The Reader : Gelap Dan Terlarangnya Cinta

David Kross masih 16 waktu itu. Cowok ABG kelahiran Hamburg itu memang telah menapaki industri di usia 12 tahun. Tapi ia tak pernah bermimpi untuk bermain di film The Reader. Ia mengaku mendengar tentang audisi film itu, dan tak pernah benar-benar berniat untuk mengikutinya. Semuanya bermuara pada keinginan untuk menyelesaikan sekolahnya terlebih dahulu.

Takdir berkata lain. Kross mendengar bahwa The Reader akan dibesut oleh Stephen Daldry, sutradara yang dikaguminya lewat Billy Elliot. Ia pun mengikuti audisi panjang dan melelahkan hingga berhasil mendapatkan peran utama sebagai Michael Berg.

Kross yang telah membaca bukunya jauh sebelum tahu bahwa buku favoritnya itu akan difilmkan langsung merasakan gugup. Tingkat kegugupan luar biasa. Karena ia tahu bahwa ia akan banyak melakukan adegan seks.

Hasilnya, David Kross menjelma sebagai Michael Berg yang berusia 15 tahun, jatuh dalam hubungan terlarang dan tak berujung dengan perempuan yang usianya jauh lebih tua, Hanna Schmitz (Kate Winslet). The Reader yang dituturkan bolak balik antara masa kini dan silam tak melulu bicara soal seks (meski film ini berlimpah adegan seks – beberapa diantaranya disorot secara frontal). Ia bicara hal-hal mendasar : cinta, penyesalan hingga bagaimana generasi kini menyikapi dosa masa lalu. Berg yang masih polos melihat dunia terperangkap dalam hubungan gelap, namun merasakan orgasme hidup berkat kehadiran Hanna dalam hidupnya. Seperti Lolita, maka The Reader pun sesungguhnya adalah kisah cinta nan tragis. Seperti banyak dari kita juga yang tak bisa mengerti apa itu cinta sesungguhnya, maka seperti itu pula Berg memandang perasaannya pada Hanna.

Baik Kross maupun Berg sama hijaunya memandang dunia. Sementara Hanna adalah wanita matang. Semuanya pasti paham bahwa hubungan cinta itu tak akan berujung kemana-mana. Hanna tahu kapan ia harus mengakhiri kisah itu walaupun pedih. Maka ketika suatu hari Berg kembali ke apartemen Hanna dan menemukan apartemen itu kosong, semua pun tahu bahwa Hanna harus mengambil keputusan itu. Saat itu juga.

Cinta memang tak sederhana. Pun hidup. Terpisah dari Michael, hidup Hanna porak poranda. Ia dituduh terlibat dalam pembunuhan 300 tawanan Yahudi. Melalui serangkaian sidang ditingkahi adu debat dan suasana laiknya sirkus, terungkap bahwa peran Hanna sebagai penjaga di penjara sedikit banyak berpengaruh pada kasus tersebut. Namun dirinya terjepit di sebuah situasi yang tidak menguntungkannya. Demi menutupi itu, Hanna rela menerima nasibnya. Apapun, hidup adalah pilihan. Pilihan Hanna untuk tak membuka pintu ketika api membakar penjara sebagai tanggung jawab terhadap tugasnya harus dibayar dengan kerelaannya untuk dicabut kemerdekaannya sepanjang sisa hidupnya.

Maka kita pun paham ketika melihat Michael berderai air mata menyaksikan Hanna yang divonis hukuman seumur hidup. Kita bisa melihat bahwa gelora cinta diantara keduanya sesungguhnya tak pernah padam, hanya terpisahkan.

Hidup Michael pun yang semula berwarna-warni berubah menjadi kelabu. Ia terperangkap dalam masa lalunya. Juga terperangkap dalam rasa bersalah nan panjang. Sementara Hanna tetap teguh dengan keyakinannya.

Waktu berjalan, orang berubah. Michael, Hanna dan orang –orang di sekeliling akan ikut berubah. “Ini tak hanya cinta, ini lebih tentang hidup dan kehidupan itu sendiri, “ ujar teman saya sok berfilosofi ketika usai menonton film ini. Saya yang dengan pengetahuan seemprit tentang Holocaust coba mencari-cari apa sebenarnya yang ingin dibagi oleh Bernhard Schlink dengan novelnya yang berkutat pada jaman itu. Dan saya percaya bahwa ia sebenarnya ingin menyampaikan hal-hal sederhana. Ia hanya ingin bilang bahwa masa lalu memang tak perlu ditutupi, ia perlu ditengok tapi sekali saja, setelah itu mari kita berjalan kembali ke masa depan. Teman perempuan saya itu pun mengangguk-angguk. Wajahnya yang basah oleh air mata ketika menonton film ini akhirnya pelan-pelan berubah ceria. “Ya betul, life must go on ….”

The Reader memang bukan Schlinder’s List. Ia tak menyoal Holocaust dalam konteks pembunuhan masal, penyiksaan kejam atau hal-hal sejenis. Stephen Daldry selaku sutradara memahami esensi cerita dari novel itu. Ia memberi kita sebuah pemahaman tentang rasa bersalah, penyesalan hingga pengampunan. Dan bagaimana kita melihat masa lalu agar masa kini bisa berjalan dengan lebih baik. Seperti kata Hanna “only one thing can make a soul complete, and that thing is love …………………”. Semuanya memang bermuara pada satu kata sakti tersebut : C-I-N-T-A.

THE READER

Director : Stephen Daldry
Cast : Kate Winslet, Ralph Fiennes, David Cross
Script Writer : David Hare

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: