Unfinished Sky : Prosa Liris Manusia Kesepian

Sebuah film harusnya datang dari gagasan kuat. Bahwa film tersebut punya keinginan menyampaikan pesan dan menyentuh penontonnya. Jika gagasan itu harus datang dari film lain, berarti ada beberapa kemungkinan yang harus diambil. Apakah hanya mengambil intisari dari film yang menginspirasi atau sekalian saja melakukan remake atas karya tersebut.

Hal seperti ini sah-sah saja dilakukan. Remake tak lantas harus diartikan sebagai kehabisan ide. Karena bisa jadi remake perlu dilakukan ketika sang kreator tersengat ide dari film yang ditontonnya dan ingin membuatnya ulang untuk penonton di wilayah berbeda. Itu yang dilakukan Peter Duncan ketika memirsa film The Polish Bride yang rilis di tahun 1988. Setelah memperhitungkan semuanya, Duncan pun menulis ulang skripnya dan memilih untuk sekaligus menyutradarainya. Ini bukan perjudian, karena Duncan mencoba berhitung dari segala aspek. Namun perkara pemain, Duncan tak ingin lengah. Monic Hendrickx yang memukau penonton di film aslinya pun kembali diajak bermain disini.

Unfinished Sky berangkat dari premis tentang seorang perempuan yang dalam pelarian. Namun esensi film ini sesungguhnya ada pada sosok manusia nan kesepian. Tahmeena (Hendrickx) yang lari dengan tubuh terluka ditemukan oleh John Woldring (William McInnes) tak jauh dari rumahnya. John tinggal sendirian di rumah sederhana dengan pekarangan terhampar luas. Tahmeena yang dalam keadaan shock berat pun ditolongnya dengan setengah hati. Terlihat dari raut wajahnya, John rupanya tenggelam dalam sepinya. Ia acuh terhadap lingkungan sekeliling. Ketika Tahmeena masuk dalam kehidupannya, sontak saja ada yang berubah. Dan Tahmeena pula lah yang membongkar isi hati John yang rupanya masih meratapi kematian istrinya beberapa tahun silam. Seiring waktu, kedua manusia yang awalnya tak bisa berkomunikasi ini (karena Tahmeena yang asal Afghanistan hanya mengerti bahasa Inggris secuil) pun akhirnya berdamai dengan kesepian masing-masing. Problema John terkuak, begitupula dengan masalah yang melilit pada Tahmeena. Perempuan cantik itu rupanya terpisah dari putri kecilnya.

Karena menulis sendiri skenarionya, Duncan tahu betul apa yang harus dikuatkan dan apa pula yang mesti dipinggirkan dalam kisah ini. Maka ia menguatkan pada problem “menemukan” dan “ditemukan”. Sesungguhnya John tak “menemukan” Tahmeena, namun John-lah yang “ditemukan” Tahmeena. Perempuan ini menyadarkan John untuk bangkit dari masa lalunya. Jigsaw puzzle yang diperlihatkan sejak awal kisah untuk disusun oleh John sebagai penanda ingatan akan almarhum istrinya pun berhasil ditepikan oleh Tahmeena. Ia mengisyaratkan John untuk melangkah kedepan, seperti dirinya yang juga mencoba melupakan mimpi buruk yang baru saja menderanya. Yang sesungguhnya menarik adalah ketika Duncan menahan diri untuk tak melibatkan John dan Tahmeena dalam romansa berlebihan sebagaimana yang sering terlihat dalam film Hollywood. Keduanya hanya terlihat berdansa dan berciuman, tak lebih.

Pelan-pelan gambar yang dikelir dingin di awal kisah pun menjadi hangat seiring dengan episode berakhirnya prosa liris dari dua manusia kesepian. Sinematografi cemerlang dan kuat menjadi salah satu poin dari film “kecil” ini plus paduan akting memikat dari kedua pemeran utamanya. Hendrickx sekali lagi menunjukkan kehandalannya berolah peran ketika harus mengulang peran yang sudah dimainkannya dalam versi aslinya. Dan ia tak menyisakan jejak sedikitpun dari yang dilakukannya dalam The Polish Bride. Ia membangun kembali karakter baru dan ditiupkannya roh baru pula ke dalam karakter tersebut. Dan hasilnya karakter tersebut menerangi layar sepanjang film berlangsung.

Ingatan akan masa silam memang seringkali menyakitkan, namun manusia selayaknya memang harus terus melangkah. Karena masa kini akan terus berjalan dan masa depan yang cerah akan berada dalam genggaman ketika kita mencoba mewujudkannya.

UNFINISHED SKY

Director : Peter Duncan
Cast : William McInnes, Monic Hendrickx, David Field
Script Writer : Peter Duncan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: