Laskar Pelangi : Tagore, Totto-Chan, Juga Hirata

Rabindranath Tagore pernah begitu sebal pada sistem pendidikan bernama sekolah. Sistem yang dinilainya kaku dan lebih membuat dirinya merasa terpenjara dibanding memberinya kemerdekaan untuk berpikir. Di lain pihak, juga ada Totto-Chan yang pernah dikeluarkan dari sekolah ketika usianya baru menginjak 6 tahun. Tapi dibanding Tagore, Totto-Chan lebih beruntung. Karena ia menemukan sebuah sistem pendidikan yang juga bernama sekolah namun punya daya pikat luar biasa untuk seorang gadis yang suka melamun seperti dirinya. Sekolah Tomoe menjelma sebagai sekolah yang mendobrak kekakuan yang dibenci Tagore. Karena para siswanya bisa belajar dimana saja dan belajar dari apa saja. Anak kecil seperti Totto-Chan pun seperti menemukan dirinya yang bisa bersenda gurau bersama burung sembari mendengarkan gurunya berceloteh.

Sementara Andrea Hirata tak pernah mengemukakan satu alasan pun bagi dirinya untuk membenci sekolah. Bahkan melalui Laskar Pelangi, tetralogi pertama dari novel yang ditulisnya, ia justru merayakan kesempatan memperoleh pendidikan melalui bangku sekolah. Hirata jelas berseberangan dengan Tagore. Laskar Pelangi justru memperlihatkan tokoh utamanya yang bernama Ikal (yang diidentikkan dengan dirinya) yang berkat pendidikan justru berhasil mengarungi lautan dari Belitong hingga ke Prancis.

Tapi Laskar Pelangi sebagai sebuah film bukan film yang mengalir begitu-begitu saja. Riri Riza, dengan filmografinya yang irit, terkenal dengan kegelisahan-kegelisahannya yang diungkapkan dalam film. Dan ia selalu berpihak pada yang muda. Dalam Eliana Eliana (yang masih jadi karya terbaiknya hingga saat ini) adalah film yang begitu gamblang mempersoalkan jurang komunikasi antara anak dan orang tua. Sementara lewat Gie, Riri mendapat konten yang sangat pas untuk mencereweti pemerintah yang kadung takut pada pemikiran pemuda yang berapi-api. Dan dalam 3 Hari Untuk Selamanya, ia juga masih melihat betapa sosok anak muda bisa begitu tak peduli pada keadaan sekitar, namun disaat bersamaan juga mempertanyakan banyak hal tentang apa yang terjadi di sekitarnya.

Namun dengan meletakkan khittah-nya sebagai family movie, Riri memang tak bisa terlalu meletakkan kegelisahan di depan yang bisa menyusutkan tema utama Laskar Pelangi yang mengobarkan semangat melawan kemiskinan sistematis. Ia harus berkompromi dengan itu, tapi bukan berarti harus menjadi ’pelacur’ yang menjual jiwanya pada setan. Riri, dengan integritasnya yang tak terbantahkan sebagai seorang kreator, mampu memadukan Laskar Pelangi sehingga tak perlu kering, namun juga tak kehilangan pijakannya dengan niat menghibur keluarga Indonesia.

Melalui Ikal (Zulfani, dimana versi dewasanya dimainkan Lukman Sardi) dan kawan-kawannya yang bersemangat baja bersekolah di sebuah tempat bobrok, Riri sesungguhnya ingin mengkritik ketidakpedulian pemerintah untuk menjadikan pendidikan sebagai garda terdepan demi memajukan bangsa. Ia juga mengecam kemiskinan yang menggerogoti Belitong yang justru melimpah ruah sumber daya alamnya. Ironi, juga tragedi, dikemasnya sebagai tontonan yang tak menyesakkan, namun meruapkan keinginan untuk bersyukur. Bersyukur di tengah keterbatasan dan mencoba menyiasati keterbatasan.

Seperti halnya tokohnya yang juga penting di film ini, Ibu Muslimah (Cut Mini). Sosok yang menjadi teladan bagi murid-muridnya dan juga bisa jadi bagi 4 juta penonton yang telah memirsa film ini. Ia menolak melawan nasib yang seakan digariskan untuknya : menikah dengan laki-laki yang menjadi pilihan orang tuanya. Ia memilih mengabdikan diri bagi anak-anak yang membutuhkan bimbingan. Dan Ibu Muslimah juga membangkitkan harapan pada mereka.

Totto-Chan, seperti Hirata, juga begitu kagum pada gurunya. Dan kekaguman itu ditularkan pada 700 ribu pembeli novel Laskar Pelangi. Sementara Totto-Chan sukses membuat 5 juta orang tergopoh-gopoh membaca kisah sekolahnya yang luar biasa. Karena ada harapan didalamnya yang membuat orang terkesima. Harapan yang tak disadari juga bisa menggerakkan seseorang untuk lebih menghargai hidup yang dipunyainya.

Laskar Pelangi versi novel maupun filmnya pada akhirnya menemukan keterikatan emosi dengan pembacanya yang membutuhkan harapan di masa yang serba tak pasti. Dan Riri tetap menjaga esensi terpenting dari tulisan Hirata itu. Ia seperti mengamini pendapat Lionel Tiger. Bahwa manusia adalah “sejenis hewan dengan bakat besar untuk berharap ……” An animal with a gorgeous genius for HOPE.

LASKAR PELANGI

Director : Riri Riza
Cast : Cut Mini, Ikranagara, Lukman Sardi
Script Writer : Salman Aristo, Riri Riza, Mira Lesmana

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: