3-Iron : Cinta Segitiga Yang “Menghantui”

Kegilaan saya terhadap berbagai jenis film telah dimulai di usia yang masih sangat muda. Saya masih ingat, tatkala masih duduk di bangku sekolah dasar, saya selalu merengek ditemani orang dewasa agar bisa ke bioskop. Karena terbiasa memirsa beragam jenis film, referensi saya akan film terasa makin bertambah dalam 5 tahun terakhir. Dalam masa ini, saya juga mulai menyiapkan diri menerima berbagai “pengucapan baru”. Maka saya bisa asyik saja memirsa Run Lola Run (Tom Tykwer) yang memusingkan bagi sebagian orang. Juga betah menikmati “kegilaan” Quentin Tarantino dalam Pulp Fiction. Atau menjadi saksi “kesintingan” Memento garapan Christopher Nolan. Dan puncaknya ketika bisa bertahan dan kagum atas karya Alejandro Gonzales Inarritu, 21 Grams. Saya pikir tak ada lagi film yang bisa membuat saya ternganga setelah itu. Tapi sekarang, saya harus mengoreksi pemikiran saya. Kim Ki-duk dengan 3-Iron sukses membuat saya takjub dan terdiam diri beberapa lama setelah menonton filmnya.

Ini kisah cinta biasa sebenarnya. Sebuah kisah cinta segitiga. Tapi menjadi luar biasa ketika sutradara membuat toko utama prianya tak mengucapkan dialog sama sekali. Bukan, bukan karena dia bisu. Ini adalah akal – akalan sutradara untuk menantang diri memaksimalkan gesture hingga optimalisasi pergerakan kamera. Premis-nya saja sudah sangat mengundang keingintahuan. Seorang pemuda setiap hari meletakkan flyer di gagang pintu rumah yang dilewatinya. Dalam beberapa lama, jika flyer tersebut tak tersentuh, maka ia memutuskan untuk menerobos rumah itu. Disitu ia makan dan tidur. Dan ia pun membersihkan rumah yang ditinggalinya, mencuci pakaian pemilik rumah hingga menyirami tanamannya. Hal yang sama dilakukannya berulang – ulang, hingga suatu ketika, sebuah “kecelakaan” terjadi. Ia masuk ke rumah seseorang yang ternyata berpenghuni. Penghuninya adalah seorang perempuan muda. Terlihat tertekan dan depresif, akibat perlakuan kasar suaminya. Kita pun bisa menebak bahwa keduanya jatuh cinta, dan sang pemuda membawa kabur si perempuan dari rumahnya.

Kalau mau dilanjutkan, sekali lagi ceritanya masih bisa diikuti. Karena pasangan “baru” ini kembali melakukan ritual sang pemuda. Kembali memasuki rumah yang ditinggali penghuninya. Tentu saja skenario perlu konflik untuk men-drive cerita, dan disitulah Ki-duk memanfaatkannya untuk menguatkan teorinya tentang mimpi dan kenyataan. Bingung ?

Sebenarnya, 3-Iron sama sekali tak sukar dinikmati. Ia punya three-act laiknya film Hollywood. Yang membuatnya ajaib adalah minimnya dialog itu. Sampai akhir film, si pemuda tak bersuara sama sekali. Sementara si perempuan hanya berucap tak lebih dari 3 patah kata. Jadinya film ini memang jadi “menghantui”, karena merasuki pikiran setelah menontonnya. Kita mengerti apa yang menimpa tokoh – tokohnya, namun kita diajak oleh Ki-duk memasuki labirin – labirin pikiran yang dibuatnya. Jadinya memang 3-Iron akan sangat berpeluang menjadi karya yang multi-interpretasi. Ini contoh film yang sungguh menarik untuk didiskusikan.

Lantas, apakah 3-Iron adalah sebuah karya berkualitas ? Kembali lagi hal tersebut sangat bergantung dari pengalaman dan referensi penontonnya. Saya menganggap 3-Iron adalah karya yang challenging. Juga menorehkan cabang – cabang pemikiran baru. Saya tak bisa bilang menyukai karyanya kali ini atau tidak, tapi saya berani merekomendasikan film ini ke penonton dengan kapasitas tertentu. Penonton yang senantiasa membuka diri untuk menerima hal baru. Penonton yang bisa menghargai pendapat orang lain. Karena 3-Iron justru sangat menghargai kemerdekaan berpendapat. Film tak punya pola atau patokan atau nilai – nilai pasti. Siapapun boleh mengeksplorasi film dengan kebebasan personal, dan akan sangat menggugah jika salah satu hasilnya adalah karya semenarik 3-Iron.

3-IRON

Director : Kim Ki-duk
Cast : Lee Seung-yeon, Lee Hyun-kyoon, kwon Hyuk-ho
Script Writer : Kim Ki-duk

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: