Spellbound : Belajar Dari Kata

Reading a word cannot be separated from reading the world and speaking a word must be related to transforming reality.” (Paulo Freire)

Freire adalah seorang filosof pendidikan terkemuka abad 20 yang mengajarkan bahwa pendidikan tidak terbatas hanya bisa didapatkan dari bangku sekolah. Pandangan ini ada kaitannya dengan tema besar yang diangkat oleh Spellbound, yaitu tentang perjuangan, kerja keras dan upaya tak kenal lelah. Dan kompetisi mengeja (di Amerika terkenal dengan sebutan spelling bee) menjadi medianya. Dalam film dokumenter ini ditampilkan 8 finalis dari ratusan anak yang berjuang mengalahkan satu sama lain, namun terutama diri sendiri, dalam sebuah kompetisi dengan sistem sudden death (salah berarti kalah !).

Kita diajak berkenalan dengan sejumlah anak yang di lingkungan sekolahnya bisa jadi dianggap pecundang (karena kecerdasannya). Namun lihat betapa mereka mampu mengeja kata demi kata yang terdengar sangat asing di telinga. Kata seperti “o-p-s-i-m-a-t-h” atau “l-o-g-o-r-r-h-e-a” mungkin tak terbayangkan artinya, apalagi jika harus disandingkan dalam sebuah kalimat. Bagi kita di Indonesia, mungkin sepadan dengan kata – kata seperti “danyang” yang berarti peri, atau “lamur” yang bermakna tidak jelas.

Jeffrey Blitz yang duduk di kursi sutradara tak hanya memperlihatkan persiapan dari para kontestan, namun juga diajak untuk melihat dari dekat kehidupan keluarga mereka. Betapapun heterogennya latar belakang keluarga mereka, namun masing – masing punya kesamaan, yaitu anak – anak tersebut mendapat dukungan penuh dari keluarganya. Lihatlah kehidupan keluarga Angela Arenivar yang sangat sederhana. Ia dibesarkan dari keluarga imigran asal Mexico. Ayahnya hanya seorang buruh tani, dan tak bisa berbahasa Inggris pula ! Lain lagi dengan tokoh kita yang bernama Harry Altman. Anak yang sepintas eksentrik, dengan berbagai tingkah lakunya yang mengundang senyum.

Dan Blitz merekam momen demi momen kompetisi yang mendapat sambutan luas itu. Ia tak mendramatisir, tak ada tambahan musik mengiringi kepedihan kontestan yang kalah. Meski ada diantara anak – anak tersebut yang menangis karena tak berhasil melangkah ke babak berikutnya, namun tak sedikit yang justru merasa lega. Terlihat bahwa mereka bisa menyikapi kekalahan secara dewasa. Kita pun sedikit berdebar menantikan siapakah yang akan menjadi pemenang dari kontes nasional ini. Karena kompetisi ini menjanjikan pengalaman tak terlupakan seumur hidup, plus hadiah berupa beasiswa. Dan Blitz dengan cermat juga memberi waktu bagi para veteran pemenang sejak kompetisi ini pertama kali diselenggarakan. Kita tentu sangat menghargai kesungguhannya menyortir dan akhirnya menyunting materi berdurasi ratusan jam menjadi sebuah film berdurasi 95 menit yang enak ditonton.

Spellbound membuka mata kita bahwa kompetisi (tak hanya spelling bee) tak hanya bermakna sebatas itu. Dibalik upaya keras anak – anak itu menghapal kata demi kata, juga mempelajari artinya, mereka pun dituntut untuk disiplin terhadap diri dan belajar mengatasi emosi. Di usia semuda itu, dengan tekanan sedemikian berat, tentu tak mudah bagi anak – anak tersebut untuk lolos dari pertarungan maha berat itu. Karena kompetisi tersebut diikuti ratusan peserta yang merupakan pemenang dari semua negara bagian se-Amerika.

Dan pemenang kompetisi semacam ini adalah dia yang paling tenang dan paling menguasai diri. Di Spellbound, kita pun diajak untuk membuka teka – teki itu hingga film hampir usai …….

SPELLBOUND

Director : Jeffrey Blitz
Script Writer : Jeffrey Blitz

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: