Titanic : Antara Noer, Cameron Dan Guggenheim

Film Pemberontakan G30S/PKI bertahun-tahun pernah kita lahap setiap tanggal 30 September. Mau tak mau, ketika stasiun televisi di negeri ini hanya satu, maka menontonnya menjadi semacam keharusan. Secara sinematik, film garapan Arifin C Noer itu luar biasa. Bahkan dibandingkan di perfilman kontemporer pun, pencapaian seperti itu rasanya sulit tertandingi. Tapi di sisi lain, film itu punya cacat parah. Ada upaya pemutarbalikan sejarah didalamnya. Dan ketika rezim Soeharto tumbang, film itupun ramai-ramai dicap sebagai film propaganda. Dan akhirnya menghilang dari jagat hiburan tanah air. Benar-benar lenyap ditelan bumi.

Sejak jaman perang, film memang telah diakui kekuatannya untuk mempengaruhi orang. Dengan membayar sejumlah uang, cukup banyak orang yang rela meluangkan waktu dua jam menatap sebuah layar dan membiarkan pikirannya terkontaminasi dengan apa yang tersaji didalamnya. Disitulah hebatnya film yang di beberapa sisi setara pengaruhnya dengan buku. Namun disitu pulalah letak kelemahannya, karena film sangat bisa digunakan untuk memanipulasi sejarah. Bahkan yang lebih buruk adalah menulis ulang sejarah.

Ketika memutuskan untuk mengangkat tragedi Titanic ke layar lebar, James Cameron tentu sudah paham dengan resikonya. Sebagai sineas kaliber, Cameron tentu sungguh berhati-hati dengan sejarah. Tapi di sisi lain, Cameron juga tahu diri bahwa ia tak sedang membuat biografi. Baginya, Titanic versinya adalah campuran antara fiksi dan realitas. Bahkan banyak yang percaya bahwa film Titanic lebih dari separuhnya adalah fiksi.

Titanic versi Cameron menyandarkan kisahnya pada Jack (Leonardo DiCaprio) dan Rose (Kate Winslet), dua karakter yang tentu saja adalah fiksi. Lewat dua pemuda inilah Titanic mengalirkan kisahnya. Dan kisahnya sesungguhnya klasik. Ini kisah tentang perbedaan kelas. Tentang semangat muda nan menggelegak. Dan sesungguhnya adalah sebuah kisah heroik.

Jack adalah seorang pemuda luntang-lantung, sementara Rose berasal dari keluarga bangsawan. Tak hanya ditampilkan secara jelas melalui penampilan fisik, namun juga perbedaan itu juga terlihat dari penempatan mereka di dalam kapal mewah. Inilah yang ditegaskan Cameron dari awal. Ia bersimpati pada Jack dan kaumnya dan ia menganggap kaum bangsawan yang bergelimang harta hanya peduli pada diri sendiri.

Cerita terus mengalir dan bau anyir mulai terasa ketika Titanic dikabarkan menabrak sebuah gunung es. Kapal pun bocor dan akan segera tenggelam dalam waktu yang tak terlalu lama. Sayangnya kapal yang dibuat dengan megah itu tak mempunyai sekoci yang cukup. Maka harus ada yang dikorbankan.

Dan Cameron dalam Titanic memilih mengorbankan kaum bangsawan. Dari sudut pandangnya diceritakan bahwa mereka lah yang mendapat kesempatan terlebih dahulu untuk masuk dalam sekoci penyelamat. Sementara kaum jelata harus bersabar, harus bersusah payah dan berebut untuk mendapatkan kesempatan demi menyelamatkan diri dari dinginnya laut yang membekukan.

Cameron pun sukses membuat penonton mengharu biru menyaksikan kisah cinta Jack dan Rose, juga pada akhirnya keberpihakan Rose pada kaum jelata. Dan penonton pun geram pada kaum bangsawan yang diposisikan sebagai antagonis. Hanya mau menang sendiri dan seakan tak peduli pada orang lain.

Tapi sejarah tak bisa melupakan sekelumit kisah heroik yang tak tertuang dalam Titanic versi Cameron. Pada musibah yang terjadi pada 14 April 1912 itu terdapat sejumlah tokoh terkemuka, seperti jutawan John Jacob Astor, pemilik jaringan Macy, Isidor Straus dan pemilik kilang minyak, Benjamin Guggenheim. Banyak catatan seputar aksi heroik mereka yang mendahulukan menolong perempuan dan anak-anak terlebih dahulu.

Salah satu pesan terakhir Guggenheim boleh jadi akan ”memalukan” Cameron. ” Tell my wife, Johnson, if it should happen that my secretary and I both go down and you are saved, tell her I played the game out straight and to the end. No woman shall be left aboard this ship because Ben Guggenheim was a coward.”

Dan statistik memang membuktikan ucapan Guggenheim. Fareed Zakaria dalam The Future of Freedom mengungkap bahwa diantara penumpang kelas satu, semua anak-anak selamat dan hanya lima perempuan yang meninggal. Tiga diantara perempuan tersebut memang memilih mati bersama suaminya.

Lantas apakah Titanic menjadi film yang buruk karena keberpihakan total Cameron pada kaum jelata? Tentu saja tidak. Inilah sebuah film berlatar sejarah yang pernah dibuat dengan begitu mengesankan, memadukan aspek skenario, penyutradaraan dan akting yang solid dengan keterampilan teknis yang mengagumkan. Sebuah kerja keras luar biasa dari Cameron yang memang pantas diberi aplaus meriah.

Adalah sebuah pilihan ketika seorang sineas fokus pada sudut pandang yang diyakininya. Maka sebagaimana Guggenheim, Arifin C Noer dan James Cameron pun layak mendapat pengakuan.

TITANIC

Director : James Cameron
Cast : Leonardo DiCaprio, Kate Winslet, Billy Zane
Script Writer : James Cameron

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: