United 93 : Menyaksikan Amerika Yang Gentar

Agustus 1945. Amerika Serikat menunjukkan kuasanya. Dan mereka sedang memainkan peran sebagai Tuhan. Maka bom atom pun dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki. Jepang takluk, tapi aksi Amerika beroleh cemoohan dari segala penjuru. Kesombongan itu rasanya agak kelewatan. Terlebih Amerika menepuk dada karena merasa bisa membungkam Jepang.

Amerika yang pongah itu juga beroleh kritik yang tak pedas dari jurnalis Walter Lippman. Dalam kolom regulernya, ia menulis ”betapapun besarnya, kekuatan Amerika terbatas”. Dan selang 56 tahun setelah kata itu digemakan Lippman, kita melihat Amerika yang gentar. Ketika di sebuah pagi yang cerah, tiga pesawat komersial ditabrakkan ke World Trade Center dan Pentagon. Enam ratus ribu jiwa melayang karenanya.

Amerika memang perlu rendah hati. Selayaknya ia tak lagi melihat dirinya sebagai pusat semesta. Dan peristiwa September mestinya menjadi sebuah pengingat. Bahwa kesombongan akan melahirkan angkara. Dan Amerika pun yang dikenal dengan sistem pengamanan super canggih ternyata bisa kebobolan. Bagai petir di siang bolong, sebuah rangkaian aksi bunuh diri terjadi. Dan Amerika tak melakukan apapun. Rakyatnya melihat horor luar biasa mengerikan lewat CNN ketika pesawat berbadan lebar ditabrakkan ke pencakar langit World Trade Center.

Aksi terorisme seputar pembajakan pesawat, termasuk diantaranya pesawat United 93, juga menyandarkan alasannya pada niat untuk memberi pelajaran pada Amerika yang sombong. Namun United 93 yang bersandar pada peristiwa sejarah itu tak ingin memberi komentar apapun. Ia hanya merekam apa yang terjadi disana. Menjadi saksi atas aksi yang mengatasnamakan agama demi tujuan yang tak terpuji. Paul Greengrass tahu menempatkan diri sebagai sineas yang melakukan reka ulang kepanikan penumpang pesawat hingga aksi berani mati dari para teroris. Ia tak menempatkan karakter tertentu sebagai pengantar cerita, ia juga tak mendramatisir peristiwa itu. Sekali lagi, ia hanya mencoba melakukan reka ulang.

Maka United 93 adalah sebuah rekaman peristiwa. Dan Greengrass mengukuhkan niatnya itu dengan cara fokus pada detil. Hiruk pikuk di menara kontrol terekam dengan baik, begitupun dengan respon para awak ketika mereka melihat tayangan CNN yang membuat shock. Juga menit demi menit yang terjadi di atas pesawat yang tengah menjelajah angkasa. Sedemikian realistisnya sehingga membuat penonton, khususnya warga Amerika, tak tahan menyaksikannya hingga tuntas.

Dan Greengrass harus diberi jempol atas sikapnya yang tak memihak siapapun, tak mencoba menjejalkan teori konspirasi atas pembajakan itu. Bandingkan dengan sekian judul lain yang mencoba memotret peristiwa yang sama. Ia memang tak punya agenda apapun dengan film ini, selain ingin memberi hadiah bagi para penumpang United 93 yang berhasil membuat pesawat tersebut tak ditabrakkan ke World Trade Center. Sebuah usaha yang harus diapresiasi dengan pantas walaupun pesawat tersebut pun pada akhirnya jatuh ke tanah dan tak ada seorang pun didalamnya yang selamat.

Inilah Amerika yang gentar. Greengrass memperlihatkan itu kepada dunia dengan telanjang. Dan hari itu, semua orang pun akhirnya tahu bahwa ”betapapun besarnya, kekuatan Amerika terbatas”.

UNITED 93

Director : Paul Greengrass
Cast : J.J Johnson, Gary Commock, Polly Adams
Script Writer : Paul Greengrass

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: