Sex and the City : Cinta Diantara Manolo Blahnik

Tia terpekik. Ia berteriak girang ketika membaca sms di handphone-nya. Seorang teman mengajaknya hadir di pemutaran perdana film Sex and the City yang diselenggarakan majalah wanita franchise terkenal.

Sejak itulah hari demi hari dilalui Tia dengan perasaan tegang. Diantara pekerjaan bertumpuk, ia memikirkan harus mengenakan busana apa nantinya. Disela makan siang, ia mencoba mengingat koleksi sepatunya yang bisa dipadu padankan dengan busananya. Ketegangan itu berbuah kepanikan : Tia tak punya tas yang dirasanya pantas disandangnya di malam yang pastinya akan dipenuhi kalangan sosialita ibukota.

Di sebuah sore, sehari menjelang malam premiere, wanita berparas ayu ini menyempatkan diri melakukan window shopping. Ia menjelajahi toko demi toko di sebuah mal bergengsi di kawasan selatan Jakarta. Targetnya cuma satu : berburu tas yang elegan dan akan membuatnya terlihat lebih cantik.

Setelah dua jam diantara puluhan koleksi tas yang diamatinya, ia berkesimpulan bahwa tak ada tas yang pantas baginya. Sebagai seorang wanita pekerja keras, Tia mengukur kepantasan dari keadaaan finansialnya. Untungnya memang, Tia bukan tipe wanita yang rela berhutang demi memburu barang idamannya. Ia memang menggenggam 5 kartu kredit, namun semua dipakainya hanya dalam keadaan darurat.

Tia pun pasrah. Ia menghibur diri dengan melihat koleksi tasnya. Namun harapan kembali berada di genggaman. Seorang teman dekat yang tahu kesulitannya menawarkan jasa : rental tas. Bukan sekedar tas biasa, tapi tas bermerek yang harganya puluhan juta. Tia pun diantarkan ke sebuah tempat di kompleks elit Pondok Indah. Tia bebas memilih tas, membawanya pulang hanya dengan membayar kurang dari 500 ribu rupiah.

Sebegitu pentingnya kah tas bagi wanita ? Seorang tokoh pria di film The Devil Wears Prada pun keheranan ketika melihat rekan wanitanya terpekik ketika dihadiahi tas dari sebuah merek ternama. Maka ketika Carrie (Sarah Jessica Parker) menghadiahi Louise (Jennifer Hudson) – asistennya – sebuah tas Louis Vuitton, kita pun bisa membayangkan reaksinya. Inilah potret perempuan masa kini yang di tengah resesi dunia, tetap tak kehilangan gaya dan tak mau kehilangan momentum sedikitpun untuk tak tampil menawan. Louise yang sempat dibuat kaget oleh Carrie karena berganti tas bermerek tiap hari (yang ternyata disewanya) akhirnya nyaris menangis terharu ketika Carrie memberinya tas impian sepanjang hidupnya.

Adegan Carrie dan Louise dalam Sex and the City menjadi penanda budaya materialisme yang tertancap kuat di dalam masyarakat kita. Budaya materi (budaya pemanfaatan benda – benda oleh manusia yang menyoal bagaimana manusia berhubungan dengan benda) hanya berhenti pada fungsi untuk menegaskan status, pun gengsi. Sejumlah kritikus menyayangkan gegap gempitanya pameran busana mewah di film yang diadaptasi dari serial televisi ini di tengah resesi dunia. Tapi apa mau dikata, itulah yang (barangkali) disukai penggemar berjenis kelamin perempuan dari Sex and the City. Ternyata, tak hanya kalangan bawah saja yang menyukai formula “menjajakan mimpi”. Wanita yang menonton di bioskop mewah sekelas Senayan City atau Plaza Senayan pun tetap terkagum – kagum ketika Carrie di tengah terpaan blitz kamera untuk sebuah pemotretan majalah Vogue mengenakan gaun – gaun indah koleksi perancang terkenal sekelas Vivianne Westwood.

Selain tokoh empat perempuan matang dalam Sex and the City, juga terselip satu nama yang tak kalah terkenal dari Carrie Bradshaw. Dialah Manolo Blahnik. Ia memang tak tampil melontarkan satu kalimat pun, namun keberadaannya menjadi kunci diantara drama percintaan Carrie dan Big (Chris Noth). Blahnik menggantikan “peran” Jimmy Choo sebagai sepatu favorit Carrie. Sepatu memang punya tempat tersendiri bagi lajang yang selalu tampil chic ini. Ungkapan “berlian adalah teman wanita” perlu dikoreksi oleh Carrie dengan “sepatu adalah teman idaman wanita”. Sepanjang film, sedemikian istimewanya Blahnik, sehingga ia tak pernah terlihat dalam satu scene pun bersentuhan dengan sepatu lainnya. Tempatnya adalah rak sepatu maha luas yang dipersembahkan oleh Big kepada pacar putus-sambung-nya itu.

Maka tas, sepatu dan busana – busana menarik menjadi jualan utama Sex and the City diantara cerita yang sebenarnya tak sehebat dari serial televisinya. Kisah cinta pun didongengkan ala telenovela. Carrie dan Big yang masih terus tarik ulur perasaan hingga menjelang film berakhir, Samantha yang tetap mementingkan seks diatas segalanya, Miranda yang keras hati dengan suaminya yang melakukan perselingkuhan hingga Charlotte yang akhirnya mendapatkan buah hati yang telah ditunggunya bertahun – tahun.

Ketika lampu bioskop menyala setelah 148 menit berlalu, Tia terlihat tersenyum puas. Ia senang karena bisa bersosialisasi dengan kalangan sosialita yang hanya bisa dilihatnya di rubrik majalah terkenal. Ia pun puas ketika penampilannya dipuji teman dekatnya sebagai “chic, yet elegant”. Tapi coba tanya apa komentarnya atas film Sex and the City.

“Biasa aja sih, gak ada yang spesial. Lebih lucu dan seru nonton serialnya.”

Komentar dari Tia yang mengoleksi DVD original Sex and the City tentu patut menjadi pertimbangan. Kreator film ini pun mungkin dari awal sudah menetapkan hati untuk mencoba memuaskan beragam kalangan (tak hanya penggila serial tersebut). Maka ketika Sex and the City versi layar lebar ternyata tak selegit serialnya, mungkin kita pun bisa berusaha maklum.

Sex and the City akhirnya memang sebuah tontonan yang mengemas ide materialisme dan tahu diri dengan hal itu. Disini kebendaan hanya berhenti pada distorsi sistematis yang bermuara pada kapital. Uang memang tak menjadi isu penting bagi Carrie yang awalnya hanya hidup di benak Candace Bushnell. Maka ketika menontonnya, bersikaplah seakan hendak dibawa memasuki dunia mimpi. Dunia yang dipenuhi dengan makan siang di restoran eksklusif, berbaikan di tengah jembatan nan romantis hingga – yang paling utama – mengenakan busana – busana mewah karya perancang kondang. Irilah pada Carrie, yang seakan bisa mendapatkan segalanya dan terlihat seperti tak punya kesusahan dalam hidup kecuali dalam urusan hati dengan Big. Tapi begitu film berakhir, cubitlah diri sendiri untuk meyakinkan bahwa kita kembali terlempar ke dunia nyata.

Akhirnya memang Sex and The City versi layar lebar tak sanggup bersaing melawan “saudara kembar”-nya sendiri. Ia tak menyajikan sesuatu untuk dibicarakan secara mendalam, tak seperti versi televisinya yang dinilai kalangan lintas profesi mempengaruhi cara pandang wanita dalam berkencan maupun dalam memilih pasangan hidup.

Ah, Carrie, manakah yang lebih penting bagimu : cinta atau Manolo Blahnik ?

SEX AND THE CITY

Director : Michael Patrick King
Cast : Sarah Jessica Parker, Kim Catrall, Kristin Davis
Script Writer : Michael Patrick King

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: