When Harry Met Sally : Ketika Harry Dan Sally Menahan Rasa

Sudah nonton film Badai Pasti Berlalu versi Teddy Soeriaatmadja ? Film yang diniatkan sebagai tribute bagi Teguh Karya ini ternyata bagai “jauh panggang dari api”. Meski Teddy telah berusaha sedemikian rupa mengadaptasinya ke konteks kekinian, ia melupakan satu hal. Film itu begitu kering emosi. Susah merasakan hubungan antara satu tokoh dengan tokoh lainnya dalam film itu.

Pertanyaan yang muncul adalah apakah sedemikian susahnya membuat film yang membuat penonton merasakan emosi yang tersaji di layar ? Memunculkan emosi yang menjalar ke perasaan penonton memang bukan perkara mudah. Hal itu tak bisa dipelajari dengan bersekolah jauh hingga ke Amerika atau Inggris.

Ini pula yang sempat dialami Rumah Ketujuh karya Rudi Soedjarwo. Film ini kentara betul ingin mengikuti jejak sukses fenomenal When Harry Met Sally. Bahkan hingga sampai ke pemakaian soundtrack berirama jazz. Sayangnya, Rumah Ketujuh tak menyentuh sama sekali. Bahkan cenderung menyebalkan di beberapa segi. Ia tak cukup outstanding untuk dimasukkan ke dalam film komedi romantis yang laik tonton.

Perkara komedi romantis, mau tidak mau memang harus berkaca pada When Harry Met Sally. Dibuat sekitar 18 tahun silam, cerita yang dikisahkannya tetap up to date hingga kini. “Can women and men be friends without getting in the way ?” menjadi pertanyaan krusial yang dilontarkan Bora Ephron yang menulis ceritanya. Dan dari awal, kalimat “sakti” ini jadi pegangan baik bagi Harry Burns (Billy Crystal) dan Sally Albright (Meg Ryan). Pasang surut hubungan kedua manusia yang sesungguhnya sangat cocok satu sama lain ini dituturkan Rob Reiner dengan sederhana. Tapi cukup membuat penonton berdegup. Reiner sangat paham bahwa ia punya cerita yang sungguh akan menjadi tempat bagi penontonnya untuk bercermin. Untuk kembali mengkilas balik hubungan yang pernah dialaminya dengan seseorang.

Dan apa yang terjadi ? Butuh waktu cukup lama bagi Harry dan Sally untuk menyadari bahwa sebenarnya mereka memang ditakdirkan untuk bersama. Penonton dibuat gemas dengan argumen demi argumen yang dilontarkan yang sering membuat hubungan keduanya kembali berada di titik nol. Tapi justru inilah yang membuat penonton betah untuk mengikuti hingga akhir. Cerita yang bisa dialami siapa saja ini pun menjelma menjadi sebuah film penuh emosi, meski kedua karakternya tak mesti saling bertengkar sepanjang film. Emosi terasa di dalam, tak superfisial seperti yang diperlihatkan dalam banyak sinetron kita.

Sebuah tantangan besar membuat cerita yang nyaris “tak ada apa – apanya” ini menjadi sebuah film yang menghibur. Untungnya, Reiner sungguh berhasil. Apalagi disana – sini kita bisa tertawa menyaksikan tingkah polah Harry dan Sally. Dan When Harry Met Sally tak cuma berhenti di titik sebagai film yang menghibur. Ia juga berhasil menggiring penonton untuk memaknai hubungan dengan pasangan selepas menikmati tarik ulur kisah Harry dan Sally.

Memang gampang – gampang susah membuat film jenis ini. Penyutradaraan biasanya menyebabkan sebuah film dengan skenario cemerlang menjadi biasa saja, atau malah melempem. Untungnya memang Reiner bisa mewujudkan hal luar biasa yang ditulis Ephron. Mungkin karena Reiner pernah berada dalam situasi yang dialami Harry dan juga didukung dengan kemungkinan bahwa Ephron pun pernah mengalami yang Sally rasakan. Entahlah. Tapi haruskah kita merasakan terlebih dahulu apa yang dialami tokoh – tokoh yang kita tulis agar terasa emosinya ? Mungkin perkara ini akan jadi misteri sampai kapanpun. Ia tak bisa diciptakan seperti halnya teknologi. Ia tak bisa terukur laiknya matematika. Kita hanya bisa tahu ketika merasakan bahwa diri kita hanyut dibuai oleh emosi yang dialirkan sutradara melalui tokoh – tokohnya.

WHEN HARRY MET SALLY

Director : Rob Reiner
Cast : Billy Crystal, Meg Ryan, Carrie Fisher
Script Writer : Nora Ephron

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: