My Name Is Khan : Prasangka Tak Berkesudahan

Sebuah film independen dari Bandung menyeruak. Berjudul CIN(t)A, film kecil yang lahir dengan harapan yang besar. Film yang dengan berani mengobrolkan persoalan nama dan agama yang mengkotak-kotakkan satu orang dengan orang lainnya. Jelas sekali nama bukan hanya sekedar nama seperti kata Shakespeare, karena nama adalah representasi diri. Ada yang dilekatkan pada kita ketika kita lahir ke dunia dan diberi nama sedemikian. Sementara agama menjadi pembeda antara kita dengan yang lain dalam urusan berhubungan secara vertikal dengan Yang Maha Segalanya.

Dari sini terlihat jelas bahwa tema menjadi kekuatan tersendiri jika digarap dengan sungguh-sungguh. CIN(t)A menjadi ’keramat’ karena ia lahir dari sebuah keterbatasan, hanya sebuah semangat besar dari anak muda yang ingin berkarya. Dan dengan tema yang kurang lebih sama, My Name Is Khan lahir. Dibidani Karan Johar, film yang memajang superstar India, Shah Rukh Khan dan Kajol ini mengambil latar pasca peristiwa paling kelabu dalam sejarah Amerika, 11 September.

CIN(t)A dan My Name Is Khan meski setipe namun tak patut dibandingkan. Yang disebut terakhir mewakili produksi yang memaksimalkan segala sumber daya yang dipunyai. Maka Johar tak punya rintangan apapun dalam mewujudkan gagasan di kepalanya. My Name Is Khan juga mengerucutkan tema besarnya menjadi sebuah ide yang menakutkan : prasangka tak berkesudahan.

Prasangka seperti penyakit. Ia bisa menjangkiti siapa saja dan dimana saja. Dari Aceh ke Poso hingga Ambon dan melintasi benua ke Amerika. Yang lebih menyakitkan ketika prasangka bisa mampir ke seorang pemuda lugu dengan sindrom Asperger di pundaknya : Rizwan Khan (Shah Rukh Khan). Hanya karena nama belakangnya, ia menjadi korban. Tapi Rizwan yang datang ke Amerika hanya untuk bertemu dengan Presiden itu punya misi yang dengan efektif bisa menampar kita semua. Ia hanya ingin bilang bahwa ia bukan teroris!

Sebuah problematika berat dengan rentetan kejadian demi kejadian didalamnya ternyata tak membuat film ini jadi rumit untuk dinikmati. Disinilah Johar menunjukkan kapabilitasnya sebagai sutradara dengan jam terbang tinggi. Ia tahu bagaimana menyelipkan nilai-nilai diantara hiburan yang sedang dibangunnya. Ia paham betul fungsi film yang lebih dari apapun mampu menggerakkan hati penonton. Dalam tempo 160 menit, ia mengajak kita menyaksikan episode hidup Khan yang luar biasa, perjuangannya yang tak gentar melawan apapun atas nama cinta dan kasih sayang dan mencoba memberi perspektif positif bagi dunia Barat yang boleh jadi cenderung memusuhi Islam pasca peristiwa 11 September.

Sebagaimana kebanyakan film India lainnya, My Name Is Khan juga punya potensi untuk tampil ”agak berlebihan”. Dan ya, di beberapa titik rasanya pendapat itu tak salah. Johar dengan menggebu memperlihatkan sosok Khan yang nyaris tiada cela, seperti seorang malaikat yang diturunkan Tuhan ke bumi untuk membantu sesama. Jadinya sosok Khan memang terlihat seperti superhero yang mungkin memang dibutuhkan manusia di era sekarang. Ini bukan cacat sebenarnya, tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Sentuhan karakter dengan aspek Asperger sangat tepat dipakai Johar sehingga relatif membuat penonton tak keberatan dengan ”kesempurnaan” Khan.

Selain mengusung tema yang menarik dan universal sehingga bisa diterima dengan baik di berbagai belahan dunia, My Name Is Khan juga mengisyaratkan satu hal. Bahwa India telah siap untuk masuk ke kancah pertarungan film dunia. Industri Bollywood telah meraksasa dan mungkin sudah terasa kurang tantangannya. Dan kini saatnya untuk menjelajah. My Name Is Khan pun menjadi contoh bahwa Hollywood sudah sepantasnya waspada dengan India. Lantas bagaimana dengan Indonesia?

MY NAME IS KHAN

Director : Karan Johar
Cast : Shah Rukh Khan, Kajol
Script Writer : Shibani Bhatija

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: