The Lovely Bones : Lukisan Kematian Yang Indah

Apa yang terbayang di benak Anda akan pembunuhan? Yang terbetik di pikiran Anda tentang pemerkosaan? Adakah diantara Anda yang melihat hal itu sebagai sesuatu yang indah? Peter Jackson sedikit diantaranya yang seperti itu. Ia melihat kematian Susie Salmon, gadis 14 tahun yang diperkosa dan dibunuh lantas mayatnya dimasukkan ke dalam lemari besi itu sebagai sesuatu yang menawan.

Inilah kelemahan terbesar dari The Lovely Bones. Rasanya Jackson salah memilih materi yang cocok untuknya kali ini. Ia mengangkat novel yang ditulis Alice Seabold dengan indah dan memunculkan empati, membangkitkan horor akan sosok pembunuh yang mengincar perempuan muda demi memenuhi hasrat seksual. Namun di tangan Jackson, tak ada yang mengerikan dari kematian Susie. Jackson bahkan tak merasa perlu memperlihatkan bagaimana Susie diperkosa dan dibunuh dengan keji. Dan mungkin yang bisa jadi paling ’menjengkelkan’ adalah Jackson memuaskan egonya untuk menggambarkan alam diantara langit dan bumi dengan visualisasi cemerlang, sensasional namun kering emosi.

Maka pembaca novel The Lovely Bones bisa jadi marah besar melihat bagaimana Jackson mentransfer kata menjadi audio-visual yang menisbikan segala bentuk horor yang menjerat pembaca novelnya. The Lovely Bones menjadi lukisan kematian yang indah. Disini diperlihatkan bahwa Susie malah seperti terbebas dari belenggu rumahnya ketika rohnya melayang-layang di udara. Ia bersenang-senang, berlari kian kemari diantara hamparan ladang jagung, meluncur diantara es yang terpahat beraneka bentuk dan mendapatkan teman baru yang senasib dengannya.

Padahal kematian Susie menghancurkan keluarganya. Ini juga yang luput dieksplor oleh Jackson. Dan ia memang berangkat dengan pendekatan yang salah. Ia memilih setia pada pendekatan naratif sebagaimana novelnya. Dan hasilnya memang sebuah kesalahan fatal. Bukan saja film ini kehilangan unsur kejutannya, namun ia juga menihilkan aspek yang harusnya ditangkap oleh pembacanya : bahwa pembunuh ada di sekitar kita, berkeliaran mengincar perempuan muda.

Dan tinggallah The Lovely Bones sebagai film yang hampa. Coba tanyakan ke teman yang juga menonton film ini, adakah ia merasakan emosi yang dirasakan para tokoh-tokoh yang ada di film? Semuanya terasa hambar dan akhirnya materi yang punya kedalaman ini menjadi kehilangan resonansi emosinya.

Apa boleh buat, rupanya Jackson tak bisa menangani film ’sederhana’ seperti The Lovely Bones. Jackson lebih berjiwa ketika membesut film berskala ’besar’ seperti trilogi Lord of the Rings ataupun King Kong. Bandingkan dengan Martin Scorsese yang terkenal dengan film-film yang penuh dengan kekerasan dan darah, namun ternyata memberikan kejutan besar ketika mampu membesut film seperti The Age of Innocence yang lembut.

THE LOVELY BONES

Director : Peter Jackson
Cast : Saoirse Ronan, Mark Wahlberg, Rachel Weisz
Script Writer : Fran Walsh, Philippa Boyens, Peter Jackson

Iklan
Comments
One Response to “The Lovely Bones : Lukisan Kematian Yang Indah”
  1. viola berkata:

    nama asli dr susie salmon (pemeran yg aa di film) siapa sih? thx b4

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: