When In Rome : Formula Usang Yang Masih (Bisa) Menarik

Coba tanyakan ke diri kita sendiri. Sudah berapa banyak kita mengkonsumsi film dengan embel-embel komedi romantik? Jika Anda sudah menonton lebih dari 10 judul, maka Anda pasti sudah hafal formulanya. Dan memang genre ini termasuk genre yang miskin eksplorasi. Biasanya hanya jatuh pada hal-hal standard (untuk tak dibilang basi), namun ajaibnya ternyata dengan mengusung formula usang, film serupa masih bisa tetap menarik.

When Harry Met Sally boleh jadi komedi romantik yang akan terus dikenang hingga kini. Dari generasi paling baru kita mungkin menyukai (500) Days of Summer yang menyodorkan pendekatan baru. Namun setelah itu memang nyaris tak ada lagi yang bisa memberikan kesegaran baru.

When In Rome jelas bukan komedi romantik yang mencoba memberi pendekatan baru ataupun kesegaran berbeda. Ia masih dengan formula usang, namun disinilah letak ajaibnya, masih berhasil membuat penonton yang imun dengan formula itu tetap tertawa, tetap tersenyum dan tetap merasa ada kehangatan di hati usai menontonnya.

Dan kisahnya pun menarik. Mencoba mengulik tentang keputusasaan akan cinta. Dibenturkan dengan dongeng modern tentang air mancur cinta yang termasyhur di Roma. Sebenarnya ini bukan kisah baru karena pernah diungkap di film produksi 1954, Three Coins in a Fountain. Di masa kini ketika kita dikepung oleh berbagai hal yang sifatnya mekanis, maka pencarian akan cinta akan selalu menarik. Dan makin menemukan daya tariknya ketika dipadukan dengan eksotisme cerita yang meminjam latar di Roma.

Adalah Beth (Kristen Bell) yang harus terburu-buru ke Roma karena adiknya yang menikah mendadak. Sesampainya disana, takdir mempertemukannya dengan pendamping pengantin pria, Nick (Josh Duhamel). Penonton bisa melihat betapa sejak awal keduanya telah merasakan getar-getar cinta. Namun ketika Beth berniat untuk mengenal Nick lebih dalam, ia menemukan Nick dikecup mesra oleh seorang perempuan. Maka Beth pun seperti melantur. Tepat di depan gereja tempat sang adik menikah terdapat lokasi termasyhur di Roma, Fountain of Love. Disitulah Beth mengeluarkan uneg-uneg nya. Seperti belum puas, Beth memungut 4 koin yang dilempar di dalam kolam. Dan apa yang terjadi? Malapetaka!

Maka resep komedi dan romantisme pun bisa dijalin dengan mulus. Berbagai adegan slapstick yang rasanya murahan ternyata bisa bekerja dengan baik disini. Itu karena karakterisasi yang meyakinkan. Baik Beth maupun Nick memang digambarkan sebagai orang-orang yang gampang salah tingkah dan sungguh manusiawi. Maka penonton bisa dengan keras menertawai malapetaka demi malapetaka yang menimpa Beth juga kesialan demi kesialan yang menimpa Nick. Dan penonton pun juga bisa miris ketika keduanya harus terpisah karena sesuatu hal, padahal penonton rasanya sudah tahu bahwa apapun yang terjadi, keduanya akan bersanding di akhir cerita, right?

Resep komedi romantis yang manjur juga sangat terletak pada chemistry antara pemerannya. Kristen Bell seperti diberi kesempatan disini untuk memamerkan kharismanya sebagai the girl next door, cewek yang dengan gampang kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Dan Josh Duhamel bisa melengkapi apa yang telah dipunyai Bell. Ketika keduanya berbagi layar, keduanya betul-betul saling berbagi, bukan saling bersaing memperebutkan hati penonton.

Ketika film mendapatkan hati dari penonton, rasanya sudah cukup kan?

WHEN IN ROME

Director : Mark Steven Johnson
Cast : Kristen Bell, Josh Duhamel, Alexis Dziena
Script Writer : David Diamond & David Weissman

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: