Promises : Menangisi Perang Yang Sia-Sia

Di Palestina, juga di Israel, sejarah itu seperti gen. Ia diturunkan. Dan tak terhindarkan. Maka ketika sejarah itu ditulis dengan catatan buruk, tak seorang pun bisa menghindar. Pun mereka yang masih bocah dan harus mewarisi kenyataan pahit. Ketika sebuah wilayah terbelah dan diperebutkan dua pihak. Keduanya merasa benar dan paling berhak. Dan apa boleh buat, tak ada seorang pun yang bisa memastikannya.

Promises menjadi sebuah dokumentasi yang penting bagi Palestina maupun Israel dan juga dunia. Film yang dibesut Justine Shapiro, B.Z Goldberg dan Carlos Bolado itu justru kuat di tengah ke-tak berpihak-an-nya pada kedua bangsa itu. Dan menjadi meyakinkan karena dibuat dari sudut pandang bocah. Ada nuansa keluguan, jujur dan lugas didalamnya yang membuat film ini terasa manis dan mengalir.

Palestina yang Arab dan Israel yang Yahudi. Dan anak-anak itu pun mewarisi kebencian yang membuncah. Faraj yang hidup di kamp pengungsi setelah tempat tinggal keluarganya digusur Israel terlihat jelas begitu membenci mereka yang Yahudi. Sementara si kembar Yarko dan Daniel juga begitu geramnya dengan kaum Palestina yang dinilainya menyerobot yang bukan haknya. Di tengah-tengah mereka ada Sanabel, gadis cilik Palestina yang ayahnya dipenjara tanpa diadili. Sanabel menjadi berbeda karena ia tak membenci. Ia tahu bahwa dirinya, juga Faraj, Yarko dan Daniel, tak menyumbangkan kesalahan apapun.

Faraj begitu fasih membela Palestina dan begitu berapi-api menentang Israel. Di pihak lain, Yarko dan Daniel juga hidup setiap harinya dengan pikiran yang berkecamuk demi mengutuk Palestina. Tapi bagaimana jika mereka dipertemukan? Apakah mereka akan berkelahi habis-habisan?

Diluar dugaan, semuanya tak terjadi. Anak-anak itu justru bersikap manis terhadap satu sama lain. Mereka bermain seperti bocah seusianya. Tak ada sedikitpun diskusi panas seputar batas wilayah, kemerdekaan ataupun Palestina yang Arab dan Israel yang Yahudi. Mereka berbagi rasa tentang apa yang mereka rasakan setelah bertemu satu sama lain. Dan anak-anak itu tahu bahwa sejak saat itu mereka akan melihat hal berbeda dari sebelumnya. Faraj akan melihat dari sudut pandang lain akan Israel yang Yahudi. Demikian pula Yarko dan Daniel yang juga cakrawala berpikirnya akan menjadi berbeda demi memandang Palestina yang Arab.

Dan di akhir pertemuan, sebuah kejutan terjadi. Kejutan yang membuat Promises menjadi dokumenter yang mengiris hati. Ketika Faraj tersedu sedan ketika tahu bahwa Yarko dan Daniel akan kembali ke rumahnya. Dan anak-anak itu pun bertangis-tangisan. Siapa yang bisa menduga hal ini akan terjadi? Dan tangisan Faraj meleleh dari matanya justru lahir dari permenungannya selama ini. Perdamaian yang terjadi antara keduanya akan hilang begitu saja ketika mereka kembali ke kehidupan masing-masing. ”Sebentar lagi Yarko dan Daniel akan kembali ke rumah mereka. Dan semua ini akan jadi sia-sia, ” tuturnya terisak.

Perang tak berkesudahan telah meluluhlantakkan kehidupan diantara mereka. Dan tak tahu berapa ratus amunisi harus terlontar ke udara, berapa banyak peluru yang ditembakkan dan berapa liter air mata yang harus bersimbah. Kita tak pernah tahu akan seperti apa akhirnya. Tapi Faraj, yakinlah bahwa semuanya tak akan sia-sia pada akhirnya. Ini sebuah langkah kecil untuk bersuara kepada dunia. Suara dari anak-anak tak bersalah.

PROMISES

Director : Carlos Bolado, B.Z. Goldberg
Script Writer : Stephen Most

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: