The Water Horse : Menghidupkan Mitos Monster Laut

Mitos adalah fantasi. Bisa juga gabungan antara imajinasi dengan kepercayaan yang telah berkembang turun temurun. Mitos tentang monster laut bernama Loch Ness juga terkenal seantero jagat. Tapi adakah yang percaya bahwa mitos itu sepenuhnya benar ?

Robert Nelson Jacobs mengadaptasi buku karya Dick King-Smith menjadi sebuah kisah keluarga yang menyentuh. Padahal subyeknya adalah mitos bernama Loch Ness. Pada awalnya adalah Crusoe, itulah asal mula mitos itu berkembang. Ia ditemukan Angus (Alex Etel) yang masih bersedih akibat kepergian sang ayah. Crusoe dibesarkan Angus dengan caranya sendiri. Si bocah bagaikan menemukan teman pelipur lara tatkala bermain dengan Crusoe yang imut dan lucu ketika tubuhnya masih kecil. Crusoe lincah dan liat, dan terlihat begitu gembira bermain di dalam bak mandinya.

Tiap hari tubuh Crusoe bertambah besar, sehingga tak memungkinkan bagi Angus untuk menyembunyikannya dalam rumah. Maka ia harus rela melepas kepergian Crusoe ke tengah perairan di sekitar rumahnya.

Jay Russell membawa kisah tentang “monster laut” ini menjadi begitu menyenangkan, terutama bagi bocah seusia Angus. Itu juga berkat kelihaian tim spesial efek yang begitu telaten menghidupkan karakter fiksi ini menjadi sebegitu nyatanya. Tak ayal, pemeran lain seperti Emily Watson hingga Ben Chaplin tak mampu bersaing dengan Crusoe.

Kisah semacam The Water Horse akan selalu disenangi anak – anak yang pada dasarnya menyenangi binatang piaraan. Toh Russell pun tak lupa pada penonton dewasa yang bisa jadi terselip diantara target segmen film ini. Durasi 105 menit toh tak membuat penonton dewasa bosan untuk segera beranjak dari kursinya. Tak lain karena The Water Horse mengimbuhi kisahnya yang mekanis (karena bertopang penuh pada spesial efek) dengan sentuhan humanis.

Film ini memang tak ada bedanya dengan Free Willy yang berfokus pada ikan paus atau Lassie yang mengedepankan anjing sebagai tokoh utama. Kelebihan The Water Horse karena ia menjadikan spesial efek sebagai bagian penting dari kisah yang memang seharusnya membuat hati penonton, terutama anak – anak, senang. Tak sekedar senang, karena ceritanya pun membawa sejumlah pesan. Bagi penonton dewasa, terutama yang telah berkeluarga, film ini juga menjadi “peringatan” untuk lebih memberi perhatian pada si cilik yang tengah mengalami duka berkepanjangan. Angus beruntung karena menemukan Crusoe (atau sebaliknya ?), tapi banyak pula bocah tak beruntung yang akhirnya harus menderita trauma yang menimbulkan efek negatif ketika mereka dewasa.

Meski akhir kisah bisa ditebak, tak ada salahnya bagi kita, penonton dewasa, untuk pura – pura amnesia. Karena dengan demikian, kita bisa menikmati The Water Horse dengan asyik. Ikut larut dalam keceriaan Angus bercengkrama dengan Crusoe di tengah perairan luas, ikut berdebar menyaksikan Crusoe yang dengan lincahnya menyelam hingga kedalaman puluhan meter dengan Angus yang memeluk tubuhnya yang luar biasa besar, juga ikut mengutuk kelaliman manusia yang mengubah makhluk yang sebenarnya tak berbahaya seperti Crusoe menjadi liar dan berpotensi memusuhi manusia.

Akhirnya The Water Horse memang kembali mempertanyakan seputar mitos Loch Ness. Apakah makhluk itu memang ada atau sekedar fiksi belaka ?

THE WATER HORSE

Director : Jay Russell
Cast : Bruce Allpress, Geraldine Brophy, Eddie Campbell
Script Writer : Robert Nelson Jacobs

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: