Persepolis : Mari Belajar Sejarah Iran

Iran adalah potret negara yang gelisah. Dengan sejarah yang dinamis melaju. Dan dengan kekuasan yang membungkam. Marji kecil (Gabrielle Lopes) yang hidup di negeri itu awalnya merasa semua baik-baik saja. Ia dilimpahi kasih sayang kedua orang tuanya dan hidup serba berkecukupan. Semuanya aman dan damai hingga ketika Ayatollah Khomeini datang.

Khomeini membuat segala aturan menjadi lebih ketat dari biasanya. Namun membuat perempuan justru harus menggunakan pakaian yang lebih longgar dari semula agar tak mencuatkan hasrat dari lawan jenisnya. Negara pun masuk hingga ke ruang tidur. Marji pun merasakan segala hal yang membuat geraknya terbatas.

Dan episode hidupnya justru bermula ketika ia diungsikan orang tuanya ke Vienna. Ia berkenalan dengan sebuah kota yang asing. Sebuah tempat dimana manusia bisa tak saling peduli satu sama lain. Marji sebenarnya adalah sosok perempuan cerdas dan tangguh. Ia tak gentar menyuarakan kebenaran, meskipun kerabat disekelilingnya banyak yang meregang nyawa karena hal itu. Tapi Vienna membuatnya jadi manusia berbeda. Ia jatuh cinta dan luluh lantak karenanya. Dan ia pun kembali ke Iran.

Persepolis menggelindingkan kisah hidup Marji dari kecil hingga menikah di usia 21 tahun. Dengan durasi yang hanya 98 menit muncul kekhawatiran akan muatan berlebihan yang tak terakomodir di dalam film itu. Namun kekhawatiran itu sirna ketika menyaksikan bagaimana cerita bisa dengan efektif meloncati periode waktu dan sama sekali tak kehilangan arah. Berbagai karakter lalu lalang didalam film namun tak membuat cerita kehilangan fokus.

Jelas sekali Persepolis bukanlah animasi untuk konsumsi anak-anak. Namun pendekatan animasi yang bersandar pada komik grafis yang juga ditulis Marjane Satrapi (yang kisah hidupnya menjadi sentral cerita) menjadi efektif justru karena kelebihan animasi yang mampu mengolah gambar sedemikian rupa sehingga bisa menjelaskan makna melebihi gambar ”hidup”. Persepolis juga dibuat dengan gaya yang berbeda dari animasi yang akrab dengan mata kita (yang umumnya berasal dari Hollywood) sehingga terasa betul identitasnya.

Menceritakan kisah hidupnya sendiri berarti pula membongkar segala sisi buruk dari Iran bagi Satrapi. Tapi seperti karakter dalam filmnya, ia mengakui bahwa ia betul-betul mencintai negerinya itu. Dengan segala keburukannya. Dengan segala tirani yang mencengkeramnya selama bertahun-tahun. Yang membuatnya harus terpisah dengan orang-orang yang dikasihinya.

Dari mata Satrapi, kita melihat Iran. Kita melihat potret kekuasaan berganti-ganti dengan wajah berbeda, namun sesungguhnya dengan pola yang nyaris sama. Dan pola itu tak kabur oleh waktu. Seperti terus berepetisi dan mendengung hingga memekakkan telinga. Dari mata Satrapi, kita melihat Iran. Dan ia membawa Iran ke panggung dunia. Persepolis bisa jadi catatan atas kegundahan, amarah, gusar hingga integritas baginya.

PERSEPOLIS

Director : Vincent Paronnaud, Marjane Satrapi
Cast : Gabrielle Lopes Benites, Chiara Mastroianni, Catherine Deneuve
Script Writer : Vincent Paronnaud, Marjane Satrapi

Iklan
Comments
One Response to “Persepolis : Mari Belajar Sejarah Iran”
  1. bautinja berkata:

    makasih udah menambah wawasan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: