, mulai dari sepatu hingga pakaian, di sebuah negeri yang sesungguhnya miskin. Dengan enteng, ia melabeli sepatunya dengan harga 60 dollar. Padahal ia tak tahu, hampir semua orang di negeri itu berjuang untuk makan sehari 3 kali. Jelaslah sudah bahwa membeli sepatu tak akan masuk dalam rencana mereka.

Niat yang tadinya berbisnis berubah ketika dirinya mendapati sejumlah anak bersemangat bermain bola. Kim seperti menghirup nafas baru ketika melihat kenyataan itu. Dan perlahan ia mempertaruhkan segalanya. Melihat Ramos, Montavio dan Tua yang memperlihatkan teknik bermain menawan, Kim pun sadar bahwa ia harus berbuat sesuatu. Apalagi ketika ia akhirnya tahu bahwa anak-anak itu punya mimpi sederhana : menembus liga profesional di Indonesia yang akan jadi tiket buat mereka untuk terlepas dari kemiskinan. Kim juga melihat sepakbola sebagai pemersatu diantara keluarga anak-anak itu yang pernah bertikai (hingga saling membunuh) di masa lalu.

Dan Kim membawa mimpi dan harapan anak-anak itu jauh hingga ke Jepang. Dengan segala daya upayanya, ia berjuang membawa mereka bertanding di arena internasional di Hiroshima.

A Barefoot Dream yang diangkat dari kisah nyata menjadi contoh menarik ketika isu sepakbola yang ternyata bisa digandengkan dengan beragam isu yang kontekstual. Dan kisah semenarik ini memang harus diterjemahkan dengan cemerlang kedalam bahasa audio visual. Maka skenario menjadi kunci, juga bagaimana sang kreator mendekatkan kisah yang dipunyainya dengan pengalaman dari penonton. Kita mungkin tak punya pengalaman melatih tim sepakbola anak-anak di sebuah tanah yang asing, namun kita akan terasa dekat dengan sosok Kim berkat keinginannya yang sesungguhnya tulus. Meski terlihat bahwa Kim ingin mewujudkan mimpi anak-anak itu, sesungguhnya ia juga punya personal interest yang teramat sederhana. Kim yang seperti terombang-ambing hidupnya sejak memutuskan mengakhiri karir profesionalnya hanya ingin “kali ini menyelesaikan sesuatu, karena ia biasanya selalu mengawali sesuatu namun cenderung tak pernah menyelesaikannya”.

Dan itulah yang menjadi kunci keberhasilan A Barefoot Dream ketika ia berhasil menggamit hati penontonnya. Maka awal film yang terasa tak tangkas dan pertengahan film yang boleh jadi terasa membosankan terbayar menjelang penutup film. Ketika Kim memperlihatkan bahwa mimpi tak boleh berhenti dan akan menjadi nyata ketika dikejar dengan sungguh-sungguh. Perjuangan Kim pun akhirnya sukses menghangatkan dada dan menghangatkan pipi yang basah dengan air mata.

A BAREFOOT DREAM

Director : Kim Tae-Gyun
Cast : Park Hie-Sun, Ko Chang-Seok, Lim Won-Hie
Script Writer : Kim Tae-Gyun

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: