The Road : Kasih Ayah Sepanjang Jalan

Cormac McCarthy punya nama harum di jagat sastra dunia. Karya-karyanya mencengangkan, punya kedalaman namun juga punya kelemahan. Bahwa karyanya tak mudah untuk diadaptasi, antara lain ke dalam bahasa filmis. Tak ada yang berani mencobanya hingga The Coen Brothers menerjemahkan novel No Country for Old Men dan sukses.

Dan The Road menjadi salah satu karyanya yang sulit dibayangkan untuk ditransfer ke dalam bahasa gambar dan laku. Karena ia banyak mengungkap prosa disana. Jadinya susah menyaring maksud, tujuan dan inti cerita. Roger Ebert, salah satu kritikus film terkemuka juga mengakui hal itu. Ia tak bisa membayangkan novel seperti The Road bisa difilmkan. Ia yang menggemari novel-novel McCarthy mahfum jika tak banyak yang berani mencoba karena bayangan kegagalan ada di depan mata. Namun Ebert akhirnya mengangkat jempol pada keberanian John Hillcoat dan Joe Penhall yang menulis skenario mengangkat material ini ke layar perak.

Seperti juga bukunya, jelas sekali The Road bukan tontonan menyenangkan. Bukan dalam pengertian jelek tentu saja. Karena ia membahas banyak hal substansial ketika bumi porak poranda. Ia membahas tentang kehilangan, kematian, isolasi hingga batas tipis antara kebaikan dan kejahatan, juga antara manusia dan binatang.

Dengan materi ’semengerikan’ ini, tugas berat sudah menanti Hillcoat. Yaitu bagaimana cara agar membuat penonton tak sedepresi yang diharapkan, seperti yang terbaca dari novelnya. Karena The Road membahas perjalanan panjang tak bertepi antara seorang ayah dan anaknya. Perjalanan tanpa henti demi bertahan hidup, tanpa tujuan, tanpa arah dan tanpa harapan untuk menemukan kehidupan yang lebih baik. Walaupun sang ayah berkali-kali mengingatkan sang anak agar percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja, namun kita, penonton, tentu saja tahu bahwa semuanya tidak akan baik-baik saja. Karena Hillcoat memberi kita pemandangan menakjubkan secara sinematik namun mengerikan jika akhirnya harus kita hadapi. Lihatlah kegersangan melanda, kelaparan merajalela, cuaca yang tak pernah cerah sedikitpun dengan langit yang selalu abu-abu tersaput kabut tebal dan semuanya luluh lantak.

Untungnya memang The Road diarahkan Hillcoat tak sekedar sebagai kisah ’survival’. Justru lebih menarik melihat film ini sebagai potret kisah seorang ayah yang begitu sayang pada putranya. Seorang ayah yang rela melakukan apapun demi anak tercinta. Bagian inilah yang membuat penonton rela bertahan dua jam lamanya meski didera gambar demi gambar yang menekan dan musik yang terdengar pilu di telinga.

Ebert yang sudah membaca novel The Road berkali-kali awalnya larut membandingkan antara novel dengan filmnya. Diakuinya sebagai keterlibatan dirinya dengan bacaan yang disenanginya. Namun pada akhirnya ketika berhasil memisahkan diri antara dirinya sebagai penggemar McCarthy dan dirinya sebagai kritikus, ia tahu bahwa The Road bukan karya sembarangan.

Dan memang The Road bukan karya serampangan, walau ia tak renyah dikunyah. Selain penyutradaraan yang efisien, dua jempol juga harus diberikan pada permainan padu dua aktor beda generasi : Viggo Mortensen dan Kodi-Smith McPhee. Ini bukan peran mudah karena selain menuntut ekstra emosi dengan spektrum yang jauh lebih besar dari biasanya, peran ini juga menuntut fisik yang meyakinkan. Dan keduanya memang sama hebatnya.

THE ROAD

Director : John Hillcoat
Cast : Viggo Mortensen, Kodi-Smith McPhee, Charlize Theron
Script Writer : Joe Penhall

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: