The Promise : Karya Terburuk Chen Kaige

Reputasi Chen Kaige sebagai sutradara brilian telah terdengar di telinga saya, sejak saya mulai mengakrabi film lebih serius. Bahkan banyak yang membanding – bandingkannya dengan Wong Kar Wai, meski karya keduanya sebenarnya tak bisa dibandingkan. Saya sudah mendengar sekian banyak orang menyebut karya Kaige dengan kagum. Farewell My Concubine, Temptress Moon hingga The Emperor and The Assasin adalah sejumlah karya Kaige yang membuat banyak orang mengakui kehandalan penyutradaraannya. Saya sendiri baru sempat menonton karyanya sebelum The Promise, Together. Produksi tahun 2003 itu menurut saya adalah sebuah film yang sungguh bagus, dengan kesederhanaan tema dan kejernihan emosi yang bisa tersampaikan secara efektif ke penonton.

Dengan kualifikasi sehebat itu, saya berangkat menonton The Promise dengan perasaan optimis. Meski seorang teman yang adalah direktur festival film internasional menginformasikan bahwa The Promise tak sehebat reputasi Kaige, tapi saya tetap menontonnya. Pun ketika melihat posternya di bioskop yang mulai menurunkan minat saya, tetap saya paksakan untuk menontonnya.

Dan ternyata sedikit demi sedikit kekhawatiran saya terbukti. Sejak layar tersibak, saya dibuat takjub sekaligus kaget dengan opening film yang membawa saya ke sebuah dunia antah berantah. Dunia fantasi penuh rekayasa. Seorang dewi memberi kekuatan hebat pada seorang gadis cilik bernama Qingcheng untuk menjadi gadis tercantik sejagat. Dan seperti biasa, kekuatan hebat seperti itu pasti meminta “korban”. Setiap lelaki yang dicintai Qingcheng akan menemui ajal.

Saya mulai menggerutu, tapi masih tetap berusaha menikmati sajian selanjutnya. Gerutuan saya akhirnya sedikit tertutupi oleh sound efek dahsyat namun di beberapa bagian terkesan sangat generik, penggambaran berbagai karakter yang luar biasa artifisial hingga karakterisasi yang kadang tak jelas. Saya makin “terhibur” dengan semua itu dan akhirnya memilih untuk membiarkan saja The Promise bercerita semaunya sendiri. Kaige pun memperkenalkan tokoh Qingcheng (Cecilia Cheung) yang telah dewasa, Jenderal Guangming (Hiroyuki Sanada) dan Kunlun (Jang Dong-Gun). Kaige mencoba membuat cerita jadi sedikit “ruwet”, padahal ketika film mulai mendekati pertengahan, tahulah kita bahwa The Promise hanyalah kisah cinta biasa, kisah cinta segitiga yang bahkan membuat saya tiba – tiba teringat pada Alexandria (Oddy C Harahap, ReXinema).

Meski tokoh Qingcheng digambarkan se-loveable mungkin, saya kok tidak serta merta biasa menyukai tokoh itu. Demikian pula dengan Jenderal Guangming yang bisa takluk sekejap di ujung telunjuk Qingcheng. Saya hanya ngedumel dan mulai menyalahkan skenario yang menurut saya menyisakan banyak lobang disana – sini. Hanya tokoh Kunlun yang bisa membuat kita bersimpati padanya, dan selain karena karakterisasinya yang stabil, saya bisa melihat bahwa Dong-Gun memainkannya dengan baik. Karakter Kunlun-lah yang bisa merekatkan The Promise diantara dunia nyata dan fantasi, karena batasnya sungguh tak jelas.

Sungguh saya sangat menyayangkan Kaige bisa membuat film seperti The Promise. Berbujet 30 juta dollar memang membuat seseorang bisa bikin film apa saja. Tapi tak lantas harus terlihat sangat murahan kan ? Kaige jadi seperti anak kecil yang baru saja asyik dengan permainan barunya, dalam hal ini KaIge dengan visual efek yang gila – gilaan. Saya rasa, cerita sementah The Promise mungkin dimaksudkan Kaige agar bisa merengkuh penonton lebih banyak, mengingat film ini beredar secara internasional. Atau justru karena Kaige terlalu memusingkan hal – hal teknis sehingga abai pada sisi paling penting dari film, yakni cerita. Atau karena Kaige harus berkompromi dengan sekian banyak orang agar dapat menghasilkan karya yang “menjual”.

Berkat The Promise, saya merasa kehilangan satu persatu sutradara hebat generasi kelima Cina. Setelah Kaige, kira – kira siapa menyusul ?

THE PROMISE

Director : Chen Kaige
Cast : Jang Dong-Gun, Cecilia Cheung, Hiroyuki Sanada
Script Writer : Chen Kaige

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: