Milk : Anomali Yang Sukses, Lalu Mati

Dunia menghujat Prancis. Presiden Nicolas Sarkozy menjadi sasaran cemoohan. Jilbab-lah menjadi pokok permasalahannya. Dalam perkara ini, sesungguhnya tak hanya agama yang disentuh, namun juga problema eksistensi. Dalam hal ini terkait dengan menjadi Yang Lain. Ada stigma yang sekejap muncul sebagai reaksi. Dengan mengenakan jilbab, identitas penggunanya langsung tampak dan membedakannya dengan yang lain. Dan ”Kelainan” ini pun menjadi tampak menakutkan bagi sebagian orang.

Erving Goffman dalam sebuah pemikirannya yang termasyhur mengemukakan bahwa ”seorang pribadi dengan sebuah stigma tak sepenuhnya manusiawi. Dalam kondisi ini kita membuat banyak diskriminasi untuk mengurangi peluang hidupnya secara efektif, juga kalau kita tidak sengaja melakukan itu. Kita menyusun sebuah teori stigma, ideologi yang menjelaskan inferioritasnya dan yang membuktikan bahaya orang yang disitgmatisasi itu”.

Di setiap era, selalu muncul stigma baru. Amerika di tahun 1970-an adalah sebuah negara yang mengecam keras preferensi seksual berupa homoseksualitas. ”Kelainan” itu hanya disembunyikan di dalam kamar mandi atau di bawah bantal hingga datangnya Harvey Milk (Sean Penn). Dengan terang-terangan ia mengaku diri sebagai gay, tak jengah berciuman dengan kekasihnya, Scott (James Franco) di pinggir jalan namun juga paham betul hak-haknya sebagai manusia dan juga sebagai warga negara. Dan mulailah ia melawan. Namun ia melawan dengan lembut, tetap sopan dengan penentangnya sekalipun. Dan justru itulah publik jatuh hati padanya.

Sosok Milk menjadi sebuah anomali yang sukses di era itu. Ia menjadi inspirator bagi ribuan pemuda yang selama ini menyembunyikan dirinya ”Yang Lain”. Ia mencoba mengenyahkan stigma yang dilekatkan masyarakat pada kaumnya. Dan ia berjuang tanpa kenal lelah. Hingga ketika perjuangannya membuahkan hasil.

Sebagai sutradara yang sepertinya mengagumi sosok Milk, Gus Van Sant tak terjebak sedikitpun untuk membuat filmnya begitu mengagungkan keluarbiasaan Milk. Van Sant membiarkan dirinya di pinggir layar dan membiarkan Milk menceritakan sendiri kisah hidupnya via Sean Penn yang berakting cemerlang. Dan justru hal ini yang membuat Milk lebih jujur, tak pretensius dan pada akhirnya membuat penonton mengagumi sosok Harvey Milk sebagai seorang manusia yang memperjuangkan hak-haknya sebagai manusia. Skenario yang dikreasikan oleh Dustin Lance Black juga brilian memotret episode demi episode hidup Milk dengan efektif via refleksi dari Milk ketika berulang tahun yang ke-48. Dari refleksi itulah cerita bergulir dari pertemuan Milk dan Scott pada saat usianya yang memasuki 40 tahun. ”I’ll never make it to 50, ” ujar Milk sembari tersenyum pada Scott yang berbaring disampingnya.

Terlihat jelas bahwa Black tahu betul apa esensi dari kisah yang hendak disampaikannya. Ia pandai memilah apa yang sebaiknya dikedepankan dan apa yang seharusnya dipinggirkan dari kisah hidup Milk. Maka rasanya tak ada adegan yang terbuang percuma, semuanya berpadu mengkonstruksikan sebuah bangunan kokoh yang tengah dibuat Van Sant.

Dan Sean Penn menjadi salah satu pondasi dari bangunan kokoh yang dibangun Van Sant. Makin bertambah usianya, terasa Penn makin cemerlang aktingnya. Ia pun sudah melampau taraf “berakting”, namun sudah pada tahap “menjadi”. Yang terlihat di layar bukan lagi Penn, namun Milk seorang. Dan energi luar biasa yang dipunyai Penn menyeret sejumlah pemain muda yang berada di sekelilingnya untuk juga tampil maksimal. Lihatlah bagaimana Franco, Emile Hirsch hingga Diego Luna menanggalkan segala atribut kebintangannya dan menjadi pribadi yang berbeda disini.

Melihat Milk, kita perlu merenungkan pemikiran Goffman. Kenapa selalu takut menjadi Yang Lain? Atau kenapa harus takut bersentuhan dengan Yang Lain? Karena Milk, sesungguhnya tak ada bedanya dengan manusia lain disamping preferensi seksualnya. Ia pun sukses memperlihatkan bahwa ia sama berharganya dengan yang ”normal”.

”I’ll never make it to 50, ” ujar Milk sembari tersenyum pada Scott yang berbaring disampingnya. Dan Milk pun mati diterjang timah panas di usianya yang 48 tahun.

MILK

Director : Gus Van Sant
Cast : Sean Penn, James Franco, Emile Hirsch
Script Writer : Dustin Lance Black

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: