This Film Is Not Yet Rated : Sensor, Sineas & Nilai Moral

Belum lama hilang dari ingatan beberapa kejadian mengerikan. Seorang anak meninggal karena menirukan adegan smackdown, lainnya menderita luka memar di sekujur tubuh. Peristiwa ini jadi sinyal bahwa ada sesuatu yang membahayakan yang terjadi pada anak – anak kita tanpa kita sadari. Bahwa televisi adalah medium yang harus diwaspadai, karena anak – anak dengan mudah mengaksesnya. Dan anak – anak dengan usia kurang dari 10 tahun, dengan remote di tangan, bisa menyerap tayangan TV tanpa filter, dan kemudian memperagakannya tanpa mereka sadari bahwa hal tersebut membahayakan diri sendiri.

Televisi, semestinya adalah media yang harus diawasi dengan tingkat kewaspadaan tinggi, karena sifatnya yang gratis, langsung masuk ke ruang keluarga puluhan juta penduduk Indonesia, dan dengan mudah bisa ditonton oleh anak – anak. Anehnya, Lembaga Sensor Film (LSF) kita lebih senang merecoki film untuk konsumsi bioskop. Padahal jika ditakar efek yang ditimbulkannya, rasanya penonton bioskop adalah penonton yang selektif, dan mereka menyiapkan diri sebelum menonton film yang diinginkannya.

Tak hanya di Indonesia, di Amerika sekalipun, film tak dengan mudah melenggang dengan bebas untuk tayang di bioskop. Mereka harus melalui sebuah dewan yang menentukan sistem rating. Dewan yang berada di bawah MPAA (Motion Picture Association of America) menggolongkan film ke beberapa kategori : G (General), PG-13 (Parental Guidance), NC-17 (No Children Under 17) dan R (Restricted). Inilah yang dibongkar Dick Kirby dalam The Film Is Not Yet Rated. Kirby yang berhasil dengan karya dokumenternya terdahulu seperti Sick : The Life & Death of Bob Flanagan, Supermasochist (1997) dan Derrida (2002) mencoba membongkar sistem kerja hingga siapa saja yang tergabung dalam dewan yang ternyata sangat misterius itu.

Sama seperti di Indonesia, di Amerika pun sutradara – sutradara marah dengan sistem itu. Kirby mewawancarai Kimberly Peirce (Boys Don’t Cry), Allison Anders (Gas Food Lodging), Atom Egoyan (Where The Truth Lies) dan Wayne Kramer (The Cooler). Masing – masing marah karena film mereka mendapat rating NC-17 dan R. Bagi sutradara ini, dan terutama bagi studio, dapat rating seperti itu akan meminimalisir jumlah penonton yang akan menyaksikan. Dalam kiasan yang jauh lebih sederhana, akan mengurangi peluang sebuah film mendapat penghasilan yang lebih besar. Karena, juga sama seperti di Indonesia dan di banyak negara lain, penonton bioskop terbesar ada di rentang usia 15 – 25 tahun. Alamat paling sial jika mendapat rating R, karena film itu hanya bisa disaksikan oleh penonton berusia diatas 21 tahun. Biasanya jika sebuah film mendapat rating NC-17 dan R, mereka (sutradara dan pihak studio) akan berupaya melakukan cara – cara tertentu agar film bisa diloloskan dengan rating PG-13. Termasuk jika harus memotong sendiri filmnya sekalipun.

Di film ini dengan sangat detail dipaparkan bagaimana sistem kerja LSF ala Amerika ini. Para sineas juga bisa berkonsultasi dengan mereka, meski hanya melalui telepon. Dan setelah di-rating, para sineas akan mendapat surat penjelasan mengapa film mereka mendapat rating tertentu dan dikemukakan adegan demi adegan yang menyebabkan itu. Saya jadi bertanya – tanya, adakah seperti itu pula cara kerja LSF ?

Film ini mencapai tujuannya sebagai dokumenter secara sempurna. Yakni mengemukakan berbagai informasi secara sederhana dan mudah dicerna. Sayangnya, sebagai hiburan, The Film Is Not Yet Rated belum mendekati Bowling For Columbine atau Fahrenheit 9/11. Kecuali mencermati potongan – potongan adegan “hot”, jika tak sabar Anda boleh jadi mendapati diri terkantuk – kantuk menyaksikannya. Sungguh pun demikian, film ini sangat patut jadi cerminan di tengah isu yang melanda perfilman kita saat ini. Isu yang digulirkan sejumlah sineas yang mengusulkan perubahan Lembaga Sensor Film menjadi Lembaga Klasifikasi Film. Jika pun suatu waktu harapan ini terkabul, toh bakal masih ada saja hambatan bagi para sineas untuk berekspresi. Dan contohnya disajikan dengan gamblang dalam The Film Is Not Yet Rated.

THIS FILM IS NOT YET RATED

Director : Kirby Dick
Script Writer : Kirby Dick, Eddie Schmidt

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: